
Kepanikan kini melanda Gandhi. Ia sangat takut terjadi apa-apa dengan istri kesayangannya. Chaca masih belum sadarkan diri. Gandhi membenarkan kembali pakaian Chaca lalu melepaskan jaketnya, mengenakan pada tubuh Chaca yang semakin dingin.
Kini dia sangat bingung mau menghubungi siapa untuk menjaga restonya. Karena masih ada beberapa pekerja yang menyelesaikan tugasnya.
"Mbak Amel sedang hamil, aku nggak mungkin minta tolong padanya." Gandhi terlihat gusar ia panik mondar-mandir lalu akhirnya ia menghubungi Bryan. Entah bagaimana ceritanya Bryan bisa terlintas di benaknya.
Gandhi mengambil ponsel Chaca, lalu memulai panggilan pada sepupunya itu. Mungkin karena dia masih single dan waktu yang menunjukkan tengah malam membuatnya memilih untuk menelponnya saja.
"Hallo, Sayang," ucap Bryan di sebrang dengan suara seraknya.
"Sayang-sayang gundulmu!" geram Gandhi mendengar pria lain memanggil Chaca dengan sebutan sayang.
Bryan terperanjat, buru-buru ia melebarkan mata dan mendudukkan diri. Bryan meraih minuman di meja lalu meneguknya perlahan. Dia belum mengganti nama kontak Chaca saat pertama memintanya, sewaktu dia baru tiba di Malang lagi.
"Sorry, sorry, aku masih kebawa mimpi. Ada apa?" tanya Bryan yang sudah sepenuhnya sadar.
"Tolong ke bangunan depan Hotel Majesty sekarang juga. Chaca pingsan," jelas Gandhi panik.
"Apa? Aku ke sana sekarang!" pekik Bryan bergegas mengenakan celana panjang dan jaket.
Buru-buru ia meraih kunci motor dan berlari ke parkiran apartemennya. Bahkan di dalam lift Bryan terus menggerakkan kaki tidak mau diam. Tak dapat dipungkiri, rasa sayang untuk Chaca memang masih ada. Sehingga rasa khawatirnya begitu besar.
Namun biarpun begitu, Bryan hanya menyimpannya dalam hati rapat-rapat. Karena dia sadar, cintanya tidak akan pernah terbalaskan melihat cinta untuk suaminya yang begitu besar.
Bryan mengendarai motornya begitu kencang. Ia sangat gesit menyalip dan menjadi raja jalanan. Tidak peduli dinginnya malam yang menusuk sampai ke tulang. Ia tetap fokus agar segera sampai dan mengetahui keadaan Chaca. Tak sampai lima belas menit, motor Bryan terparkir di pelataran karena melihat mobil Gandhi terparkir di sana.
Bryan berlari masuk ke dalam. "Gan, di mana Chaca?" teriaknya melihat sekeliling yang tidak menemukan mereka berdua. Hanya terlihat beberapa pekerja yang sibuk menggeser perabotan.
Mendengar teriakan Bryan, Gandhi berlari keluar menghampirinya. "Bro, tolong jagain resto ini. Tutup dan kunci kalau mereka sudah selesai menurunkan dan menata semua barang-barangnga. Aku bawa Chaca ke rumah sakit dulu. Dia masih belum sadar," ucap Gandhi menepuk bahu Bryan penuh kekhawatiran.
Bryan menghela napas kasar. 'Jauh-jauh ke sini menerobos angin malam dengan terburu-buru ternyata disuruh jagain tempat. Bukan untuk jagain Chaca. Cepatlah bangun dari mimpi Bryan,' gumamnya dalam hati.
Tidak ada yang bisa dilakukannya selain mengangguk dan menjalankan amanat sang sepupu. Gandhi kembali masuk kamar khusus untuk beristirahat menggendong Chaca untuk membawanya ke rumah sakit.
__ADS_1
Bryan dengan sigap membukakan pintu resto dan berlari membukakan pintu mobil. Tampak sekali kekhawatiran di wajahnya juga, ia selalu berharap wanita kesayangannya itu baik-baik saja.
"Hati-hati, semoga Chaca baik-baik saja," tukas Bryan lalu menutup pintu mobil.
Gandhi mengangguk, lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Pikirannya sangat kalut, takut terjadi apa-apa dengan Chaca. Sesampainya di rumah sakit, Gandhi segera menggendong Chaca dan berlari ke ruang IGD.
"Dokter! Suster! Tolong istri saya," teriak Gandhi dengan keringat yang bercucuran.
Suster yang jaga tengah malam itu segera membukakan pintu, Gandhi melangkah masuk dan meletakkan Chaca di brankar secara perlahan.
