Duda Tapi Perjaka

Duda Tapi Perjaka
[Season 2] Perseteruan Bryan-Dewi


__ADS_3

"Kodok! Kamu itu ya sukanya cari gara-gara!" geram Chaca mendorong Bryan.


"Apaan, Cha? Dia yang salah!" elak Bryan tidak terima.


"Jelas-jelas kamu yang nabrak mobil aku sampai bumpernya rusak begitu. Masih mengelak terus!" teriak Dewi menunjuk-nunjuk Bryan.


Wajahnya memerah karena marah. Keduanya terus berseteru, tidak ada yang mau mengalah. Mereka masih kekeh dengan pendirian masing-masing.


"Stooooop!" pekik Chaca menutup kedua telinganya.


Gandhi hanya menghela napas panjang. Ia bersandar pada mobilnya, seperti sedang menonton drama saja.


"Mau sampai kapan teriak-teriak nggak jelas di jalan seperti ini, hah? Bryan, sebentar lagi jam mata kuliah kamu. Mau sampai kapan di sini? Mbak Dewi juga, Mbak nggak kerja apa?" Chaca memarahi keduanya.


Mereka terdiam sejenak, namun sejurus kemudian kembali berteriak saling melempar kesalahan. Bahkan Dewi hendak menghajar Bryan karena tidak mau bertanggung jawab. Gandhi yang lebih dekat dengannya beranjak menghalanginya.


Bryan pun tidak mau kalah, seolah ia tidak terima. Sehingga membuat Chaca mendorong tubuh Bryan yang semakin mendekat.


Gandhi yang tersadar ia segera berbalik menarik Chaca, "Sayang kamu sama Dewi aja!" serunya menghalangi Bryan. Chaca berlari menghampiri Dewi menariknya agar semakin menjauh.


"Bry, jangan kayak anak kecil. Mau gimanapun kamu juga salah udah nabrak mobilnya Dewi. Jadilah pria gentleman, Bro," tukas Gandhi merapikan kemeja Bryan di balik jaketnya.


"Kalau dia nggak berhenti mendadak juga aku nggak bakal nabrak, Gand." Bryan masih tersulut emosi.


Dewi mengatakan pada Chaca jika mobilnya tiba-tiba mogok, lalu terdengar hantaman keras dari belakang. Ternyata saat ia turun melihat motor Bryan menabrak bumper mobilnya sampai penyok.


"Oke kalau gitu, Bryan, kamu antar Mbak Dewi aja dulu. Mobilnya biar aku telponin bengkel," tandas Chaca meraih ponsel dari tasnya.


"Tidak! Aku sudah terlambat. Ada jam pagi, Cha. Lagian naik taksi aja 'kan bisa," elak Bryan berjalan menaiki motor.


"Mana ada taksi kosong jam-jam sibuk seperti ini!" tandas Dewi.


Wanita itu setengah berlari meraih tas ransel yang digendong Bryan. Hingga membuat Bryan kembali menurunkan kakinya.


"Bryan! Anterin Mbak Dewi!" geram Chaca berkacak pinggang menajamkan matanya.


Bryan mendesah kesal, dengan berat ia pergi mau mengantarkan Dewi ke hotel terlebih dahulu. Wanita itu berpamitan pada Chaca dan Gandhi sebelum akhirnya naik pada jok belakang motor tersebut.


"Nih!" tukas Bryan kesal menyerahkan helm pada Dewi.

__ADS_1


Dewi menerima lalu memakainya. Ia melangkah naik ke motor besar tersebut.


"Krek!"


Dewi membelalakkan mata ketika merasakan ada yang tidak beres pada pakaian yang dikenakannya. Ia menggigit bibir bawahnya.


'Astaga! Seperti suara sobekan kain, jangan jangan ...," batin Dewi yang terdiam sejenak setelah mendudukkan dirinya.


Gandhi dan Chaca menggelengkan kepala. Heran dengan sikap kedua orang itu. Gandhi melingkarkan lengan pada leher Chaca, mencium keningnya lalu mengajaknya masuk ke mobil. Ia menghubungi bengkel terlebih dahulu sebelum akhirnya meninggalkan tempat tersebut melanjutkan perjalanan.


Bryan memblayer sepeda motornya, lalu menjalankan kendaraan tersebut dengan kecepatan tinggi. Dewi hampir terjengkang. Dengan sigap, ia melingkarkan kedua lengannya pada perut Bryan.


Kepalanya bersandar pada punggung pria itu yang terhalangi tas ransel. Kedua matanya terpejam sangat kuat karena takut.


"Ya Tuhan, aku belum mau mati sekarang. Lindungi aku Tuhan. Aku belum melepas status jomloku," cerocosnya sepanjang jalan mengeratkan pelukannya.


