Duda Tapi Perjaka

Duda Tapi Perjaka
Bab 52


__ADS_3

"Apa nggak sebaiknya kita ke sana besok aja, Cha?" tanya Gandhi saat mereka sudah ke dalam mobil.


Chaca menatap kertas di genggamannya, dimana alamat orang tua kandungnya tertera di sana. Ia menggeleng, "Hari ini juga kita harus berangkat, Om."


"Tapi kondisimu masih seperti ini," sergah Gandhi.


"Aku enggak apa-apa!" elak Chaca tersenyum.


Gandhi mengembuskan napasnya kasar. Perempuan itu sungguh keras kepala. Tapi ia juga tidak mau Chaca terus menerus kepikiran mengenai hal ini yang akan memperburuk keadaannya.


"Sudah mau malam, kita istirahat di rumah Bunda dulu. Aku janji besok kita berangkat pagi-pagi sekali, okay?" janji Gandhi.


"Iya deh. Aku juga kangen sama bunda," jawab Chaca akhirnya menurut.


Kedatangan mereka berdua tentu saja disambut antusias oleh adik-adik panti, terutama bunda. Wanita itu menangis memeluk Chaca. Gadis yang sudah lama tidak menampakkan diri sejak Gandhi menikah.


"Kamu apa kabar, Nak? Bunda sangat merindukanmu, juga khawatir padamu. Kamu sehat? Kenapa kelihatan pucat begini?" tanya bunda beruntun menangkup kedua pipi Chaca.


Chaca justru menangis, bahkan orang yang baru dikenalnya beberapa bulan yang lalu saja, sangat perhatian dan lembut padanya. Alam bawah sadarnya membandingkan perlakuan orang tua angkatnya dengan sang bunda.


'Kenapa dulu bukan bunda aja yang jadi orang tuaku?' keluh Chaca dalam hati. Menyadari betapa tulusnya wanita itu menyayangi semua anak angkatnya tanpa kecuali.


"Chaca harus istirahat dulu, Bun. Dia enggak enak badan," jawab Gandhi mengajaknya masuk ke kamar.


"Gan," panggil bunda ketika ia di ambang pintu.


"Nganter Chaca aja, Bun," ucap Gandhi yang mengerti kekhawatirannya, lalu melenggang masuk.


"Tidur ya, besok kita akan melakukan perjalanan panjang," tutur Gandhi menyelimuti tubuh Chaca. "Maaf ya, kamarnya kecil. Kasurnya juga enggak bisa mantul-mantul kaya punya kamu," canda Gandhi membuat Chaca tertawa.


"Om tidur di mana?" tanya Chaca mengeratkan selimutnya.


Gandhi mengerutkan kedua alisnya. Senyumnya tertahan, lalu ia menopang kedua tangannya di samping kiri dan kanan Chaca. "Di sampingmu," godanya mendekatkan kepalanya.


Tubuh Chaca semakin menegang, ia menarik selimut hingga menutupi hidungnya. "Ke... kenapa di sini?" tanyanya panik. Kedua pipinya memanas dengan rona merah yang membias.


Cup!


Sebuah kecupan di kening Chaca, membuat gadis itu panas dingin. Jarak yang hanya beberapa centi, membuat tubuhnya gemetar.


"Aku tidur di luar, kalau ada apa-apa panggil aja," ucapnya kemudian melenggang pergi.


Helaan napas lega diembuskan Chaca. Tangannya menyentuh dada yang terus berdetak kuat sedari tadi. Ia tersenyum, gemas dengan pria yang sudah semakin dewasa itu. Lama kelamaan, ia pun tertidur.


Sudah ditunggu oleh bunda yang duduk di ruang tengah. Gandhi tahu, akan ada banyak hal yang ditanyakan oleh wanita paruh baya itu.


"Bunda," panggil Gandhi merebahkan kepalanya di pangkuan sang bunda.


"Ceritakan semuanya. Mulai dari sidang cerai kamu!" tanya bunda menuntut.


Dan sepanjang malam itu Gandhi menceritakan semua yang dialaminya, sampai permasalahan Chaca. Bunda sempat tidak percaya.


"Ya Allah, kasihan Chaca. Semoga dia selalu kuat dan tabah menjalaninya," tanggap bunda setelah Gandhi selesai bercerita.