"Apa yang terjadi, Mas?" tanya dokter beranjak dari duduknya segera menangani Chaca.
"Dia pingsan, Dok. Tolong istri saya," ucapnya pilu.
Gandhi diminta menunggu di luar. Agar Chaca dapat ditangani secara intensif. Ia menurut saja. Tangannya meraih ponsel, ia ragu ingin menghubungi orang tuanya.
"Besok sajalah. Aku nggak mau menggangu waktu istirahat mereka," tukasnya memasukkan kembali ponselnya.
Di sisi lain, semua pekerja sudah menyelesaikan semuanya. Mereka segera berpamitan, suasana menjadi hening, Bryan duduk termenung sendirian.
"Astaga!" Bryan menepuk jidatnya.
Ia berlari ke arah pintu, "Lah, di mana kuncinya?" gumamnya menyusuri semua tempat mencari kunci yang dimaksud.
Bryan juga menyusuri setiap ruangan, termasuk dapur, kamar mandi dan ruang istirahat Gandhi. Namun tidak menemukannya.
Bryan mencoba menelpon Chaca, dering telepon sangat nyaring terdengar di telinga. Matanya membulat dengan sempurna. Karena ternyata ponsel Chaca tertinggal.
Dia tidak menyimpan nomor Gandhi. Saat mencoba membuka ponsel Chaca ternyata dikunci.
"Yaampun punya adek sepupu gini amat ya. Ngrepotin perjaka!" gerutunya mendudukkan diri di ranjang tersebut.
"Empuk juga," gumamnya memantulkan diri pada spring bed itu. Lalu melempar tubuhnya terlentang.
__ADS_1
Wajahnya menatap langit-langit. Terbayang jelas wajah Andin di sana. Dengan senyuman yang begitu manis.
"Ah! Kenapa jadi Andin," geramnya mengusap wajahnya kasar.
Bryan kembali beranjak. Ia keluar karena was-was dengan pintu yang tidak terkunci. Apalagi banyak barang-barang baru di sini.
...----------------...
Gandhi terus mondar mandir di depan ruang IGD. Jantungnya terus berdetak tidak karuan. Perasaan bersalah menyelimuti hatinya sedari tadi. Wajahnya nampak sekali gusar. Ia begitu mengkhawatirkan keadaan Chaca.
Gandhi sampai terperanjat ketika suara pintu terbuka. Ia segera berlari menghampiri dokter tersebut. Beliau mengatakan jika Chaca mengalami dehidrasi dan tekanan darah rendah. Sehingga ia harus menjalani rawat inap beberapa hari untuk memulihkan keadaannya.
"Jangan sampai stress dan kelelahan, jaga pola makan istri, Anda," pesan dokter menepuk bahu Chaca lalu melenggang pergi.
Gandhi segera mengurus administrasi agar segera mendapatkan ruang perawatan untuk Chaca. Tentu saja dia memilih kamar VIP, karena kalau orang tuanya tahu, nanti pasti akan marah jika putri kesayangannya tidak mendapat fasilitas terbaik.
Chaca masih belum sadarkan diri ketika sampai di ruang rawat inap. Gandhi dengan sabar menunggunya, duduk di kursi dekat dengan ranjang Chaca.
Gandhi meraih tangan Chaca, menciumnya berkali-kali, lalu beranjak berdiri mencium keningnya sangat lama.
"Sayang, maafin aku nggak bisa jagain kamu," sesal Gandhi memeluknya erat hingga turut tertidur, hari sudah menjelang pagi.
Saat matahari sudah mulai beranjak dari peraduan, Bryan masih terlelap di resto sendirian. Dia tidur dengan terduduk bersandar di meja.
Dewi kini sudah sampai di hotel, karena dia sengaja berangkat lebih pagi. Saat hendak menyebrang, mata Dewi menangkap motor yang sangat ia kenal.
"Seperti motor Bryan, ngapain dia di sana?" gumamnya menajamkan mata.
Dewi sangat yakin jika apa yang dilihatnya benar. Melihat jam kerja yang masih lama, dia memutuskan menghampiri pria itu dulu. Dewi membelokkan setirnya di seberang hotel.
Bersambung~
Guyss ... jempolku gatel banget pengen bales komeng imut2 kalian ... tp apa daya belum sempet. Sabar ya ... tetep semangat tinggalin jejak imut2nya😘
__ADS_1
*kapan Chaca hamil?
#Emmm ... mereka biar pacalan dulu. Pacalan setelah menikah kan enak. ye kan? Biar puas dulu..😆