Duda Tapi Perjaka

Duda Tapi Perjaka
[Season 2] Pengganggu


__ADS_3

Chaca terperanjat, ia membelalak menatap suaminya. Jantungnya berdebar seolah kepergok. Padahal bermesraan dengan suaminya sendiri. Tapi tetep aja ada rasa malu. Seketika dirinya melompat dari pangkuan sang suami.


"Bang Mandra!" pekik Chaca masih dengan keterkejutannya.


"Asem banget ni orang! Gangguin aja," gerutu Gandhi melempar bolpoin, namun segera ditepis oleh Andra.


Andra terkekeh geli melihat Chaca menjadi salah tingkah. Wajahnya memerah karena malu. Namun tidak dengan Gandhi. Pria itu menarik tubuh ramping Chaca dan menyandarkan kepala pada dadanya, seperti anak kecil yang meminta pelukan sang mama.


"Sayang," tukas Chaca memberontak namun Gandhi tidak melepaskannya.


"Santai aja, Cha. Nikmatin masa-masa berdua sepuas kalian," celetuk Andra mendudukkan dirinya di sofa samping Reyhan tidur.


"Eh, anak siapa ini? Kayak kenal," tanya Andra memperhatikan wajah Rey.


"Anak kami, Bang. Cakep 'kan?" seloroh Chaca dengan senyum merekah.


Rey yang mendengar kebisingan terbangun, mengucek matanya. Pandangannya bertemu dengan Andra yang hendak menyapanya. Namun Rey memicingkan mata dan berlari ke arah orang tuanya.


"Ee buset, kabur dia," celetuk Andra menggaruk kepalanya.


"Makanya punya muka jangan diserem-seremin. Anak-anak itu polos, tahu mana yang baik mana yang nggak jelas kayak kamu," seloroh Gandhi terkekeh.


Gandhi lalu merengkuh tubuh Rey ke pangkuannya. Lengan kirinya melingkar di pinggang sang istri. Rey pun memeluk erat menyembunyikan wajahnya di dada papanya.


Andra berpikir sejenak, sepertinya pernah beberapa kali bertemu dengan anak itu. Tapi daya ingatnya yang lemah, jadi susah untuk tahu.


"Siapa sih?" tanya Andra lagi.


"Bang, Baby Alio mana? Nggak diajak apa?" Chaca mengalihkan pembicaraan. Ia takut jika menyinggungnya, Rey akan menanyakan keberadaan mama kandungnya.


Suatu saat nanti pasti Rey akan diberi tahu keadaan sang mama. Yang terpenting sekarang adalah memberi kasih sayang sepenuhnya pada anak itu, sesuai permintaan terakhir.


"Ada tuh di kamar," sahut Andra mengarahkan muka ke pintu kamar.


"Sayang, ayo kita kenalan sama dede Alio," ajak Chaca meraih tubuh Rey.

__ADS_1


Rey yang masih mengantuk menurut saja, Chaca menggendongnya di depan. Rey merebahkan kepala di pundak sang mommy.


"Udah tambah berat aja nih jagoan Mommy," seru Chaca berjalan ke kamar.


Setelah kepergian Chaca dan Rey, Gandhi lalu menceritakan identitas dan kronologi kejadian Rey menjadi anak angkatnya. Dia juga meminta agar Andra tidak menyinggung apa pun di depan Rey.


"Ya Tuhan, jadi dia anak Bu Friska? Pantesan nggak asing. Kasihan sekali," gumam Andra.


"Gimana? Tawaranku tadi? Udah ngobrol sama Mbak Amel? Biasanya orang-orang yang ngelamar kerjaan. Tapi kamu dilamar kerjaan, Ndra," ucap Gandhi menyandarkan punggungnya meregangkan kedua tangan.


Andra tersenyum sumringah, "Yoi, Bro. Kamu emang teman rasa saudara. Jadi kapan nih mulai kerja?" jawab Andra mantap.


"Nah gitu dong. Ah dari tadi kek," seru Gandhi memukul meja membuat Andra terjingkat.


"Njirr, ngagetin!" seru Andra.


Keduanya lalu berunding untuk kemajuan kafe ke depannya. Dengan adanya Andra, Gandhi pun bisa lebih santai dan banyak waktu untuk anak istrinya. Rey pun tidak melulu tiap hari di kafe.


Di kamar, ternyata Baby Alio sudah terbangun. Bayi itu memasukkan jemari mungilnya pada mulutnya. Sedangkan Amel masih terlelap dalam mimpi indahnya.