"Iya, Bun. Tadi sempet drop, makanya aku cegah ke luar kota malam ini juga. Oh iya, Bun!" Gandhi beranjak duduk, memegang kedua tangan bundanya, "Bunda setuju 'kan kalau Gandhi nikah sama Chaca?"


"Tentu saja, sejak awal Bunda selalu dukung kamu sama Chaca. Eh malah main serong sembarangan!" Bunda mencubit pinggangnya. Hingga meringis kesakitan.


"Aduh ... Aduh, Bun. Iya, iya, Bun maaf. Waktu itu 'kan panik, lihat orang mau bunuh diri. Asal ngucap janji tanpa mikir dulu. Tapi syukurlah, Tuhan sudah memberikan kemudahan agar segera lepas darinya. Tulang rusukku yang sesungguhnya sudah menunggu, Bun," jelas Gandhi.


Langit semakin gelap, perbincangan anak dan ibu itu berakhir ketika terlihat kantuk di wajah bunda.


Keesokan paginya, usai salat subuh mereka segera berangkat ke YogjakartaYogjakarta, kota kelahiran sang ibu.


"Udah siap?" tanya Gandhi melihat Chaca keluar dari kamar. Chaca mengangguk.


"Sayang." Bunda merengkuh tubuh mungil Chaca ke dalam pelukannya, membelai kepalanya dengan lembut. "Kamu yang kuat ya, apa pun yang terjadi," ucap Bunda.


"Chaca nggak apa Bunda. Cuma mau menengok keluarga Chaca, apakah masih ada atau ...."


"Kamu tetap anak bunda. Kamu adalah keluarga di sini. Jangan pernah merasa sendiri," ucap Bunda melepas pelukannya memegang kedua tangannya.


"Iya, Bun. Chaca pamit dulu ya."


"Gan, hati-hati," pesannya pada anak lelakinya.


Gandhi hanya membalas dengan hormat dan tersenyum.

__ADS_1


Perjalanan cukup lancar, pukul 08.30 WIB mereka sudah sampai di kota kerathon. Gandhi meminta menyalakan maps untuk bisa sampai di alamat tersebut.


Sekitar satu jam dari kota, mereka sampai di sebuah rumah joglo yang sederhana. Bangunannya tampak sudah tua, suasanya sangat sejuk karena pekarangan yang luas ditumbuhi banyaknya pepohonan dan bunga.


Semakin masuk ke pelataran, mereka disambut gemericik air mancur yang sepertinya ada beberapa ikan hias.


"Permisi, assalamu'alaikum!" Gandhi mengetuk pintu itu tiga kali.


Terdengar jawaban dari dalam rumah. Seorang wanita yang sudah tua, membuka pintu lalu mengernyitkan keningnya.


"Kalian siapa?" tanya sang nenek tanpa meminta mereka duduk terlebih dahulu.


"Maaf, mengganggu, Nek. Apa benar ini rumah Ibu Namira Setyaningsih?" tanya balik Gandhi.


"Iya, benar. Saya ibunya. Siapa kalian?"


Seketika tubuh Chaca bergetar, air mata yang berusaha ia tahan membobol kedua matanya. "Nenek," panggil Chaca dengan suara tertahan. Tenggorokannya tercekat, berbeda dengan neneknya yang bertambah bingung.


"Nek, dia adalah Chaca. Cucu kandung nenek, dia putri dari Ibu Namira." Gandhi menjelaskan kebingungan sang nenek.


Tersentak, bahkan tubuhnya tiba-tiba kaku. Diiringi dengan jatuhnya air mata yang membasahi kedua pipi keriputnya.


Chaca menghambur ke pelukan wanita tua itu. Menumpahkan isak tangis dan kerinduan mendalam. Sejauh apa pun dan selama apa pun, darah akan lebih kental dari pada air.


"Ya Allah, Cu! Kamu sudah besar," jerit tangisnya menggema di penjuru teras rumah khas jawa itu.


Gandhi terharu dengan pertemuan mereka. Air matanya juga turut menyeruak. Kedua tangannya terus menyekanya. Malu jika sampai diketahui orang lain.


***


"Nek, Nenek tinggal sama siapa? Ayo ikut Chaca aja ke Malang," ucap Chaca setelah mereka duduk di kursi yang terbuat dari kayu jati.


Mereka duduk berdampingan, Chaca bergelayut manja di lengan ringkih itu. Gandhi yang duduk di seberang mereka turut merasakan kebahagiaan dari kekasih hatinya.


