Duda Tapi Perjaka

Duda Tapi Perjaka
[Season 2] Finally, Sah


__ADS_3

"Bismillahirrahmanirrahiim, saya nikahkan engkau Saudara Gandhi Bagaskara bin Alexander Abraham dengan Ananda Chatrine Salsabila binti Ismail dengan mas kawin uang senilai 20 juta 20 ribu rupiah dan sepasang kambing dibayar tunai," tegas Pak Penghulu.


Aku tidak mempedulikan sekitarku yang saling berbisik. Mengubah suasana yang semula tenang menjadi sedikit berisik. Namun aku terus berkonsentrasi dan mencoba tidak terpengaruh apapun.


"Saya terima nikah dan kawinnya Chatrine Salsabila binti Ismail dengan mas kawin tersebut dibayar tunai," teriakku lantang mengeratkan jabat tangan kami.


"Yeeeeaaaaahhh!" seruku mengepalkan kedua tangan.


"Heh, belum!" seloroh Pak Penghulu menepuk tanganku.


Aku terkejut dan melongo, maksudnya apa? Perasaan yang semula penuh kelegaan berubah menjadi sesak kembali.


"Bagaimana para saksi?" tanya Pak Penghulu. Astaga aku lupa.


"Saaaaaah!" teriak semua saksi beserta tamu undangan diiringi tawa menggelegar yang tidak kunjung berhenti. Bahkan ada yang sampai terpingkal-pingkal mengeluarkan air mata.


"Alhamdulillaah," ucap Pak Penghulu dilanjutkan dengan pembacaan segenap doa, lalu penandatanganan berkas-berkas.


Fotoku dan foto Chaca telah bersanding dalam buku kecil yang sangat syakral berwarna merah dan hijau. Bukan hanya fotonya dong tentunya. Tapi diri kami juga, kami telah disatukan dalam ikatan halal di mata agama maupun hukum.


Cinta hadir dengan tanpa disangka-sangka. Tidak peduli jarak usia yang membentang diantara kita, tidak masalah dengan perbedaan status yang kami sandang. Sejauh apapun kita melangkah, seberat apapun cobaan yang menghadang jika memang sudah ditakdirkan berjodoh pasti akan bersatu.


Dan dari sini aku mengerti, dibalik semua cobaan yang aku lalui. Banyak sekali pelajaran yang dapat aku ambil. Aku sangat bersyukur atas semuanya, Allah telah mempertemukan aku dengan orang yang sangat aku cintai dan juga mencintaiku. Allah tidak akan memberikan apa yang kita inginkan, namun Allah akan memberikan apa yang kita butuhkan.


Tubuhku melemas seketika, keringat mengalir deras di wajahku. Perasaanku membuncah, kebahagiaan telah menyelimuti hatiku. Aku menangkupkan kedua tangan menutup wajahku. Hingga tepukan Papa pada bahuku membuatku menoleh.


"Akhirnya, selamat Gandhi," ucap Papa menyunggingkan senyuman. Lalu aku memeluknya.


"Saudara Gandhi, sebenarnya saya masih penasaran. Kenapa mas kawinnya ada kambingnya? Sepasang pula. Pasti para tamu undangan juga penasaran ya to? Jujur, saat saya mengucapkannya menahan ketawa," tanya Pak Penghulu memegang microphone sambil tersenyum.


Aku turut tertawa karena hampir semua orang di ruangan itu pada tertawa. Aku memperbaiki posisi dudukku.


"Untuk sepasang kambingnya adalah permintaan istri saya Pak. Siapa tahu bisa langsung jadi juragan kambing. Jika dijual 'kan hasilnya lumayan Pak," celetukku kembali menggebrak tawa seluruh orang.


"Oh, seperti itu. Saran saya harus dijaga baik-baik ya, semoga menjadi berkah bagi keluarga kalian kelak," sahut Pak Penghulu.

__ADS_1


Aku mengangguk mengaminkan dan menyatakan, kalau sudah dibuatkan istana (kandang) untuk kedua kambing itu. Karena itu sangat berharga untukku dan Chaca.


Pandanganku tersita penuh oleh gadis yang kini berjalan semakin mendekatiku. Aku terpaku ketika melihatnya sedang menuruni tangga diikuti Mama dan MUA di belakangnya. Senyumnya tak pernah pudar sedikitpun dari wajahnya.



Bola mataku mengikuti setiap langkahnya. Aku terpesona dengan wanita yang mengenakan kebaya putih itu. Dia, terlihat lebih dewasa. Aura kecantikannya terpancar. Chaca, dia adalah wanitaku, kekasihku, istriku.


Aku tak mampu menyembunyikan senyuman di wajahku sejak tadi. Dia berjalan begitu pelan, rasanya aku tidak sabar ingin segera menariknya dalam pelukanku. Aku beranjak berdiri, masih dengan guratan kebahagiaan yang tidak bisa pudar di wajahku.