"Ssstt ... Rey jangan berisik ya, Nak. Mommy mau gendong Baby Al," tukas Chaca hendak menurunkan Rey.


Chaca lalu mendudukkan dirinya di spring bed king size itu. Rey duduk di pangkuannya, masih tidak mau lepas dari Chaca.


"Kenapa, Sayang? Kok jadi manja gini jagoan Mommy?" tanya Chaca membelai kepala Rey lembut.


"Rey masih kangen sama Mommy," akunya bersandar pada pelukan Chaca.


Amel mengerjapkan matanya. Ia terkejut sudah ada Chaca di hadapannya. Seketika Amel terbangun dan memeluk Chaca. Mereka saling melepas kerinduan, bagai saudara yang lama tidak berjumpa.


Baby Al tertawa, terus menggerakkan tangan dan kakinya. Lama kelamaan, Rey mau turun dari pangkuan Chaca dan mengajak Baby Al bermain. Mungkin karena tadi ia masih mengantuk, sehingga sangat manja. Dan lagi memang Chaca terlalu disibukkan dengan kuliahnya. Waktu tatap muka keduanya hanya malam hari dan hari libur saja.


Amel begitu antusias menceritakan perjuangannya menjadi seorang ibu. Mulai dari mengandung yang menginginkan hal aneh-aneh, proses ngilunya melahirkan, hingga repotnya begadang mengurus dan menyusui bayi.


Chaca turut bahagia mendengarnya. Meski jauh dalam lubuk hatinya terasa begitu teriris. Karena saat-saat itulah yang sangat ia damba saat ini.

__ADS_1


'Kapan aku bisa merasakannya,' ucap Chaca dalam hati.


Malam kian menyapa, dua keluarga itu kini sedang asyik menikmati makan malam. Diiringi alunan musik yang syahdu. Mereka sangat menikmati kebersamaan tersebut. Suatu hubungan persahabatan yang tulus, secara alami menghadirkan pula kebahagiaan.


Semakin larut, waktunya mereka pulang ke rumah masing-masing. Baby Al terlelap dalam dekapan sang mama, begitu pula dengan Rey. Gandhi menggendong sang putra menuju mobil menidurkannya di jok belakang dengan nyaman.


Chaca juga sudah duduk manis mengenakan sabuk pengaman. Gandhi lalu masuk dan mulai mwngendarai mobilnya. Ia melihat gelagat aneh pada istri kesayangannya.


"Sayang," panggil Gandhi menyentuh jemari istrinya.


"Hmmmm?" sahutnya menatap sang suami.


"Kamu kepikiran lagi?" tukas Gandhi seolah mengerti isi hati Chaca.


Gandhi sudah menyelami seluk beluk Chaca, ia sudah hapal di luar kepala dengan mood sang istri yang mudah berubah itu. Chaca hanya tersenyum menanggapinya.


"Sabar ya, Sayang," tukas Gandhi meraih jemari istrinya lalu menciumnya. Chaca pun mengangguk perlahan.


...----------------...


Keesokan harinya, Ayu melihat Andra sedang memimpin rapat seluruh karyawan kafe sebelum buka. Kebetulan ia masih di ruangan karyawan. Ayu tidak berani menampakkan diri. Dia tidak menyangka bahwa Andra akan bekerja di sana juga.


Ayu mencari-cari keberadaan Gandhi yang tidak terlihat sejak pagi. Akhirnya ia memutuskan tidak keluar dari ruangan itu, sampai rapat selesai. Hampir satu jam lamanya, rapat itu bubar. Ayu segera berlari keluar ke tempat kerjanya.


Terlihat, Gandhi berjalan santai setelah keluar dari mobilnya. Ayu segera berlari menghampiri pria itu.


"Mas," panggil Ayu.


"Iya, ada apa?" sahut Gandhi memasukkan kunci mobil pada kantong kemejanya.


"Aku mau mengundurkan diri. Maaf dan terima kasih banyak atas kesempatan yang diberikan," tutur Ayu menundukkan kepalanya.


Gandhi mengerutkan kening, sudah dia duga saat melihat Andra, Ayu pasti akan melakukan itu. Andra sedang berkeliling mengecek persiapan para karyawan yang sudah mulai sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.


"Boss, kirain nggak datang," seru Andra melambaikan tangan kanannya pada Gandhi.

__ADS_1


Ayu berdebar mendengar suara Andra yang ada di belakangnya. Gandhi terdiam, menatap Ayu dan Andra bergantian.


Bersambung~


__ADS_2