
Setelah puas berendam air berwarna hijau di Air Terjun Mata Jitu, kami bergegas melanjutkan perjalanan.
Saat ini kami sedang berjalan menyusuri pantai, menapaki pasir putih tanpa alas kaki. Tangan kiriku menenteng flat shoes Chaca juga sandal eigerku.
"Sayang, kita ke mana lagi?" tanya Chaca menyentuh lenganku.
"Mmm ... ada pantai yang bagus buat snorkeling nih. Mau nggak nyelam nggak?" tawarku merangkul pundaknya.
Aku hendak mencium pipinya, namun tiba-tiba Chaca menolehkan kepala sangat cepat ke arahku. Hidungnya membentur daguku sangat keras.
"Sakit," ujarnya berkaca-kaca memegangi hidungnya. Karena benturan terjadi tepat pada tulang hidungnya.
"Astaga, maaf Sayang." Aku melempar sandal dan sepatu sembarangan. Kedua ibu jariku membelai lembut hidung kecil dan tinggi itu.
Sampai pada akhirnya aku memberikan ciuman hangat, lalu turun ke bibir tipisnya. Ia mendorongku pelan.
"Mas ihh! Malu tau kalau ada yang lihat," gerutunya melirikku tajam.
Aku hanya menepiskan senyum tanpa menanggapi omelannya. Tidak mau bertambah panjang saja. Karena sekarang kami telah sampai tepi pantai, yang terdapat penyewaan perahu motor untuk menuju ke Pantai Raja Sua.
Setelah mengenakan pelampung, kami melangkah masuk dan kendaraan itu mulai dinyalakan dan disetir oleh ahlinya. Sepanjang perjalanan aku tidak pernah melepaskan tangannya.
Ia tertawa lepas ketika perahu itu melalui gulungan-gulungan ombak. Tubuh kami turut terombang-ambing.
"Seru banget ya Mas." Chaca berucap di tengah tawanya.
"Iya," sahutku mencium punggung tangannya. Lalu merapikan helaian rambutnya, menyelipkan ke belakang telinga akibat hembusan angin yang menari-nari menerpa kami.
Setelah 20 menit perjalanan, kami telah sampai di Pantai Raja Sua. Pantai ini tidak terlalu banyak memiliki pasir putih. Area pantainya didominasi oleh hutan dengan padang rumput dan pepohonan tinggi.
Namun, airnya sangat jernih bak cermin yang memancarkan keindahan biota laut di bawahnya. Kami tak henti-hentinya dibuat kagum oleh tempat ini.
Aku segera turun dari kapal motor tadi. Lalu aku mengangkat tubuh Chaca membantunya turun. Setelah menginjakkan kaki di pantai ini, Chaca berlari menuju segerombolan orang yang sedang bersiap untuk menyelam. Aku turut menyamakan langkah dengannya.
Dengan bersemangat, Chaca turut bergabung dan mendaftarkan diri untuk menyelam sesuai dengan prosedur yang benar. Setelahnya kami mendengarkan dengan seksama arahan dari dive master.
Kemudian kami memilih perlengkapan diving yang pas. Karena jika tidak sesuai dengan ukuran tubuh kita, akan membuat ketidaknyamanan saat menyelam. Yang terakhir, kami diminta menyesuaikan telinga dengan tekanan air.
"Sayang, udah dapat yang pas?" tanyaku membawa perlengkapanku.
__ADS_1
"Udah nih Mas," sahutnya memperlihatkannya.
Lalu kami segera mengenakan atribut tersebut, karena sebentar lagi giliran kapal kami berlayar ke tengah-tengah lautan untuk memulai perjalanan ke dasar laut. Melihat aneka biota laut di sana.
Chaca begitu bahagia, ketika kapal kami sudah mulai berlayar. Ia sudah siap dengan pakaian maupun perlengkapan lainnya.
"Sayang, nanti jangan jauh-jauh dariku loh ya," pesanku diangguki olehnya.
Tawanya terus terbentuk pada bibir tipisnya. Semoga tawa itu tidak akan pernah hilang sampai kapanpun.
Sesuai instruksi dari dive master, kami mulai menyelami air laut yang begitu jernih tersebut. Meskipun pemula, kami telah dibekali ilmu kilat tadi.
Belum sampai ke dasar, kami sudah dikelilingi ribuan ikan-ikan. Yang aku sendiri tidak tahu nama ikan itu. Tentu saja, kita nggak bisa kenalan.
Selama hampir 2 jam kami menyusuri dasar laut. Banyak sekali berbagai biota laut, terumbu karang yang begitu indah dan terjaga. Kini, waktunya kembali ke permukaan lagi.
Kami telah sampai di daratan. Dan telah membilas tubuh sekaligus berganti pakaian. Tanpa melupakan waktu ibadah kami. Sekarang, kami sedang makan lesehan di bibir pantai.
