
"Duduk!" perintah Pak Handoyo tegas, setelah beliau berada di tempat kebesarannya. Aku mendudukkan diri di kursi depannya.
"Apa yang kamu lakukan Gan? Kamu tahu, saya sudah memberi banyak kelonggaran terhadapmu karena kinerjamu yang bagus selama ini!" tegasnya.
"Tapi akhir-akhir ini kamu semakin menjadi. Absensi buruk, kinerja menurun, ditambah kejadian tadi? Kamu sudah mencoreng nama baik hotel ini Gan!" pekiknya lalu menyerahkan satu lembar kertas yang rapi di lipat dalam amplop panjang.
Iya aku akui, dulu saat cuti atau absen aku masih terus memantau keadaan hotel. Namun cuti kali ini aku seolah melepaskan tanggung jawab. Aku sama sekali tidak melihat keadaan dan perkembangan hotel.
"Maaf Pak, tapi saya dijebak," ucapku pelan meraih benda berwarna putih itu.
Aku membukanya, mataku membelalak. Surat pemberhentian kerja. Aku dipecat, tubuhku melemas.
"Kamu bukan lagi karyawan di sini!" ucapnya meraih telepon.
Aku meraup wajahku kasar, berusaha menerima dengan lapang. "Baik, terima kasih banyak atas kesempatan yang diberikan untuk saya selama ini, Pak. Mohon maaf atas semua kesalahan dan kekurangan saya selama bekerja," tuturku kemudian.
Pak Handoyo ternyata mengundang Erik petugas IT untuk memutarkan CCTV. Tentu saja CCTV yang di luar kamar. Karena setiap kamar adalah ruangan privasi, hotel ini tidak memilikinya pada setiap kamar VIP. Alasannya akan mengganggu kenyamanan pelanggan.
__ADS_1
Erik duduk di samping Pak Handoyo, mereka berdua mengamati benda pipih layar lebar di depannya. Beberapa saat kemudian, Erik menjelaskan bahwa tidak ada bukti yang kuat yang menunjukkan bahwa aku dijebak.
Seusai aku masuk, ternyata ada seorang pria yang seolah keluar dari kamar dan mengunci pintu. Aku tidak melihatnya saat itu, mungkin ia bersembunyi sebelumnya.
Ditambah lagi, ketika pintu terbuka, terlihat aku mencengkeram kedua tangan wanita itu di lantai. Justru bukti itu semakin memberatkanku. Ya Tuhan, aku tidak bisa berpikir jernih saat ini.
Darahku berdesir, kepalaku terasa sangat pusing. Aku terus berusaha mengelak dan menjelaskannya. Namun tidak ada yang mempercayaiku.
"Permisi! Kami mendapat laporan bahwa ada tindakan pelecehan seksual yang dilakukan oleh Saudara Gandhi!" ucap seorang bersuara berat di belakangku setelah pintu terbuka.
DEG!
"Pak, saya tidak bersalah. Saya dijebak!" teriakku membela diri.
"Saudara Gandhi, untuk sementara Anda kami bawa ke kantor polisi. Status Anda sekarang adalah saksi. Tergantung bukti yang diserahkan, status Anda akan menjadi tersangka atau sebaliknya," ujarnya lagi.
Hari apa ini ya Allah, apa yang harus aku lakukan? Bahkan bukti-bukti yang ada justru memberatkanku.
__ADS_1
Aku pasrah, langkahku diapit kedua polisi itu. Kepalaku menunduk, sampai pada akhirnya aku berhenti di loby. Dewi terlihat sangat terkejut melihatnya.
"Sebentar, Pak! Izinkan saya berbicara dengan teman saya," ucapku menghampiri Dewi.
"Pak! Apa yang terjadi?" seru Dewi terkejut.
"Dewi, aku dijebak. Tolong hubungi Andra sekarang," titahku diangguki Dewi.
Ia segera menelepon Andra agar segera turun ke loby. Beberapa menit kemudian, Andra berlari mendekat. Napasnya masih tersengal-sengal.
"Ndra, tolong hubungi Chaca. Jemput dia kalau belum pulang kuliah. Aku dijebak Ndra, sekarang masih jadi saksi. Tolong Ndra, cariin bukti," mohonku pada Andra menangkupkan kedua tangan.
Andra menangguk, "Tenang aja, aku pasti bisa membuktikannya. Sabar ya, dan soal Chaca jangan khawatir," sahut Andra menepuk pundakku.
"Aku siap jadi saksi, Pak!" sambung Dewi mengulas senyum.
"Terima kasih, aku percaya kalian. Ndra, jangan lupa Chaca," pesanku sebelum akhirnya digiring ke mobil polisi.
__ADS_1
Sabar Gandhi, akan ada hikmah dalam setiap cobaan yang menerpamu. Semakin tinggi pohon, akan semakin kencang pula angin yang menerpanya.
Bersambung~