Duda Tapi Perjaka

Duda Tapi Perjaka
[Season 2] Ide Mama Alice


__ADS_3

"Belum!" Sebuah jawaban Chaca yang terlontar membuat Gandhi membeku.


"Belum mandi, Sayang," imbuhnya lagi membuat Gandhi mendesah lega.


Gandhi buru-buru melepas jasnya dan bersiap ke kamar mandi juga. Chaca sudah berganti kimono handuk, melepaskan balutan gaunnya.


"Kamu mau ngapain, Mas?" tanya Chaca saat membalikkan tubuhnya.


"Mau mandi juga lah, Sayang," ujar Gandhi mulai melepas kancing kemeja.


"Enggak! Enggak! Aku mau mandi sendiri. Jangan ganggu dulu!" teriak Chaca cepat menahan dada bidang suaminya.


Gandhi menghembuskan napas kasar, dia mengangguk lemah terduduk di kasur. Chaca berlari ke kamar mandi, ia tahu kalau mandi berdua tidak akan bisa merilekskan tubuhnya yang terasa begitu lelah.


Akhirnya Gandhi mandi di kamar sebelah, tak butuh waktu lama ia sudah kembali. Masih mengenakan handuk kimononya, ia menghempaskan tubuhnya di kasur. Lalu memejamkan mata hingga ketiduran.


Selang tiga puluh menit, Chaca baru selesai berendam. Tubuhnya sudah tampak fresh sekarang. Ia berjalan mendekati suaminya, meluruskan kaki pria itu yang menggantung ke lantai. Kemudian menyelimutinya dan mencium keningnya sekilas.


"Maaf ya suamiku," ucap Chaca pelan.


Chaca segera berganti pakaian dan turun ke bawah untuk makan malam. Alice dan Xander telah bersiap untuk makan malam.


"Sayang, kok sendirian? Mana suami kamu?" tanya Alice menyerahkan piring berisi makanan beserta lauk untuk suaminya.


"Kecapekan mungkin Mom, ketiduran tadi. Nanti Chaca bawain makan malam ke kamar," tukas Chaca mendudukkan tubuhnya.


Alice hanya mengangguk, mereka mulai makan malam sambil berbincang hangat. Xander juga tidak sedingin tadi.


"Oiya, Daddy kenapa sih Chaca harus satu kampus sama Bryan?" tanya Chaca disela perbincangannya.


Xander meneguk air putih, lalu meletakkannya lagi. "Lho, Bryan kuliah di sana juga? Daddy nggak tahu, Sayang," ujarnya menyeka bibir dengan tisu.


"Jadi Daddy nggak tahu? Bryan itu dosen Chaca di sana Dad. Chaca takut kalau Mas Gandhi nanti salah paham," jelas Chaca setelah menelan makanan terakhirnya.


Alice dan Xander saling menatap, mereka terkejut jika keponakannya itu menjadi seorang dosen. Karena laki-laki itu tidak pernah bercerita apapun tentang pekerjaannya.

__ADS_1


"Tenang saja, Bryan tidak akan berani melakukannya. Fokus aja sama kuliah kamu, Cha," ujar Xander mngepalkan kedua tangan untuk menopang dagunya.


"Iya Dad, kalau gitu Chaca ke kamar dulu ya," pamitnya menyiapkan makanan di nampan untuk suaminya.


Xander dan Alice mengangguk sembari melepaskan senyuman. Setelah Chaca menghilang dari pandangan Alice membuka suara.


"Pa, jadi teringat sewaktu kita muda. Papa sama Hendra sama-sama mencintai Mama," celetuk Alice menatap suaminya.


Xander menyentuh tangan istrinya, "Tapi cinta Mama cuma buat Papa. Kenapa Bryan seperti papanya ya? Tapi Papa yakin dia berhati besar seperti Hendra. Mau menerima kenyataan dan segera move on," ucap Xander mencium tangan istrinya.


Alice mengangguk mantap, mereka bernostalgia mengingat masa muda. Semakin hari mereka bertambah romantis. Apalagi semenjak kehadiran Gandhi, mereka sering menghabiskan waktu berdua. Tidak seperti dulu yang sama-sama sibuk mengurus bisnis masing-masing.


"Pa, gimana kalau Gandhi kita buatkan hotel saja? Mungkin dia nggak akan nolak. Secara, Gandhi 'kan expert mengurus perhotelan," usul Alice memegang kedua tangan suaminya.


"Ide bagus Ma, Papa setuju. Siapa tahu nanti semakin lama dia juga mau memegang perusahaan. Semoga kita punya banyak cucu ya, Ma. Biar kita bisa tenang di masa tua nanti," tandas Xander segera diaminkan oleh Alice.