"Nenek tinggal sama kakek, Sayang. Beliau lagi ke sawah. Mantau pekerja, ini 'kan lagi musimnya tanam," jawab sang nenek mengusap kepala Chaca.


Tak lama kemudian, seorang ART meletakkan minuman juga aneka jajan pasar di atas meja.


"Terima kasih ya, Nah," ujar Nek Halimah.


Mereka lalu berbincang, sambil menikmati hidangan yang ada. Halimah juga menceritakan kehidupan Namira dulu. Ia harus ikut dinas suaminya di Malang beberapa bulan. Ternyata kondisinya hamil dan tidak memungkinkan untuk pulang, jadi mereka memutuskan tinggal di Malang.


Namun, kabar duka terdengar ketika kandungannya berusia 7 bulan, Namira dan suaminya mengalami kecelakaan. Hingga merenggut nyawa keduanya. Tidak ada yang tahu jika bayi dalam kandungannya selamat. Sewaktu keluarga sampai, sudah selesai disucikan dan segera dibawa pulang untuk dimakamkan.


"Nek!" Chaca kembali terisak, ia memeluknya dengan sangat erat.


"Cucu cantik Nenek bahkan sudah sebesar ini. MasyaAllah," ucap Halimah penuh syukur.


Chaca diperlihatkan banyak album foto orang tuanya. Namira merupakan anak satu-satunya Halimah, takdir harus memisahkan mereka untuk selama-lamanya.


"Ibu sangat cantik," gumamnya meraba foto-foto ibunya. "Ayah kelihatannya sangat tegas, tidak bisa dibantah, tapi penyayang," sambungnya ganti mengusap foto ayahnya.


Gandhi beranjak dan mendudukkan diri di samping Chaca. Menghapus air mata yang membanjiri pipinya. "Kamu juga cantik," ucap Gandhi memiringkan tubuhnya menatap gadis di hadapannya.


"Iya, benar. Namira sangat mirip denganmu, Cha. Oiya, siapa pria ini? Dia juga tampan sekali." Halimah mengalihkan pembicaraannya.


"Nek, dia ...."


"Gandhi, Nek. Calon suami Chaca," tukas Gandhi memotong ucapan Chaca. Mencium punggung tangan wanita tua itu.


"Oohh yaampun, Chaca mau nikah? Semoga lancar acaranya sampai hari-H ya, Sayang."


"Aamiin ...." Seru mereka bersamaan.


Tak terasa, matahari semakin menanjak tinggi. Kakek yang baru pulang dari sawah terkejut, sekaligus bahagia karena bertemu dengan cucu kandungnya yang selama ini dianggap sudah meninggal.


Makan siang pun sangat ramai karena kehadiran cucu dan calon suaminya. Setelahnya mereka beristirahat sejenak di kamar yang sudah disiapkan.


"Nek, nanti sore aku pengen jalan-jalan deh di kota ini," pamit Chaca saat sudah mau memasuki kamar.


"Iya, Sayang. Bersenang-senanglah. Jangan lupa hubungi orang tua angkatmu agar tidak khawatir," ujar Halimah yang memang sudah diberi tahu bahwa selama ini ia dirawat dan dibesarkan oleh keluarga Alexander.


"Oke, Nek!"


Chaca masuk ke kamar, dan melakukan panggilan pada Alice. Dia masih sungkan dengan Alexander setelah pertengkaran kemarin.


Perlahan, dia bisa menerima garis takdir yang harus ia jalani. Chaca mengambil sisi positifnya. Setelah mengirim pesan singkat, ia memejamkan matanya perlahan. Begitupun Gandhi yang beristirahat di kamar sebelah Chaca.

__ADS_1


Sore harinya, sesuai dengan keinginan Chaca, Gandhi mengajaknya jalan-jalan. Ke alun-alun adalah tujuan pertamanya. Berjalan di antara pohon kembar, makan makanan khas Yogja, juga tanpa sengaja bertemu para musisi jalanan yang suka rela menghibur para pengguna jalan.


"Om, nyanyi gih," pinta Chaca di tengah kerumunan banyak pemuda di sana.


"Enggak bisa kalau lagu Jawa, Cha," elak Gandhi.


"Yaudah lagu barat aja," sahut Chaca lagi.


"Malu kalau di sini. Entar aja aku nyanyiin spesial di mobil atau di rumah nenek," sergah Gandhi.


