
Bryan hendak melewati mobil yang berhenti tepat di depannya. Sejurus kemudian sang pemilik turun dan berlari menghampirinya dengan bersemangat.
"Hai, aku mau balikin jaket nih," seru Dewi mengulurkan sebuah paper bag.
"Thanks," sahut Bryan singkat meraih paper bag tersebut lalu melanjutkan langkahnya.
Dewi mencekal lengan laki-laki itu, otomatis langkahnya terhenti. Bryan melirik tajam ke arah lengannya, membuat Dewi buru-buru melepaskannya.
"Sorry. Oiya, bareng sekalian aja. Kita 'kan searah, motor kamu masih di kampus ya?" tawar Dewi dengan senyum merekah.
"Hemmm!" sahutnya tanpa ekspresi.
Bryan melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya, menurutnya hari yang sudah semakin siang biasanya kesulitan mencari taksi. Ia memutuskan menerima tawaran Dewi.
"Oke," ucapnya melangkah masuk ke mobil, disusul Dewi menyetirnya.
Dewi tidak dapat menyembunyikan kebahagiaannya. Senyum kian menghiasi bibirnya sedari tadi. Baginya, sikap Bryan yang seperti itu justru semakin menarik. Ia jadi merasa tertantang untuk meluluhkan pria dingin yang ada di sampingnya.
"Bryan, kamu kuliah di sana? Sepertinya kamu udah berumur," celetuk Dewi masih fokus menyetir.
"Tidak," jawab Bryan tanpa menoleh.
"Terus? Kerja di sana?" tanya Dewi lagi.
"Iya."
"Sebagai apa?" Lagi-lagi Dewi terus mencerca pertanyaan dengan segala kekepoannya.
"Tukang pel," seloroh Bryan.
Dewi menghentikan mobilnya mendadak mendengar jawaban Bryan. Dia tertawa terbahak-bahak, sambil menggelengkan kepalanya.
"Gila! Bisa nyetir nggak?" pekik Bryan menatapnya tajam.
"Ah, sorry ... sorry. Kamu sih ada-ada aja," sahut Dewi kembali melajukan mobilnya.
Perjalanan yang tidak memakan banyak waktu itu, terasa begitu singkat. Bryan bergegas turun dari mobil, Dewi mengikutinya lalu mencekal lengan pria itu lagi.
"Apa?" tanya Bryan menghentikan langkah.
"Nanti malam ada waktu nggak? Kita dinner yuk," ucap Dewi tanpa basa-basi.
"Nggak ada. Aku sibuk," sahut Bryan dingin.
"Sibuk apa malam-malam?" Dewi mengerutkan kening.
__ADS_1
"Belum aku pikirkan! Thanks tumpangannya," ucapnya lalu melenggang pergi meninggalkan Dewi yang masih menyerap pernyataan Bryan tersebut.
Dewi tersadar lalu menahan senyumnya. 'Ya ampun, semakin dingin kenapa semakin menarik saja,' gumam Dewi dalam hati. Ia kembali ke mobilnya lagi dan bergegas menuju hotel.
Dari punggung keduanya terlihat seorang gadis yang melihat adegan sejak mereka turun dari mobil. Ya, dia Andin.
Gadis itu baru turun dari angkutan umum seperti biasa. Saat sudah menginjakkan kaki di depan kampus, dari kejauhan ia melihat Bryan turun dari mobil dan dibuntuti oleh seorang gadis modis yang cantik.
Ah entah cantik atau tidak, Andin tidak melihatnya dengan jelas. Karena posisi mereka berdua membelakangi Andin. Ia hanya menundukkan kepala berjalan menuju kelasnya. Andin pura-pura tidak melihatnya.
Langkahnya semakin cepat melalui keduanya. Samar-samar Andin menangkap pembicaraan mereka, yang mengatakan bahwa gadis itu mengajak Bryan makan malam.
Andin menghembuskan napas berat dan semakin mempercepat langkahnya. Entah kenapa dia merasakan sesuatu yang mengganjal di hatinya. Ia sendiri tidak mengerti apa itu.
"Apasih Ndin, sadar diri dong!" gerutunya sepanjang jalan.
"Memang selama ini kamu nggak sadar?" Suara orang yang ingin sekali ia hindari terdengar jelas di sampingnya menyamakan langkah.
Andin tersentak, ia menghentikan langkah menoleh sejenak ke samping. Andin kembali menundukkan kepalanya. "Bukan urusan, Bapak," sahut Andin lalu mempercepat langkah menuju kelas.
Chaca lebih dulu sampai di kampus. Ia sedang membuka dan membaca modul sambil makan kripik kentang favoritnya.
Andin mendudukkan dirinya dengan kasar di samping Chaca. Napasnya masih tersengal-sengal sehabis berlari.
"Kenapa, Ndin? Kayak habis dikejar setan," ucap Chaca menyodorkan air mineralnya pada teman yang sudah menjadi sahabatnya itu.
Chaca meraihnya dengan paksa, "Hei jangan dihabisin, nanti aku minum apaan," gerutu Chaca melihat airnya yang tinggal beberapa centi tingginya.