Setelah merasa kantuk melanda, mereka bergegas ke kamar untuk beristirahat. Karena besok sudah harus fokus dengan perusahaan mereka.


...----------------...


Gandhi menggeliat namun tidak membuka matanya. Chaca terus menggoda suaminya. Bukannya bangun, pria itu malah membelakangi istrinya.


Namun Chaca tidak kehabisan ide. Ia naik ke ranjang merebahkan tubuhnya menghadap suaminya.


"Apa suamiku sedang merajuk?" gumam Chaca menatap pahatan Tuhan yang begitu indah di depannya.


Chaca menangkup kedua pipinya laly menghujani ciuman pada wajah tampan itu, berakhir pada bibirnya. Ia diam sesaat, suaminya masih bergeming. Kemudian Chaca mulai menyesap dan ******* bibir pria itu.


Hingga kedua matanya terbuka, ia terkejut dengan keaktifan istri kecilnya itu. Namun juga merasa senang, karena dia tidak perlu merengek. Istrinya sudah datang dengan sendirinya.


"Apa kamu selelah itu?" tanya Chaca menyangga kepalanya dengan tangan menyiku.


"Sakit Sayang nahan terus, makanya aku paksa tidur," ucap Gandhi dengan suara khas bangun tidur.


"Maafin aku ya Sayang, aku nggak bermaksud membuatmu sakit. Aku hanya ...." Gandhi meletakkan jari telunjuknya.

__ADS_1


"Tidak apa, tidurlah. Aku tahu kamu capek," tukas Gandhi merengkuh tubuh Chaca dalam pelukannya. Ia kembali memejamkan kedua matanya.


Chaca merasa bersalah, ia berinisiatif membuka kancing piyamanya dan menarik tali kimono Gandhi. Pria itu kembali membuka matanya saat merasakan sentuhan pada dada bidangnya. Chaca mengulas senyum, keduanya saling bersitatap.


Ia mengerti maksud Chaca, dengan bersemangat Gandhi membalikkan tubuh dan menindih istrinya. Ia mulai mengambil alih perannya. Hingga penyatuan itu terjadi.


Malam itu akan menjadi malam yang panjang bagi keduanya. Setelah sekian lama harus menahan hasrat kala saling berdekatan. Keduanya hanyut dalam permainan yang seolah tidak ada habisnya.


Kerinduan mereka kini telah terobati. Seolah ada pancaran mata air di gurun pasir. Lega, bahagia melebur menjadi satu. Keduanya saling memuaskan satu sama lain. Melepaskan dahaga yang selama ini dirasakan. Ikatan cinta mereka semakin kuat dari hari ke hari.


"Terima kasih banyak, Sayang. Aku mencintaimu," ucap Gandhi mencium kening istrinya setelah keduanya mencapai puncak kenikmatan itu.


"Aku juga sangat mencintaimu, Suamiku," balas Chaca mengeratkan pelukan pada tubuh kekar suaminya.


Keduanya terlelap dalam balutan selimut yang sama dan saling berpelukan. Saling memberi kekuatan dan kasih sayang yang utuh.


Pagi harinya, seusai sarapan Gandhi mengantar Chaca berangkat kuliah. Kedua orang tuanya berangkat pagi-pagi sekali. Karena sudah beberapa hari terakhir mereka tidak fokus dengan perusahaan keduanya.


"Sayang, itu bukannya Mbak Dewi? Ngapain dia marah-marah di tengah jalan?" ucap Chaca menunjuk ke depan.


Gandhi menajamkan kedua matanya. Ia menghentikan mobil saat jarak mereka semakin dekat. Terlihat Dewi sedang adu mulut dengan seorang laki-laki yang mengenakan helm.


"Kamu yang nggak hati-hati! Harusnya fokus dong sama jalan. Nyetir motor itu pandangannya lurus ke depan jangan melanglang buana ke mana-mana. Udah nabrak masih nggak mau disalahin pula!" teriak Dewi, kedua tangannya bertolak pinggang.


"Heh! Emang ini jalanan milik nenek moyang kamu apa? Berhenti mendadak seenak jidat! Bukan salah orang di belakangmu kalau menghantam mobil kamu!" pekik laki-laki itu tidak mau kalah.


"Nggak mau tahu. Kamu harus tanggung jawab. Tuh mobil aku penyok!" seru Dewi lagi.


Chaca dan Gandhi segera turun, mereka bergegas melerai pertengkaran yang mengundang perhatian pengguna jalan lainnya.


"Mbak Dewi, ada apa Mbak?" tanya Chaca menyentuh lengan Dewi.


Chaca memalingkan mukanya, ia terkejut melihat orang yang berdiri di depannya.


Bersambung~

__ADS_1


__ADS_2