
Tatapan bingung bercampur kaget kini dilayangkan Chaca, ketika ia mengedarkan pandangannya. Semua mata tertuju padanya.
Seketika ia menunduk sembari menggigit bibir bawahnya. Namun perkataan Bunda kembali membuatnya mendongak dengan mata berbinar.
"Tentu aja boleh, Sayang. Pintu rumah ini selalu terbuka lebar untuk siapa aja. Termasuk Chaca."
Senyum lebar kian terbentang di bibirnya, "Beneran, Bun?" tanyanya lagi tak percaya.
Bunda membalas dengan sebuah anggukan. Chaca pun bersorak bahagia. Ia mengucapkan terima kasih lalu melanjutkan kembali makannya dengan bersemangat.
Gandhi menggelengkan kepala sambil tersenyum, heran dengan tingkah Chaca yang seperti anak kecil itu.
"Mau tidur di mana, Bun? Semua kamar 'kan penuh?" celetuk Santi mengerutkan bibirnya.
Chaca mengalihkan pandangan pada gadis sebayanya itu. Sejak awal ia merasakan hawa peperangan pada gadis tersebut.
"Di kamar Bunda aja," timpal Bunda sebelum Chaca semakin kecewa.
Alhasil Santi pun hanya bisa berdecak kesal. Makanannya pun hanya diaduk-aduk saja tanpa berminat untuk menghabiskannya.
__ADS_1
Gandhi mengangkat dagunya, menatap sang Bunda bersamaan dengan manik mata Bunda yang tengah menatapnya. Pria itu mengangkat kedua alisnya seolah bertanya ada apa? Namun Bunda hanya mengendikkan kedua bahunya.
Seusai makan malam, semua anak-anak berkumpul di ruang tengah. Ruangan yang sangat luas tanpa ada kursi atau meja. Hanya tikar sebagai alasnya.
Mereka duduk melingkar dengan buku dan alat tulis lain di hadapannya. Fokus dengan pelajaran masing-masing. Ada yang masih SD, SMP dan ada juga SMA.
Chaca antusias memperhatikan mereka satu per satu. Bahkan tak segan ia membantu anak-anak panti untuk mengerjakan tugas-tugas mereka.
Otaknya yang memang encer sedari kecil tidak membuatnya kesulitan. Bahkan sesekali sambil bercanda membuat semua anak-anak menikmati proses belajar mereka.
"Cha, duduk depan yuk," ajak Gandhi setelah dia selesai dengan jabatan barunya menjadi guru les privat.
"Jangan malam-malam ya, Bunda tidur duluan," timpal Bunda hendak menuju kamarnya.
Langkah mereka berhenti lalu berbalik. "Oke Bunda," sahut Chaca melingkarkan jari telunjuk dan ibu jarinya dengan senyum ceria.
Mereka kembali berjalan ke depan, Gandhi mengajaknya duduk di kursi panjang yang terbuat dari kayu. Di depannya banyak tanamañ bunga segar yang bermekaran.
Aroma bunga itu menyeruak ke hidung keduanya. Membuat jiwa siapa saja rileks di sana. Chaca menyandarkan kepalanya, mendongak dengan memejamkan mata. Lalu menghela napas panjang.
__ADS_1
"Enak banget di sini," ucap Chaca masih terpejam.
Gandhi memutar tubuhnya menghadap tepat pada Chaca. Ia perhatikan pahatan Tuhan yang sempurna di matanya. Mata sipit, hidung kecil dan mancung, bibir tipis. Ingin sekali ia mencium bibir itu.
"Aku nggak nyangka kita akan dipertemukan lagi setelah sekian lama," ucap Gandhi membuka suara.
Chaca mengerjapkan mata. "Gue juga, Om." Pandangan pertamanya adalah wajah tampan Gandhi yang sangat dekat di bawah remang cahaya rembulan.
Tatapannya beradu, sejenak ia tertegun. Matanya mengerjap lembut. Degub jantung keduanya berdentum hebat, meronta seperti hendak meloncat keluar. Hingga, tubuh Gandhi terdorong ke depan.
Entah keberanian dari mana, ia tiba-tiba menempelkan bibirnya pada bibir Chaca. Keduanya memejamkan mata, hembusan napas hangat kian beradu.
Chaca membuka sedikit mulutnya, hingga Gandhi semakin memperdalam ciumannya. Tangannya meraih tengkuk Chaca.
Malam itu, langit hitam dengan kilauan bintang menjadi saksi di mana dua insan saling mengungkapkan rasa tanpa disertai untaian kata.
Cukup lama, hingga Gandhi melepas ciumannya. Dipegangnya salah satu pipi Chaca, keningnya masih saling menempel. Deru napas mereka tak beraturan.
"Cha, I love you," ucap Gandhi seperti habis lari marathon.
__ADS_1
Bersambung~