Duda Tapi Perjaka

Duda Tapi Perjaka
[Season 2] Kabar


__ADS_3

Mama Alice terus menjerit memangku kepala Gandhi. Para pelayan tergopoh-gopoh mendengar teriakan majikannya. Mereka terkejut saat melihat Gandhi tergeletak di lantai.


"Bi, cepat panggil Mang Ujang, Mang Maman, semuanya untuk mengangkat Gandhi!" perintah Mama Alice cepat.


"Ba ... baik Nyonya," sahut mereka berlarian memanggil kaum lelaki.


Rey turut berlari, ia menangis melihat papanya tak berdaya. Rey terus menggoyangkan tubuh Gandhi sambil menangis. Hal itu membuat Mama semakin sedih.


"Papa, papa bangun," ucap Rey di tengah isakannya.


"Sayang, sabar kita berdoa terus ya untuk kesembuhan papa," tutur Mama Alice memeluk Rey.


Semua penghuni rumah masuk ke kamar Gandhi, mengangkatnya ke ranjang. Mama Alice terus memberikan minyak angin pada hidung Gandhi namun tetap saja tidak ada reaksi apa pun.


"Bi, bawa Rey keluar, tolong hubungi Papa," pinta Mama Alice pelan.


Beberapa pelayan pun berbagi tugas, ada yang membuatkan teh hangat, menelepon Papa Xander dan mengajak Rey yang terus menangis.


Dokter yang datang segera diantar ke kamar dan memeriksanya. Mama Alice menceritakan apa yang baru saja dialami Gandhi.


"Beliau kekurangan cairan, Nyonya. Dan sepertinya asam lambungnya naik. Pemicu utamanya karena stress berlebih dan pola makan yang tidak teratur. Tensinya juga sangat rendah. Tuan Gandhi harus segera dirawat di rumah sakit agar mendapat pengganti cairan lewat infus," tutur sang dokter setelah melakukan pemeriksaan.


"Ba ... baik, Dok," jawab Mama Alice penuh kekhawatiran. Ia menunggu kedatangan suaminya.


Dokter kemudian bergegas pamit. Mama Alice menyeka keringat dingin yang membanjir di kening Gandhi. Sesekali mencium tangannya. Benar-benar sesak melihat anaknya tidak berdaya seperti itu.


"Ma, bagaimana keadaannya?" tanya Papa yang baru sampai.


Papa Xander meletakkan tas kerjanya, lalu menghampiri anak istrinya. Mama Alice menjelaskan bahwa Gandhi harus segera dirawat karena kekurangan cairan.


Mereka lalu bergegas membawa Gandhi ke rumah sakit. Papa mengurus semua pendaftaran, ia memilih ruang VVIP untuk perawatan terbaik putranya.


Kini Gandhi sudah dipindahkan dari IGD ke ruang rawat inap. Papa terus memeluk mama yang tidak bisa berhenti menangis. Beberapa menit kemudian, Gandhi mengerjapkan matanya pelan.


"Sayang, kamu sudah sadar," seru Mama Alice berdiri mengusap kepalanya lembut.


Gandhi tersenyum, mengedipkan mata. Masih terlalu lemah untuknya berucap. Ia juga menahan gejolak mual yang kembali menyerang. Mulutnya terasa getir, berkali-kali menelan saliva.


Hingga akhirnya dia tidak tahan juga untuk mengeluarkan seisi perutnya. Papa dengan sigap memapahnya ke toilet. Mama juga membawakan infusnya. Mereka berdua dibuat panik dengan kondisi putranya.

__ADS_1


Gandhi kembali memuntahkan seisi perutnya, namun hanya cairan saja yang keluar. Begitu pahit ia rasakan. Mama memijat tengkuknya lembut, tidak tega melihatnya.


"Ma, kenapa masih terus muntah?" tanya papa khawatir.


"Mungkin obatnya belum bereaksi, Pa," jawab Mama sekenanya.


"Udah, Sayang?" tanya Mama setelah Gandhi mencuci mukanya.


Gandhi mengangguk pelan, ia tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Papa kembali memapahnya naik ke ranjang. Gandhi memejamkan matanya lagi, kepalanya semakin berdenyut hebat.


...----------------...


Chaca sedang mencuci piring seusai sarapan. Ia bersiap untuk mengikuti kelas batik tulis bersama Ibu Mila, seperti dua hari sebelumnya. Tiba-tiba saja, piring yang dipegangnya meleset dan terjatuh.


"Astaga!" Chaca terkejut buru-buru dia memungut pecahan piring itu, tanpa sengaja jemarinya tergores membuatnya meringis kesakitan.


"Cha, ada apa?" tanya Amel menghampiri dengan Baby Al dalam gendongannya.


"Nggak tau, Mbak. Perasaanku nggak enak," keluh Chaca menyesap darah yang mengalir.


