
Author POV
Mobil yang dikendarai orang tua Chaca tiba-tiba dihentikan mendadak ketika salah satu ban mobilnya meletus.
"Sial!" umpat Xander membanting setir.
Chaca segera turun dari mobil dan memeriksa setiap ban mobilnya. Xander menelpon anak buahnya untuk menyelidiki kasus Gandhi.
"Gerak cepat!" serunya sambil menelpon.
Ada sebuah mobil yang berhenti di depan Chaca. Ia segera turun dan bergegas menghampiri Chaca.
"Cha! Ada apa?" tanya seorang wanita menepuk bahu Chaca.
"Mbak Friska? Kok ada di sini?" tanya Chaca terkejut.
"Iya, aku habis dari dokter. Reyhan demam sejak semalam. Kamu ngapain di pinggir jalan?" tanya Friska lagi.
Xander dan Alice ikut turun menghampiri mereka. Kemudian, pria paruh baya itu menghubungi bengkel langganannya. Chaca menjelaskan bahwa mereka hendak ke kantor polisi.
Friska terkejut, lalu menawarkan tumpangan pada Chaca sekeluarga. Mereka pun mengiyakan karena jalan yang mereka lalui sepi. Sedari tadi hanya ada beberapa taxi yang lewat. Itu pun membawa penumpang semua.
"Sebenarnya apa yang terjadi, Cha?" tanya Friska setelah ia melajukan mobil.
"Aku juga nggak tau, Mbak. Kami baru mau ke sana," ucap Chaca yang tidak tenang sedari tadi.
"Sabar ya, Cha. Semoga masalahnya cepat selesai," ujar Friska.
Chaca mengangguk lalu terdiam. Pandangannya fokus pada luar jendela. Xander masih fokus pada ponselnya. Sedangkan Alice diam memikirkan kondisi anaknya.
Setelah sampai, anak Friska merengek ingin pulang. Sehingga dia tidak ikut masuk ke dalam. Chaca memakluminya, mereka mengucapkan terima kasih pada Friska sebelum akhirnya keluar dari mobil tersebut.
Chaca berlari meninggalkan kedua orang tuanya. Ia menerobos masuk tanpa menghiraukan teriakan salah satu polisi yang jaga.
Langkahnya terhenti, tubuhnya terpaku ketika melihat suaminya sedang dicecar pertanyaan-pertanyaan oleh polisi di depannya.
"Mas," ucapnya melangkah pelan sembari menghapus air matanya.
"Sayang!" sahut Gandhi beranjak lalu memeluk istrinya.
Ia menghujani kecupan pada kening istrinya, menghapus air mata Chaca dengan kedua ibu jarinya. Lalu menariknya duduk di kursi panjang, diikuti oleh papa dan mamanya.
__ADS_1
"Pa, Ma," sapa Gandhi mencium punggung tangan mereka.
Lalu kembali mendudukkan tubuhnya di samping istrinya. Chaca merebahkan kepalanya di pundak Gandhi, kedua lengan Chaca melingkari perut juga punggungnya.
"Apa yang terjadi?" tanya Papa langsung pada intinya.
...----------------...
Setelah Andra memberi kabar pada Chaca, Andra segera meminta Dewi mengecek informasi tamu yang berada di kamar tersebut. Karena setelah tamu itu menelpon polisi, mereka meninggalkan lokasi.
"Gimana Dew?" tanya Andra berdiri di depan meja resepsionis.
Dewi terlihat serius meneliti satu per satu nama yang check in pada kamar tersebut. Setelah mendapat informasi, dewi segera mencatat nama dan alamat itu.
"Ini, alamatnya, Pak. Aku ikut Bapak," ucap Dewi menyerahkan secarik kertas lalu mengambil tasnya.
"Nanti kalau Pak Handoyo pecat kita, apa kamu siap?" tanya Andra menyebutkan kemungkinan terburuk. Karena mereka keluar pada jam kerja.
Dewi menganggukkan kepalanya mantap. "Pak Gandhi orang yang sangat baik. Aku ingin membantunya," sahutnya berjalan keluar dari tempatnya.
"Good! Fara, sendiri dulu nggak apa-apa ya?" tukas Andra pada resepsionis satunya.
Fara yang memang tidak mengerti apa-apa hanya menganggukkan kepalanya.
Andra melajukannya dengan kecepatan lumayan tinggi. Namun tetap berhati-hati. Mereka melacak alamat rumah wanita yang menjebak Gandhi tadi. Kebetulan ia check in dengan identitasnya.
