
1 bulan kemudian...
Alexander memindahkan pengobatan Gandhi dan Chaca ke rumah sakit di Kota Malang. Agar mudah mengontrol perusahaan juga memantau perkembangan Gandhi dan Chaca. Keadaan Gandhi sudah sangat baik sekarang.
***
Gandhi POV
"Om! Ini mau sampe kapan meluknya?" ucap Chaca masih dalam dekapanku.
"Ah, maaf Sayang, saking bahagianya aku enggak mau lepasin kamu. Aku nggak mau kehilangan kamu," tukasku melepas pelukan dan mengapit kedua pipinya.
Mama berjalan menghampiri kami. Masih meninggalkan sisa-sisa air mata di pelupuk matanya. Aku mundur selangkah, memberikan jalan untuk Mama mendekati Chaca.
Mama menangis memeluk Chaca, menumpahkan segala penyesalannya selama ini. Memberikan kecupan pada kepalanya.
"Maafin Mommy Sayang. Mommy mohon, mulai sekarang, tinggal sama Mommy dan Daddy ya. Mommy mau menebus semua kesalahan selama ini. Pulang ya Sayang," mohon Mama pada Chaca.
Chaca melihat ke arahku seperti meminta persetujuan. Aku mengedipkan kedua mata, sebagai isyarat mengiyakan permintaan beliau.
"Tapi ada syaratnya," ujarnya menatapku lekat.
"Apa Sayang?" sahut Mama membelai kepala Chaca.
"Aku mau Om Gandhi juga ikut bersama kita," ucapnya polos.
Aku terperanjat dengan ucapannya, membuatku mengusap wajah kasar karena gugup. Bahkan hampir saja aku tersedak salivaku sendiri.
'Etdah ni anak enggak ada jaim-jaimnya.'
"Tentu saja Sayang, Gandhi kamu juga tinggal sama Mama Papa ya? 26 tahun kami kehilangan waktu bersamamu. Tolong, tinggallah bersama Mama dan Papa," ucap Mama berbalik menghadapku dan menyentuh pipi kananku.
"Aku ....,"
Belum sempat aku melanjutkan ucapanku, Mama menangis menubruk dadaku dan memelukku erat. Aku membalasnya, lalu melepas pelukan kami. Kuusap air mata yang berlinang pada kedua pipinya.
"Surga Gandhi ada di telapak kaki Mama, mana mungkin Gandhi menolak permintaan Mama? Terima kasih telah melahirkan Gandhi ke dunia ini," tukasku mengecup kedua tangan Mama.
"Udahan dong nangis-nangisnya ini kan hari yang bahagia. Kenapa malah pada mellow semua sih?" celetuk Chaca sambil tertawa.
Sekarang tinggal fokus pemulihan kaki Chaca. Kata Dokter, maximal 6 bulan sejak penanaman pen pada kakinya. Bisa kurang dari itu.
"Sayang, Bunda pulang dulu ya. Kasihan Santi pasti kerepotan mengurus adik-adik sendirian," ujar Bunda melangkah mendekatiku.
__ADS_1
"Iya, Bun. Mau Gandhi antar?" tawar Gandhi.
"Tidak Sayang, Bunda naik taksi saja. Sering-sering berkunjung ya. Pintu rumah Bunda selalu terbuka untuk kalian," balas Bunda.
Aku meraih Bunda dalam pelukanku. Wanita hebat yang berjuang untuk anak-anak yatim piyatu dan terlantar. Kebesaran hati Bunda, kelak akan memudahkan jalan menuju surga-Nya.
"Bunda, Gandhi sangat bersyukur dirawat dan dibesarkan oleh Bunda. Berjuta terima kasih tidak akan mampu membalas semua keringat Bunda yang menetes untuk Gandhi. Gandhi sangat menyayangi Bunda," lirihku mengeratkan pelukanku.
"Bunda juga sayang sama kamu Gandhi, putera pertama Bunda. Syukurlah sekarang kamu telah berkumpul kembali dengan Mama Papamu," sahutnya mengusap pelan punggungku.
Bunda melepaskan pelukan kami, beralih memeluk Chaca yang tidak bisa menahan air matanya.
"Bundaaaa," serunya dalam dekapan Bunda.
"Terima kasih banyak Bunda mengajarkanku banyak hal. Mulai dari attitude yang baik, sopan santun, memasak, belanja dan masih banyak lagi. Chaca sayang sama Bunda," sambungnya.
Bunda mengecup kening Chaca kemudian berkata, "Bunda lebih menyayangimu. Jangan bandel lagi ya Sayang," tukas Bunda mencolek hidung mancung Chaca.
Kemudian Bunda bergegas keluar, diikuti oleh Mama dan papa.
"Sayang, kapan kita nikah?" tanyaku merangkul pundaknya.
"Eumm ... nunggu kakiku sembuh ya Om, aku nggak mau nikahan di kursi roda, nanti engga keliatan cantik," celetuk Chaca mendongak menatapku.
