
Telapak tangan Alexander terasa panas, matanya masih menyalang penuh amarah. Sedangkan Chaca terjatuh ke lantai sambil memegangi pipinya yang memerah, akibat pukulan sang papa tadi.
Mendengar suara keributan, Bi Ratih dan Alice bergegas menuju ruang tengah. Bi Ratih terperanjat. Ia menutup mulutnya dan terpaku di tempat saat melihat nona mudanya terduduk di lantai dengan pipi memerah.
"Makin bertambah usiamu bukannya tambah baik dan sopan malah sebaliknya!" sentak Alexander berkacak pinggang.
"Papa!" Alice berlari menghampiri Chaca dan membantunya berdiri. Kepalanya yang tadi menunduk, perlahan terangkat. Nampak ada darah segar yang mengalir di sudut bibirnya.
Tatapannya teramat tajam melayang pada laki-laki yang telah membiayai hidupnya selama 16 tahun itu. Tidak ada raut ketakutan, yang ada hanya kekecewaan.
"Cha, ayo bangun," ujar Alice pelan sambil terisak.
"Apa Anda pernah mengajarkan saya sopan santun selama ini? Apa Anda pernah menanyakan bagaimana kabar saya? Apa Anda pernah memberikan kasih sayang pada saya? Apa Anda pernah sedikit saja melihat hasil jerih payah saya? Prestasi saya?" teriak Chaca dengan wajah garangnya, bibirnya tampak tersenyum smirk. "Enggak pernah," sambungnya lirih membuang pandangannya.
Chaca menelan salivanya dengan berat, "Saya iri dengan teman-teman yang selalu bercerita tentang ayah mereka. Bagaimana mereka menghabiskan waktu bersama, bagaimana perhatian ayah dan ibu mereka, bagaimana hangatnya kehidupan mereka. Saya iri!" pekik Chaca frustasi berlinang air mata menarik rambut panjangnya dengan kedua tangan.
Alice menunduk, benar apa yang dikatakan Chaca. Selama ini ia hanya memupuk anak gadisnya dengan uang, uang dan uang. Juga disertai fasilitas-fasilitas yang ia anggap bisa membahagiakan Chaca.
__ADS_1
Namun tidak dengan Alexander. Pria itu justru semakin geram merasa ada yang berani menantangnya. "Bi Ratih!" Suaranya menggelegar membuat sang pemilik nama terlonjak dan buru-buru mendekat.
"I ... iya, Tuan," sahut Bi Ratih menundukkan kepalanya semakin dalam.
"Seret Chaca ke kamarnya! Dan kamu," perintah Alexander lalu menggerakkan telunjuknya pada Chaca. "Sebagai hukumannya, berikan semua fasilitas yang Daddy berikan ke kamu!" serunya melotot tajam. Alice tercengang, ia menggelengkan kepala tak percaya.
Chaca menghapus air matanya dengan kasar. Dibuka tasnya lalu mengambil dompet dan mengeluarkan seluruh kartu debit, kartu kredit bahkan uang tunai yang tersisa di sana. Diserahkan semua pada kedua tangan Alexander.
"Terima kasih untuk semuanya Bapak Alexander yang terhormat," ujarnya dengan tatapan tak kalah tajam. Lalu berlari menaiki anak tangga. Namun suara papanya kembali menghentikan langkahnya. "Tunggu!" Gerakan Chaca terhenti.
Gadis itu pikir papanya akan merasa bersalah atau menyesal. Ia berdecih pelan sambil mengorak-arik isi tasnya mencari kunci mobil.
Ia kembali berlari menuruni anak tangga dan menyerahkan kunci mobil dengan kasar.
"Sekarang masuk ke kamar dan jangan keluar!"
Seruan itu seolah tak terdengar di telinga Chaca. Ia terus melaju menaiki anak tangga menuju kamarnya. Alice hanya terdiam dalam tangisnya. Menatap anak semata wayangnya diperlakukan seperti itu. Ia tak bisa melawan kehendak suaminya.
__ADS_1
"Pa," lirih Alice menyentuh lengan suaminya.
Namun tak ditanggapi. Pria itu menghempaskan tangan istrinya. Lalu berjalan membawa segala perlengkapan Chaca ke kamarnya. Alice pun hanya bisa menghela napas beratnya.
Chaca menutup pintu kamar dengan kasar. Tubuhnya bersandar pada pintu, lalu meluruh ke lantai. Tubuhnya bergetar karena tangisnya semakin keras. Namun satu tangan membekap mulutnya agar tak terdengar keluar.
"Gue punya bokap nyokap tapi serasa yatim piatu. Om, gue pengen ikut sama lo aja. Bunda, Chaca mau ikut Bunda," gumamnya disertai isakan yang memilukan. Bayangan ketika berada di rumah bunda seolah berputar di otaknya. Walau hidup sederhana, namun penuh kehangatan dan kebahagiaan. Lelah sehabis menangis, gadis itu tertidur di lantai.
Gandhi yang sedang fokus dengan pekerjaannya tiba-tiba menyenggol gelas di sampingnya hingga pecah berserakan di lantai.
"Astaga," gumamnya sedikit terkejut.
Jantungnya tiba-tiba berdenyut hebat. Matanya terfokus pada pecahan gelas itu dengan kening berkerut dalam.
"Kenapa perasaanku nggak enak ya?" tanyanya pada diri sendiri.
Bersambung~
__ADS_1