Setelah sampai di area pemukiman, Dewi sesekali turun untuk bertanya. Hingga sampailah mereka di rumah yang dicari sedari tadi.
Andra dan Dewi turun dari mobil, mereka berjalan mengendap-endap. Mereka dikejutkan dengan decitan segerombolan mobil yang terhenti di belakang mobil Andra. Hingga membuatnya menoleh seketika.
Orang-orang itu berpakaian serba hitam dan berkacamata hitam pula. Mereka dengan cekatan turun dari mobil. Andra menelan ludahnya kasar saat mengetahui orang-orang itu membawa pistol di tangan kanan mereka.
Tubuh Andra dan Dewi menegang, mereka juga gemetar karena derap langkah orang-orang misterius itu semakin mendekat.
"Pak, saya takut," ucap Dewi lirih meremas jas Andra.
"Sama Dew. Aku nggak tahu siapa mereka," balas Andra berbisik.
Orang-orang itu menyebar dan mengepung rumah. Andra dan Dewi hanya diam mematung tidak berani bergerak sedikitpun. Salah seorang pria berbadan kekar, menggedor pintu dengan keras.
"Buka pintunya atau kuledakkan rumah Anda!" teriaknya mencondongkan pistol ke arah pintu.
__ADS_1
Mungkin dia bossnya. Semua anak buahnya berpencar, dan melakukan hal yang sama pada senjata di tangan mereka.
"Dew, nasib kita gimana nih?"
"Nggak tau Pak, aduh aku sampai kebelet nih karena takut. Pak, kita pergi aja yuk," ucap Dewi merapatkan kaki dan mencengkeram jas Andra semakin erat.
Andra bergeming, menyaksikan adegan orang-orang itu yang berhasil mendobrak pintu. Beberapa orang masuk ke rumah. Tak berapa lama mereka menyeret seorang wanita. Dia meronta meminta agar dilepaskan.
Lalu mereka menghempaskannya dengan kasar di halaman rumah. Semua orang berpakaian hitam itu melingkar mengelilingi wanita yang terduduk di tanah. Tak lupa dengan senjata mereka.
"Katakan! Siapa dalang dari kejadian tadi?" teriak seorang pria berbadan kekar. Wanita itu ketakutan, ia menangis sesenggukan.
"Katakan atau kuledakkan kepalamu sekarang juga!" pekiknya sekali lagi.
Wanita itu mendongak, awalnya ketakutan namun sejurus kemudian ia tertawa terbahak-bahak.
Andra dan Dewi saling pandang. Dewi masih bersembunyi di balik punggung Andra. Lalu keduanya saling mengendikkan bahu. Dewi buru-buru mengambil ponsel dari tasnya.
"Ngapain Dew?" tanya Andra.
"Sssttt ... udah pandangan Bapak lurus ke depan aja," bisik Dewi membidik ponsel pada segerombolan orang-orang itu. Andra menurut saja.
DOR!
Sebuah tembakan yang lolos membuat Andra, Dewi dan wanita itu terkejut sekaligus merinding.
'Syukurlah tembakannya diarahkan ke langit,' batin Andra.
"Kami tidak main-main! Katakan! Apa motif kamu melakukan rencana busuk tadi?" pekik pria bertubuh kekar itu lagi.
"Dia sudah memasukkan calon suamiku ke penjara! Dia juga harus membusuk di penjara juga!" teriaknya diiringi tawa menggelegar.
Lalu tiba-tiba menangis, "Harusnya aku menikah hari ini. Tapi gara-gara laki-laki itu semuanya berantakan. Dia pantas mendapatkannya," teriaknya lagi, dan tertawa lagi.
"Yaampun, Pak! Jangan-jangan dia calon istri Antony. Keterlaluan kalau iya." Suara lirih Dewi terdengar di telinga Andra.
Andra masih menatap mereka namun mengangguk menanggapi ucapan Dewi. "Astaga, kayaknya dia stress Dew," bisik Andra memalingkan muka pada Dewi.
"Sepertinya begitu. Kasihan ya," sahut Dewi.
Mereka semua menyeret wanita itu. Andra berlari mengikutinya. Dewi pun juga tidak mau ketinggalan. Mereka berdua tidak berani berbicara pada orang-orang misterius tadi.
__ADS_1
Bersambung~
Ini hari apa ya🙄 tumben banyak up 🙈