Duda Tapi Perjaka

Duda Tapi Perjaka
[Season 2] Kedua tapi yang Pertama


__ADS_3

Aku tertawa puas menggoda Chaca. Ia tersenyum malu menoleh ke arah jendela. Aku semakin gencar menggodanya selama perjalanan.


Hingga tak terasa mobil kami telah sampai di pekarangan rumah. Langkah kami beriringan masuk, saling berpegangan tangan tentunya. Pintu yang tidak dikunci memudahkan kami untuk melenggang masuk.


Mama dan Papa sedang bersantai di ruang keluarga. Menonton televisi sambil memakan camilan. Rumah sudah kembali sepi dan bersih seperti sedia kala.


"Ma, Pa," sapaku menghampiri dan mencium punggung tangan beliau.


"Malam Mom, Dad," ucap Chaca turut mengikutiku.


Aku mendudukkan diri di sofa tunggal. Chaca memilih duduk di samping Mama. Turut mencomot camilan di tangan Mama. Aku senang, sekarang Mama dan Chaca terlihat semakin akrab.


"Malam Sayang, gimana keadaan Andra?" tanya Mama.


"Enggak ada luka serius kok, Ma. Ada yang sabotase mobil Gandhi," tuturku.


Mama dan Papa terkejut, beliau meletakkan makanan ke pangkuan Chaca. Tatapannya seolah memaksaku menjelaskan kejadiannya. Papa yang tadi membolak-balikkan koran turut meletakkan lembaran-lembaran kertas itu. Lalu membenarkan kaca matanya.


"Siapa? Sudah lapor polisi?" tanya Mama khawatir.


"Sudah, Ma. Tadi Gandhi mampir di hotel dan sudah mendapat bukti pelaku dari CCTV. Tapi belum aku serahkan ke pihak berwajib. Mungkin dia dendam sama Gandhi Ma. Karena belum lama ini dia dipecat," jelasku santai.


Mama begitu khawatir, beliau takut jika suatu hari nanti akan kembali mencoba mencelakai putra semata wayangnya. Mama terus mencecar agar aku segera membawanya ke polisi.


"Sudahlah, resign aja. Terus pegang perusahaan Papa. Biar Papa juga bisa beristirahat," rayu Papa membuka kembali korannya.


Aku? Tentu saja jawabanku tidak. Entahlah, aku tidak nyaman saja jika tiba-tiba meneruskan perjuangan Papa. Aku takut nanti akan mengecewakannya atau hasilnya tidak memuaskan.


"Pa, maaf Gandhi belum siap," jawaban itu yang selalu keluar dari mulutku.


Papa menghela napas panjang. "Gandhi, kamu satu-satunya penerus Papa. Kalau bukan kamu siapa lagi yang akan meneruskannya? Mau sampai kapan kamu terus menghindar?" tutur Papa menyandarkan punggungnya.


Aku tidak mau menjawab, sebisa mungkin aku hindari perdebatan apapun dengan Papa. Hingga Mama membuka suara.


"Pa, sudah jangan dipaksa. Sesuatu yang tidak dari hati hasilnya tidak akan maksimal. Biarkan saja pelan-pelan. Gandhi, sesekali kamu main ke kantor Papa. Sekalian belajar di sana, kalau kamu menghindar terus sampai kapanpun enggak akan bisa. Atau mau mulai di pabrik Mama dulu?" Mama menengahi memegang tanganku lembut.


Papa menghendikkan kedua bahunya. "Kenapa nggak Chaca aja, Ma?" ucapku spontan, hingga membuat Chaca terbatuk-batuk.


Aku segera menyodorkan minuman untuknya dan menepuk punggungnya lembut.

__ADS_1


"Chaca kuliah dulu, baru pegang perusahaan. Ya 'kan Cha? Kapan kamu mau kuliah, Sayang?" ujar Mama menatap Chaca yang terlihat gugup.


"Eee ... iya Mom, nanti Chaca pikirin dulu," sahutnya sekenanya.


"Papa sama Mama menggantungkan harapan pada kalian berdua. Sudah waktunya kami menikmti masa tua. Puluhan tahun waktu kami habis untuk mendirikan usaha dan bisnis masing-masing. Sampai-sampai tidak ada waktu untuk sekedar bermesraan. Ya 'kan, Ma?" jelas Papa menggoda Mama.


Mama tersenyum dan mengangguk mengiyakan. "Oiya, semoga Mama dan Papa segera mendapatkan cucu. Mama nggak sabar pengen gendong cucu," girang Mama menatap kami berdua.


"Semoga cepat berhasil ya, Sayang!" bisik Mama di telingaku. Aku hanya mengulas senyum mendengarnya.


Setelah perbincangan yang memakan waktu cukup lama, aku mengajak Chaca segera beristirahat. Karena kelihatannya dia sudah sangat kelelahan dan mengantuk.


"Ma, Pa, Gandhi sama Chaca mau istirahat dulu," pamitku berdiri di samping Chaca.


