Duda Tapi Perjaka

Duda Tapi Perjaka
Bab 21


__ADS_3

Senyum getir tampak terulas di bibir Chaca. Susah payah ia menahan air matanya agar tidak terjatuh, tapi percuma. Sambil tersenyum, Chaca menunduk dan menyeka air matanya.


"Enggak akan ada yang sia-sia, Cha. Semua hasil yang kau dapat, akan kamu tuai kelak. Teruslah berusaha yang terbaik, tanpa mengharap pujian. Tapi lakukan itu demi dirimu sendiri," ucap Gandhi yang tidak tega melihat Chaca bersedih.


Ia sangat paham maksud perkataan Chaca, karena dulu pernah melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana perlakuan ayahnya.


Mungkin jika tidak ada Bunda saat ini, Gandhi langsung memeluk gadis itu. Namun kali ini ia harus menahannya. Takut kena amukan sang bunda.


"Benar yang diucapkan Gandhi, Sayang. Lakukan yang terbaik demi dirimu sendiri. Jangan pedulikan orang lain. Karena suatu saat kamu sendirilah yang akan menikmatinya. Semangat dong!" ujar Bunda menimpali.


Kepala Chaca terangkat, menatap Bunda dan Gandhi bergantian. Ia melebarkan senyuman di bibirnya lalu mengepalkan tangan kanannya ke atas. "Semangat!" ucapnya lantang seperti mau perang. Membuat Bunda dan Gandhi ikut tertawa melihatnya.


"Yaudah sekarang kalian petik sayur sana. Buat makan malam nanti. Kangkung boleh, kol, wortel juga boleh, terserah kalian mau dimasakin apa malam ini," ucap Bunda menepuk bahu Chaca.


"Siap Bunda! Ayo, Om." Seketika Chaca beranjak dari duduknya, melingkarkan tangan di lengan Gandhi.


Pria itu tersentak. Segera berjalan mengekori langkah Chaca ke arah kebun yang letaknya di belakang rumah.


Langkah keduanya terhenti, Gandhi mengernyitkan keningnya. "Kenapa?" tanyanya bingung.

__ADS_1


"Emm ... enggak tahu arahnya ke mana," gumam Chaca menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Isssh! Tadi sok sok'an," celetuk Gandhi menyindirnya. "Mau ambil apa?" tanyanya kemudian.


"Emmm ca kangkung keknya enak, Om," ujar Chaca sambil meletakkan telunjuk di pipinya dengan mata mengerling.


"Oke, let's go!"


Gandhi merangkul bahu Chaca lalu menariknya berjalan menuju ke kolam khusus penanaman kangkung.


"Eeeeh, kecekik, Om!" pekik Chaca menepuk-nepuk lengan Gandhi.


Pria itu berhenti sejenak, tersadar jika pelukannya terlalu erat. Buru-buru dilepaskan lengannya itu, hingga membuat Chaca terbatuk-batuk. "Maaf, maaf," ucap Gandhi panik menangkup kedua pipinya. "Sakit banget?" tanya Gandhi memperhatikan dua manik Chaca bergantian.


"Tapi boong!" celetuk Chaca berlari.


Tersadar jika ssdang dikerjai, Gandhi pun bergegas mengejar Chaca. Mereka berlarian di tengan kebun, bahkan sampai hampir lupa dengan tugas yang diberikan Bunda.


"Gandhi! Chaca! Mana sayurannya? Sudah setengah jam kok enggak dapet-dapet? Kalian cabutin apa di sana?" Teriak Bunda di ambang pintu belakang yang langsung terhubung dengan luasnya perkebunan.

__ADS_1


Langkah mereka pun terhenti. Secara serentak menoleh pada bunda. Keduanya menepuk jidat mereka masing-masing, lalu saling menatap.


"Gimana?" tanya Chaca tanpa suara.


Kedua sudut bibir Gandhi ditarik paksa. Ia menggosok belakang kepalanya sambil menyahut, "Iya, Bun. 10 menit!"


Buru-buru ia turun ke perairan. Tempat tumbuhnya tanaman yang sejenis ganggang itu.


Chaca nampak mengernyitkan dahinya. Ia menatap air yang cukup jernih namun berwarna hijau. Pantulan dari lumut yang juga turut tumbuh di sana.


"Udah kamu di atas saja. Nih pegangin," ucap Gandhi menyerahkan segenggam kangkung pada Chaca. Ia mengerti pasti Chaca belum pernah menginjakkan kaki di tempat-tempat seperti ini. Dengan cekatan Gandhi menyelesaikan tepat 10 menit sesuai waktu yang dijanjikan.


Mereka pun saling bekerja sama untuk menyelesaikan masakannya. Hanya Chaca yang diam memperhatikan, seolah bingung dengan apa yang akan dilakukannya. Karena seiumur hidupnya, ia belum pernah menginjakkan kaki di dapur.


Bunda tak mempermasalahkannya. Ia cukup maklum, karena Chaca orang berada. Sedangkan Gandhi sibuk mengiris bawang dengan lihai.


Hal itu membuat Chaca semakin takjub. Ia duduk di kursi makan sambil menopangkan dagu di atas kedua tangannya. Matanya berkedip lembut dengan mengurai senyum menatap Gandhi yang tampak luar biasa di matanya.


"Bun, Chaca nginep sini ya," ucap Chaca tiba-tiba sesaat setelah ia tersadar dari lamunannya.

__ADS_1


Semua orang serentak menghentikan aktivitas, mengarahkan pandangan pada Chaca.


Bersambung~


__ADS_2