"Ya ampun, laper banget Mas," ujar Chaca berselonjor lalu merebahkan kepalanya di pangkuanku.
Chaca yang sempat menutup kedua matanya sontak terbuka kembali. Ia menatapku lamat-lamat. Aku menunduk tak pernah jengah menatapnya.
"Itu masa-masa tersulit dalam hidupku. Kalau bukan kamu yang di sampingku, aku tidak akan mampu bertahan sampai sekarang. Terima kasih, Sayang," tutur Chaca membelai sebelah pipiku.
Aku meraih tangannya dan menciumnya, "Pada kenyataannya, kekuatan cinta kita tidak pernah salah. Hati tahu tempatnya berlabuh. Meskipun pada awalnya kita mengira adalah saudara. Tapi waktu itu aku sangat yakin dengan perasaanku."
Chaca melesakkan kepalanya pada perutku. Kedua lengannya melingkari di punggungku. Hal itu membuatku bergejolak.
Aku melepaskan lilitan tangannya dan mendorong tubuhnya agar menjauh dari titik sensitifku.
"Kenapa sih Mas? Aku 'kan cuma pengen peluk kamu!" ucapnya kesal mendudukkan tubuhnya.
Aku menghela napas panjang, merengkuhnya dari belakang mendaratkan pada dada bidangku. Aku menopangkan kepala di pundaknya. Ia masih menyebikkan bibirnya.
"Kamu membuatnya bangun, Sayang," bisikku pelan di telinganya.
Chaca melongo mengerjapkan kedua matanya. "Apanya?" tanyanya polos.
__ADS_1
"Ya ampun Sayang, kamu memancingku. Aku menginginkannya."
"Astaga! Niatnya romantis-romantisan kenapa jadi ke arah sana sih Mas? Dasar mesum!" gerutunya menoleh ke arahku.
"Makanya jangan menggodaku. Pisau ini begitu tajam saat dekat denganmu," candaku membuatnya tertawa.
Tak berselang lama, pesanan kami telah datang. Aku hendak menyuapinya namun ditepis olehnya.
"Aku sangat lapar, Sayang! Lain kali saja ya nyuapinya," ucapnya sambil memakan makanannya dengan begitu lahap.
Aku mengusap rambutnya dengan tangan kiriku. "Pelan-pelan saja," saranku lalu menyuapkan makanan pada mulutku sendiri.
Kami menikmati makan dengan desiran-desiran ombak yang bergulung saling kerjar-kejaran. Angin yang menampikkan kesejukannya menelusup pada tubuh kami.
"Sayang, kerjaanmu gimana?" tanyanya setelah meneguk es kelapa muda di hadapannya.
"Nggak tahu, aku tidak pernah membuka laporan apapun selama di sini. Takut nanti honeymoon kita terganggu," jawabku meletakkan sendok di piring yang telah kosong.
Chaca tersenyum mendengarnya, lalu kembali menghabiskan makanannya. Setelahnya, kami menikmati sunset yang begitu indah di hadapan kami. Chaca mendudukkan diri di depanku, memegang erat kedua lengan yang melingkar pada perutnya.
"Kapan kita pulang, Sayang? Mataharinya sudah tenggelam sepenuhnya. Udara juga semakin dingin nih," ucapku masih bertahan memeluknya.
"Tubuhku rasanya lelah sekali," ucapnya pelan.
Aku mendudukkannya dengan benar, melepas jaketku dan memakaikannya pada tubuh Chaca. Kemudian, aku berjongkok di depannya.
"Ayo naik, Sayang," ucapku menoleh ke arahnya.
Tanpa menyangkal apapun, ia segera beranjak dan mengalungkan lengannya di leherku. Aku berdiri sembari membawa sandal dan sepatu Chaca.
Kepalanya menyadar di punggungku, aku melangkah perlahan menuju resort yang kami tempati. Sebenarnya lebih cepat naik ojek, namun aku ingin menikmati suasana malam di pulau ini. Jadi aku memutuskan untuk berjalan kaki.
Aku terus mengajak ngobrol Chaca, namun tidak ada jawaban. Tubuhnya juga semakin berat. Mungkin dia tertidur.
Sesampainya di resort, aku dapat membuka pintu dengan mudah. Dengan satu tangan masih menahan tubuh Chaca. Pintu itu tidak terkunci, karena memang setiap pagi dan sore pelayan resort akan membersihkannya setiap saat.
Hingga sampailah kami di kamar, aku duduk dan berbalik, merebahkan tubuh Chaca perlahan. Setelah membenarkan posisinya, aku menyelimutinya.
"Selamat istirahat kesayanganku," ucapku mengecup keningnya.
Bersambung~
__ADS_1
Udahan ah honeymoonnya😂