"Tidurnya di kamar Gandhi aja ya," sela Mama.


"Kenapa, Mom?" tanya Chaca dengan polosnya.


"Kalian 'kan udah nikah Sayang, masa mau tidur beda kamar?" ucap Mama tertawa menggelengkan kepalanya.


Aku dan Chaca saling pandang, hingga kedua bibir kami menyunggingkan senyuman. Kami mengangguk mengiyakan, lalu segera beranjak meniti anak tangga satu per satu saling mengaitkan tangan.


Sesampainya di depan kamar, aku menarik gagang pintu perlahan lalu mendorong hingga benda persegi itu terbuka sepenuhnya. Kami terdiam di ambang pintu.



"Astaga, ini pasti kerjaan Mommy," ucap Chaca menggelengkan kepalanya.


"Ini tidurnya di mana Sayang?" tanyaku tercengang.


Kami saling memandang kemudian tersenyum, aku memeluknya dari belakang. Rambutnya yang diikat, memudahkanku menciumi tengkuk lehernya.


"Sssa--yang!" pekiknya melepaskan pelukan.


"Merinding semua!" serunya memperlihatkan kedua tangannya yang seperti parut.


Aku tersenyum, meniup telinganya membuatnya berteriak kegelian. Kemudian aku bergegas ke kamar mandi. Menghilangkan debu-debu yang menempel dan keringat yang telah mengering.


Setelah mengguyur seluruh tubuhku pada bilasan terakhir, aku melangkah keluar mengenakan handuk yang melilit di pinggangku.

__ADS_1


Kok Kosong? Di mana Chaca?


"Sayang?" teriakku berjalan ke lemari dan mengambil pakaian.


Tidak ada jawaban, aku memutuskan mengambil kaos oblong dan celana kolor lalu mengenakannya. Tanganku sibuk mengeringkan rambut dengan handuk kecil bersamaan duduk di bibir ranjang.


Tak berselang lama, Chaca masuk ke kamar sudah mengenakan piyama tidurnya. Wajahnya sudah tampak segar.


"Sayang, kirain ke mana tadi. Sini!" pintaku menepuk kasur tepat di sampingku.


Chaca menutup pintu perlahan, lalu melangkah semakin mendekat. "Sayang, stop!" aku menghentikannya mengarahkan lima jari padanya.


Ia terlihat kebingungan, namun menurutiku. Langkahnya terhenti mendadak. "Kenapa, Sayang?" tanyanya.


Aku berdiri dan berjalan mendekatinya. Chaca semakin memundurkan langkahnya. Aku memeluk tubuh mungilnya, membuatnya terkejut. Lalu melangkah maju, sehingga membuat Chaca memundurkan kakinya.


Dia terlihat sangat tegang, aku masih berjalan perlahan, sembari menyelipkan anak rambut pada belakang telinganya. Kedua bola mata kami saling beradu, pantulan bayanganku tercetak jelas di sana.


Hingga, kami terhenti ketika punggung Chaca menabrak pintu. Namun aku menahannya dengan kedua tanganku, lalu tanpa aba-aba aku mencium bibir ranumnya.


Aku melakukannya dengan perlahan. Sepertinya Chaca tidak ada pengalaman soal beginian. Terbukti dia tidak membalas ciumanku. Aku menuntunnya, menggigit bibir bawahnya hingga terbuka.


Lalu aku memberikan sesapan demi sesapan, hingga mampu membangkitkan gairahku. Bibir mungil yang tipis nan manis begitu memabukkan.


Kami saling melepaskan tautan bibir kami, ketika hampir kehabisan oksigen. Napas kami menderu, aku menyatukan kening. Hidung kami pun turut menempel.


Kusapu bibirnya menggunakan ibu jari, masih menyatukan kening kami. Jantungku sudah berdetak tak beraturan. Chaca juga sepertinya merasakan hal yang sama.


"Sayang, pintunya belum kamu kunci," desahku di telinganya membuatnya menggeliat kegelian. Lalu tangan kananku memutar kunci, dan kembali meraih pinggangnya.


"Sayang, apa kamu sudah siap? Kalau belum, aku tidak akan melakukannya sekarang. Aku akan menunggumu sampai kamu benar-benar siap," ucapku menahan hasrat yang sudah memberontak ingin segera tersalurkan.


Chaca menganggukkan kepalanya, menggigit bibir bawahnya. "Kamu yakin?" imbuhku.


"Iya, Sayang, aku milikmu," ucapnya mengalungkan kedua tangan pada leherku.


Dalam hatiku bersorak senang. Tadinya aku pikir, dia akan menolak. Tapi diluar dugaan, ia mengiyakan.


"Kamu kedua, tapi kamu yang pertama Sayang," ucapku menangkup kedua pipinya. Ia mengerutkan kening pertanda tidak mengerti.

__ADS_1


Bersambung~


Eheheheheheheheee.... like komen yang banyak yessss... tengkyuuuu banget buat votenya ๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜


__ADS_2