"Sudah biarkan saja, nanti biar diberesin Bibi," tukas Amel menarik lengannya ke kamar.


"Kamu mikirin apa?" tanya Amel setelah selesai membalut luka Chaca.


"Nggak tahu, Mbak. Tiba-tiba kepikiran Mas Gandhi. Mbak tolong hubungin Bang Andra, aku mau tahu keadaannya," pinta Chaca.


Amel lalu mengambil ponselnya, dia menelepon suaminya untuk menanyakan keadaan Gandhi. Andra mengatakan bahwa bosnya itu tidak masuk kerja sejak Chaca pergi dari rumah.


"Cha, pulanglah. Kasihan Mas Gandhi, sudah tiga hari kamu tidak mengabarinya, dia bahkan tidak masuk kerja sejak kamu pergi," saran Amel menyentuh tangan Chaca.


"Tap ... tapi aku takut, Mbak. Aku takut Mas Gandhi membenciku. Aku takut dia kecewa padaku," ujarnya menundukkan kepala.


"Tidak akan, Gandhi sangat menyayangimu. Dia pasti memaafkanmu aku yakin itu," imbuh Amel lagi.


Dua hari kemudian, Andra hendak menemui Gandhi untuk meminta tanda tangannya. Andra sudah membawa berkas-berkas yang diperlukan.


Dia tidak menemukan Gandhi di rumahnya. Ia lalu bergegas ke rumah utama. Barulah Andra mengetahui jika Gandhi dirawat di rumah sakit. Tanpa menunggu lama, ia bergegas ke sana. Andra berlarian sepanjang lorong rumah sakit setelah menanyakan ruangan Gandhi.


Tok! Tok!

__ADS_1


Ketukan itu lama sekali terbuka. Andra tidak sabar, ia menerobos masuk ke kamar. Kosong, tidak ada siapa pun. Namun terdengar suara berisik di toilet.


Andra menunggunya di sofa. Setelah beberapa menit, pintu toilet terbuka. Ia terkejut melihat Gandhi yang begitu pucat dan lemah. Andra segera menghampiri membantu memapah Gandhi.


"Tante, apa yang terjadi?" tanya Andra setelah merebahkan dan menyelimuti Gandhi yang kembali memejamkan matanya.


"Sudah beberapa hari kondisinya seperti ini, semakin hari bukan bertambah baik tapi terus menurun. Sejak Chaca pergi dari rumah, Gandhi langsung drop. Terlalu stres hingga mengakibatkan asam lambungnya naik. Setiap hari selalu muntah, bahkan perutnya tidak mampu menampung makanan apa pun. Dia cuma mengandalkan asupan dari infus itu. Tante sakit melihatnya seperti ini," jelas Mama Alice dengan tangisan pilu.


"Astaga!" gumam Andra pelan.


Andra sungguh menyesal mengantarkan Chaca pergi. Dia tidak menyangka jika kepergian Chaca akan berimbas hingga separah itu. Andra sungguh merasa bersalah pada sahabatnya itu.


"Tante, Andra pamit sebentar. Andra akan segera kembali," tutur Andra mencium punggung tangan Mama Alice lalu bergegas keluar.


Andra berjalan cepat menuju mobilnya sembari mengambil ponsel dan menelepon Amel. Andra menyampaikan bahwa ternyata Gandhi dirawat di rumah sakit. Tubuhnya drop bahkan sampai sekarang keadaannya tak kunjung membaik.


Amel begitu terkejut, ia segera membangunkan Chaca yang sedang tidur siang. Bukan tidur, tepatnya hanya rebahan saja. Ternyata dia menangis, begitu merindukan suaminya.


"Cha," panggil Amel pelan menyentuh bahu Chaca.


Chaca segera menghapus air matanya lalu berbalik dan mendudukkan dirinya. Ia mencoba mengukir senyum pada bibirnya.


"Iya, Mbak," sahutnya pelan.


"Kamu harus pulang sekarang. Suami kamu sedang dirawat di rumah sakit. Bahkan kondisinya terus menurun," tukas Amel.


"Apa? Mas Gandhi."


Chaca terkesiap, air matanya semakin turun deras tak tertahankan. Rasa bersalah menyeruak sampai dasar sanubarinya. Dadanya seolah terhimpit beban berat, sesak sekali ia rasakan.


"Mbak, aku mau pulang sekarang," jerit Chaca diiringi deraian air mata.


"Iya, Mas Andra sudah perjalanan kemari jemput kamu. Sabar ya, siap-siap aja dulu," tutur Amel ikut sedih melihatnya.


"Aku maunya sekarang, Mbak. Aku naik bus saja!" pekiknya buru-buru memasukkan pakaian dalam tasnya.


Bersambung~


Bagi lagi 🤭 kepanjangan...

__ADS_1


__ADS_2