"Mau pulang sekarang?" tanyaku setelah Mama menghilang di balik pintu.
Chaca bergeming menatapku. Entah ada bisikan dari mana kepalaku semakin mendekat. Seperti tertarik oleh magnet dari bibirnya.
Hingga, kedua bibir kami menyatu. Chaca memejamkan matanya, seolah mengizinkan aku untuk melakukannya. Selang beberapa detik, aku merasakan manisnya bibir mungil gadisku itu. Aku segera menarik kembali kepalaku karena takut keblabasan.
"Ayok," seruku menggendong Chaca. Ia masih terlihat bersemu, pipinya memerah.
"Eh enggak pake kursi aja Om?" tanya Chaca mengalungkan kedua lengannya pada leherku.
"Tidak perlu, aku lebih suka seperti ini," cetusku berjalan keluar.
Setelah menempuh perjalanan beberapa menit, kami telah sampai di rumah Papa. Bi Ratih telah mengetahui semuanya karena ketika perjalanan katanya Mama menelepon.
Beliau terharu, tidak menyangka bahwa akulah anak kandung Mama dan Papa. Ia sudah menyiapkan kamar untukku, di samping kamar Chaca.
Uuggh pengertian banget Bi. Tau aja kita maunya dideketin.
Aku mengangkat Chaca dan merebahkan di kasurnya. Ia duduk bersandar lalu melihat sekeliling dan menghela napas panjang.
__ADS_1
"Sudah lama aku meninggalkan kamar ini," ujarnya pelan.
"Sebentar lagi bertambah sempit ranjangnya," celetukku duduk di depannya.
"Hah?" sahutnya terkejut.
Aku tertawa, lalu merengkuh kedua pipinya memberikan kecupan di kening. Kudiamkan bibirku bertengger agak lama, baru kulepaskan.
"Sebentar lagi bertambah sempit karena ada aku yang tidur di sampingmu. Juga anak-anak kita kelak," ucapku mengusap pipinya dengan ibu jariku.
Wajah Chaca memerah, ia melengkungkan bibirnya menahan senyum sampai beberapa saat.
"Istirahat ya Sayang, aku mau ambil beberapa pakain dulu lalu mandi," pamitku beranjak pergi meninggalkan kecupan bibir sekilas.
"Jangan lama-lama ya Om, nanti aku kangen," ucapnya menghentikan langkahku.
"Astaga! Sini aku kantongin biar ngikut kemana-mana," candaku membuatnya tertawa.
Aku melambaikan tangan lalu melangkah pergi. Mengambil beberapa pakaian di rumah Bunda. Paling tidak lama tinggal di rumah Papa. Kalau aku sudah menikah nanti, lebih nyaman tinggal sendiri sama Chaca. Biar nggak ada yang ganggu.
***
Tak terasa dua bulan berlalu. Aku sudah menjalani pekerjaanku kembali. Papa memintaku untuk resign dan meminta agar segera pindah ke kantornya.
Aku baru sadar ternyata dulu pernah bekerja di perusahaan papa kandungku. Mungkin karena jabatan yang masih di bawah, tidak pernah bertemu langsung dengan pemilik perusahaan. Apalagi, pengelolaannya di bawah naungan Pak Handoyo, yang sekarang menjadi atasanku.
Beliau memang dulunya karyawan Papa, namun satu tahun belakangan membangun hotel sendiri. Tepat saat aku dipecat, beliau menawariku menjadi manager di hotelnya yang kebetulan sedang kosong di posisi tersebut. Beliau mengatakan kinerjaku sangat bagus. Dan di sana, aku bertemu dengan Andra. Kami nyambung saat mengobrol, meskipun dia sedikit ceplas ceplos.
Tapi kami menjadi dekat bahkan sangat dekat. Apalagi saat dia menduduki jabatan sebagai asistenku.
Dering handphone membuyarkan lamunanku di meja kerja. Aku segera meraihnya, pasti Chaca. Dia sering melakukan video call saat aku kerja. Katanya sih rindu.
Eh, Bunda.
"Assalamu'alaikum Bunda, bagaimana kabarnya? Semoga Bunda sehat selalu ya," sapaku setelah menggeser slide hijau.
"Wa'alaikumsalam. Gandhi, kenapa lama tidak mengunjungi Bunda? Kamu udah nggak kangen lagi sama Bunda?" gerutunya kesal di ujung telepon.
"Ya Allah Bun, bukan seperti itu. Gandhi sibuk banget Bunda. Beberapa bulan nggak fokus, kerjaan Gandhi numpuk banget nih Bun," elakku.
"Pokoknya Bunda nggak mau tahu. Masa cuma uangnya aja yang sampai. Orangnya nggak pernah. Hari Jum'at Bunda tunggu kedatanganmu sama Chaca. Titik! Tidak boleh membantah," serunya mematikan sambungan telepon.
Aku meletakkan HPku, menggelengkan kepala sambil tersenyum melihat tingkah Bunda yang seperti anak kecil.
__ADS_1
Bersambung~