"Ck! Om cemen! Makan dulu yuk, Om. Laper banget, nanti keliling lagi. Aku pengen naik becak," ujar Chaca meremas perutnya.


"Perut apa gentong nih? Perasaan makan mulu dari tadi?" sindir Gandhi terkekeh, namun ia berjalan mendahului Chaca.


Gadis itu kemudian mengekorinya dan memukul punggungnya. "Iihh jahat, masa disamain gentong!" cebik Chaca kesal.


Gandhi tertawa, berlari di tepian jalan. Mereka berkejaran sampai di sebuah rumah makan. Gandhi memilih duduk di luar. Sembari menikmati keramain Kota Yogja malam itu.


Pelayan segera menghampiri keduanya, yang sedang membaca buku menu. Meski napas keduanya masih tersengal karena habis berlarian.


"Mbak, aku mau oseng-oseng mercon sama bakmi Yojga ya. Oiya mau coba itu dong bhakpia pathok yang original aja ya. Minumnya jus alpukat, air mineralnya satu. Om mau apa?" Chaca menengadahkan kepalanya.


"Gudheg aja, Mbak, pake sate ayam. Minumnya es teh aja," jawab Gandhi singkat.


"Tuh tuh, gentong nggak tuh? Masih muat makan segitu?" sindir Gandhi yang sedang menggerakkan buku menu untuk mengipasi wajahnya yang kegerahan.


"Helleh ... Gentong juga, Om tetep cinta!" tantang Chaca memicingkan mata.


"Iya dong. Jangan ditanya dan jangan diukur!"


Mereka berbincang ringan sampai satu persatu makanan telah tiba. Gandhi heran, Chaca tetap bertubuh kurus walaupun kebiasaan makannya yang banyak.


"Om, aku mau ke toilet dulu yah. Kebelet," pamitnya setelah menyesap minumannya hingga tetes terakhir.


Gandhi mengacungkan ibu jarinya karena mulutnya masih penuh makanan.


Tiba-tiba, selang beberapa menit, Gandhi merasakan tanah yang ia pijaki bergoyang. Terdengar bunyi pecahan barang-barang dari dalam resto. Getarannya semakin lama semakin terasa kuat.


Bahkan piring dan gelas yang di mejanya sudah berhamburan ke tanah. Matanya membelalak ketika semua orang berhamburan keluar dan berteriak.


"Gempa! Gempa!"


"Chaca!" teriaknya berlari sekuat tenaga masuk ke dalam resto.


Tubuhnya berhantaman dengan para pengunjung dan juga staf resto. Semua orang panik, dinding-dinding bangunan itu perlahan mulai retak, lemari, kitchen, semuanya sudah berserakan di lantai.


Meski sempoyongan susah berjalan, Gandhi berusaha mencapai toilet yang ada di dalam resto.


Jerit, tangis ketakutan terdengar saling bersahutan. Suasana tidak kondusif lagi.


"Chaca! Kamu di mana?" Chaca!" Pandangan Gandhi mulai berkabut. Atap mulai berjatuhan, dinding juga hampir roboh.


Semua orang berlomba mencari jalan keluar. Tapi tidak dengan Gandhi. Ia justru semakin masuk ke dalam untuk mencari keberadaan Chaca.


"Brak! Pyarr!"


Dentuman keras benda-benda berjatuhan. Gandhi bahkan tidak bisa berjalan tegak. Goyangan itu terasa semakin kuat. Ia merangkak, matanya menangkap tulisan toilet.


Dengan cepat Gandhi berusaha mencapai ke sana. Bersembunyi di balik meja-meja yang masih berdiri kokoh.


"Chaca! Kamu di mana?"


"Om, tolong!" rintih Chaca dengan suara pelan. "Aaarrgghh! Om Gandhiii!" serunya kesakitan.


Mendengar suara Chaca yang kesakitan, Gandhi menangis, dalam hati terus berdoa untuk keselamatan gadis itu.


Hingga ia menemukan Chaca mengangsut di lantai dengan kaki yang terluka cukup parah.


"Cha!" seru Gandhi menyingkirkan reruntuhan bangunan dari kaki Chaca.


Ia segera memeluk tubuh Chaca, menyembunyikan tubuh mungil itu dalam dekapannya.


Sebuah balok kayu yang cukup besar menggantung dan terjatuh seiring gerakan yang cukup keras.


"Aaaarrrgghh! Allahu Akbar!"


Bersambung~

__ADS_1


__ADS_2