Beberapa menit kemudian, Bryan menghentikan motor sportnya. Dewi masih menggerutu bersandar di punggung pria itu dan memeluknya erat.


"Seneng banget ya peluk-peluk orang ganteng?" sindir Bryan menolehkan kepala.


Dewi tersentak, ia membuka matanya. Pandangannya mengeliling, bertambah terkejut lagi jika saat ini ia berada di Universitas Brawijaya.


"Bodoh! Mana aku tahu kamu mau ke mana? Tidak bilang dari tadi," cebik Bryan kesal.


Dewi menempeleng kepala Bryan dengan keras, "Aduuh!" Ia mengerang kesakitan karena telapak tangannya bersinggungan dengan helm. Dewi mengibas-ngibaskan tangannya. Sedangkan Bryan tertawa terbahak-bahak.


"Gadis bodoh!" tutur Bryan hendak turun dari motornya.


Namun gerakannya tertahan, karena Dewi menarik tas ranselnya. "Anterin aku ke Hotel Majesty, atau aku bilang Chaca nih kalau kamu nggak mau nganter?" tutur Dewi cepat.


Geram bercampur malas dirasakan oleh Bryan. Ia akhirnya mau mengantar Dewi. Ketika sampai lokasi, Dewi masih tetap bergeming. Ia tidak mau turun dari motor besar itu.


"Turun woi!" pekik Bryan.


"Eee ... itu, Pak eh Mas pinjem jaketnya dong. Rok aku belahannya tambah tinggi. Tolongin sekali lagi yah. Please," mohon Dewi mendekatkan kepalanya ke depan.


"Merepotkan!" Tidak mau terlalu lama, Bryan akhirnya melepaskan jaketnya dan menyerahkannya pada Dewi.


Wanita itu pun segera turun dan menangkupkannya, melilitkan jaket tersebut di perutnya. Sehingga belahan roknya yang semakin tinggi itu tertutup sempurna.

__ADS_1


"Mas ini gimana buka helmnya? Kok nyangkut ya," ucap Dewi panik.


"Astaga ... benar-benar sial aku hari ini ketemu sama kamu. Merepotkan sekaligus menyebalkan!" gerutu Bryan melambaikan tangan agar mendekat.


Dewi mendekatkan dirinya, lalu Bryan mulai membukakan helm yang dikenakan oleh wanita itu. Jarak yang begitu dekat, membuat Dewi fokus memperhatikan salah satu ciptaan Tuhan yang begitu indah.


'Ya ampun, ternyata dia tampan sekali,' ucap Dewi dalam hati. Ia menelan kasar salivanya.


Dewi bahkan tidak menyadari jika Bryan sudah meninggalkannya. Sampai sebuah tepukan di bahu, mengejutkannya.


"Ngapain Dew? Bengong sendiri nanti kesurupan loh," pekik Fara, rekannya.


"Eh, eng ... enggak ngapa-ngapain. Yuk masuk!" ajak Dewi pada partner kerjanya tersebut.


...----------------...


"Sayang, nanti kalau pulang hubungin aku ya," tukas Gandhi mencium punggung tangan istrinya.


"Iya, Sayangku. Aku masuk dulu ya," sahut Chaca.


Saat Chaca sudah turun dari mobil, Gandhi buru-buru mengejar istrinya. "Sayang, tunggu!" pekiknya menyentuh lengan istrinya.


Chaca menoleh dan menghentikan langkahnya, "Kenapa, Sayang?" tanya Chaca membenarkan tas pada bahunya.


"Ada yang ketinggalan," ucap Gandhi mencium kening istrinya lama. Chaca tersenyum, ia memejamkan matanya.


Banyak pasang mata yang memperhatikannya. Andin, salah satunya. Ia terkejut saat baru saja turun dari angkutan umum yang biasa dinaikinya.


"Kuliah yang pinter biar cepet lulus," pesan Gandhi merapikan anak rambut Chaca.


"Iya, Sayang," sahut Chaca dengan senyuman menawan. Kalau saja tidak di luar mobil, Gandhi akan segera mereguk bibir tipis milik istrinya itu yang selalu menggodanya.


Tak berapa lama, Bryan melalui mereka berdua. Tak lupa dengan blayer gas motornya yang memekakkan telinga. Gandhi mengerutkan kening.


"Seperti Bryan? Apa dia juga kuliah di sini, Sayang?" tanya Gandhi menyentuh kedua lengan istrinya.


"Emmm ... Bryan, dia sebenarnya dosen aku, Sayang," ujar Chaca ragu. Ia takut suaminya akan marah.


Bersambung~

__ADS_1


Komentar dan like kalian semangatku❤❤ big thanks juga buat votenya ya😚


__ADS_2