"Air kran masih banyak," canda Andin terkikik pelan.
"Nyesel ih nawarin kamu," ujarnya pura-pura merajuk.
Andin beranjak dari duduknya, lalu merangkul pundak Chaca. "Tapi sayang 'kan?" ucapnya menopangkan dagu pada bahu Chaca.
"Iyalah," jawab Chaca dengan tawanya mengusap sebelah pipi Andin.
Tak lama kemudian, Bryan masuk ke kelas. Pagi ini adalah jam mata kuliah Bryan. Andin bergegas duduk kembali di tempatnya tanpa mau menatap ke depan. Ia sebenarnya masih malu dengan Bryan atas kejadian semalam. Rasanya ingin sekali mengganti muka saat itu juga. Atau misal ada yang muka dua, Andin mau pinjam satu.
Chaca melihat gelagat aneh dari Andin. Tidak seperti biasanya Andin yang selama ini selalu antusias dengan mata kuliah Bryan, hari ini terlihat seperti menghindarinya.
Tatapan kagum setiap harinya untuk Bryan, pagi ini tidak terlihat. Chaca beralih pada Bryan, pria itu justru menatap Andin aneh.
"Ada apa sih dengan mereka," gumam Chaca pelan mengendikkan bahunya tidak mengerti.
Sampai jam matkul Bryan habis, Andin masih berpura-pura fokus pada buku di hadapannya. Bryan memberesi laptop juga modulnya di meja. Lalu berjalan ke arah Chaca yang terlihat Andin di sebelahnya.
__ADS_1
"Hai, Cha," sapa Bryan. Chaca hanya mengerutkan kening, tidak biasanya dia menyapa Chaca di kelas seperti itu.
"Andin, ke ruangan saya sekarang!" titah Bryan memalingkan tubuhnya pada Andin.
Seketika Andin terkejut, tubuhnya seolah kaku tidak bisa digerakkan. "Ta--tapi Pak, ini belum hari senin," sahutnya gugup.
"Ada hal penting yang mau saya bicarakan!" tandasnya tegas tanpa mau mendengar penolakan.
"Ba--baik, Pak," sahut Andin dengan jantung berdebar-debar.
Ia segera membereskan buku-bukunya, bergegas mengekori Bryan. Chaca tidak mengerti dengan dua orang tersebut. Ia sebenarnya ingin tahu, namun sepertinya mereka hanya mau berbicara empat mata saja.
Chaca memutuskan untuk melakukan panggilan video call dengan suaminya. Tak lama, wajah tampan itu memenuhi layar ponsel Chaca yang disandarkan di meja.
"Sayang," panggil Chaca melambaikan tangan.
"Hallo kesayanganku, istirahat ya," sahut Gandhi menyetir mobil.
Chaca mengangguk menampikkan senyuman cantiknya, yang membuat kedua matanya menyipit.
"Sayang mau ke mana? Kok masih nyetir," tanya Chaca.
"Mau cari lokasi yang bagus, Sayang. Lebih cepat lebih baik 'kan?" sahut Gandhi sesekali melihat wajah cantik istrinya. Wajah yang setiap detik selalu memenuhi otak dan hatinya.
"Oh, sama siapa? Nanti kalau masih sibuk aku naik taksi aja pulangnya," ucap Chaca menopangkan dagu pada kedua tangannya.
"Sendiri nih. Eh, enggak Sayang. Nanti tunggu aku datang. Satu jam sebelum pulang, hubungi aku ya," jawab Gandhi cepat. Tidak ingin membiarkan belahan jiwanya pulang naik taksi.
"Okedeh. Yaudah hati-hati ya, Sayang. Aku tutup dulu," ucap Chaca mematikan sambungan videonya setelah mendapat sahutan dari Gandhi.
Ia membuka modul matkul selanjutnya sembari menunggu dosen datang. Matanya melirik kursi sebelah, masih kosong. Dia mengira-ngira apa yang sebenarnya terjadi antara Bryan dan Andin.
...----------------...
Dari hasil perburuan mencari lokasi, Gandhi mendapatkan beberapa informasi tentang beberapa tempat yang bisa ia gunakan. Ia mengunjunginya satu per satu.
Ada satu tempat yang menarik baginya. Lokasi yang memang sudah disiapkan dan dibersihkan untuk disewa. Dia berbincang dengan sang pemilik, mengatakan akan berdiskusi dengan istrinya terlebih dahulu.
Pemilik tempat sewa itu mengirimkan nomor rekening. Jika sewaktu-waktu Gandhi menjatuhkan pilihannya di sana.
Dalam perjalanan, Gandhi kembali melihat Anjar dengan tante yang dulu pernah ia lihat. Kali ini dia tidak mau melepaskan pria itu.
Gandhi turun dari mobilnya menarik kaos yang dikenakan Anjar dari belakang. Anjar menepis kasar tangan Gandhi, lalu membalikkan tubuh. Seketika matanya membelalak, terkejut dengan kehadiran Gandhi.
Bersambung~
__ADS_1
Aku Kangen Ayu .... xixixixixi