Tubuhku berdesir hebat, kala jarak kami hanya tinggal 2 meter saja. Aku hendak meraih kedua tangannya. Namun tanganku segera ditepis kasar oleh MUAnya.


"Sabar Mas," ucapnya tanpa rasa bersalah. Ia memberikanku dan Chaca gulungan daun.


Aku memperhatikan dan membolak-balikkannya. Keningku berkerut, sepertinya ini daun sirih. Aku menatap Chaca yang juga bingung dengan benda itu.


"Nah, ini namanya balang gantal, Mas Gandhi sama Mbak Chaca silahkan saling melempar sirih itu. Dalam adat jawa berarti saling melempar kasih sayang," jelas MUA itu.


Kami mengangguk paham, lalu dalam hitungan ketiga aku dan Chaca melempar daun itu bersamaan. Riuh tepuk tangan mengiringi kebahagiaan kami.


"Istriku, aku sangat mencintaimu," ucapku mantap mencium punggung tangannya, lalu beralih mencium keningnya sangat lama dan memeluknya.


"Aku juga sangat mencintaimu, suamiku," balasnya dalam dekapanku, lalu mencium punggung tanganku saat sudah melepasnya.


Aroma bunga melati menyeruak di hidungku. Aku menatap wajahnya lamat-lamat. Tidak ada wanita yang mampu menggantikannya di hatiku.


Tubuh kami masih saling menempel, suasana pun hening. Semua perhatian tertuju pada kami. Kedua bola mata kami saling beradu, sampai pada akhirnya ia meneteskan kristal bening.


"Kenapa menangis, Sayang," tukasku menghapus pelan air matanya karena takut merusak riasannya.


"Aku sangat bahagia, Om. Aku tidak pernah menyangka hari ini akan tiba," ucapnya dengan suara serak.


"Maaf Mbak, Mas nanti bisa dilanjutkan di kamar saja ya. Sekarang harus sungkeman dulu dengan kedua orang tua," celetuk MUA menyadarkan kami.


Chaca tersipu malu, lalu memundurkan langkahnya. Aku hanya menggaruk tengkuk yang tidak gatal karena malu juga.

__ADS_1


Kami menghampiri Mama dan Papa yang sudah duduk di sofa tunggal yang telah disiapkan. Aku meraih tangan Chaca dan menggandengnya berjalan. Sesampainya di depan Mama dan Papa, kami bersimpuh mencium punggung tangan beliau secara bergantian. Kemudian beliau meraih tubuh kami dan menciumi kami.


Isak tangis mewarnai acara sungkeman ini. Mataku turut memerah. Chaca sudah sesenggukan sedari tadi. Aku yakin Chaca pasti teringat dengan Bunda. Karena aku pun sama teringat dengan beliau.


Bunda, kami sangat merindukan Bunda. Gandhi telah menikah dengan Chaca Bun. Apakah Bunda juga melihat kebahagiaan kami? Seandainya Bunda masih ada di sini. Bunda, kami sangat menyayangimu.


Aku menundukkan kepalaku, air mataku turut lolos jatuh ke lantai saat mengingat Bunda. Aku memeluk Chaca, dia menumpahkan seluruh tangisannya tanpa mempedulikan riasannya.


"Mas Gandhi," pekik beberapa orang bersamaan.


Aku terkejut saling pandang dengan Chaca. Kuhapus air mata yang mengalir di pipinya. Lalu mencium keningnya sebelum akhirnya kami membalikkan tubuh.


Mereka berhamburan memelukku dan Chaca. Ini sungguh kejutan! Adik-adik pantiku turut hadir menyaksikan kebahagiaanku. Aku dan Chaca kembali menangis haru karena kedatangan mereka.


"Mas jangan menangis," ucap Intan gadis kecil berusia 5 tahun. Ia menghapus air mataku dengan jemari-jemari mungilnya.


Intan, anak angkat Bunda paling kecil. Dia paling hancur ketika melihat Bunda pergi. Tapi hari demi hari, anak itu menjadi orang paling kuat diantara kami. Dia yakin Bunda sudah bahagia di surga.


Aku berdiri dan mengajak mereka segera makan. Begitupun dengan semua tamu undangan telah dipersilahkan untuk mencicipi hidangan.


"Intan mau makan apa Sayang?" tanyaku berjongkok di depannya.


"Intan mau apa aja Mas," ucapnya tersenyum cantik.


Mataku mengeliling, menangkap Chaca yang sedang bersendau gurau dengan adik-adik lainnya.


"Tunggu di sini ya Sayang, Mas ambilkan," ucapku mencolek hidung mungilnya.


Saat aku sudah kembali dengan beberapa makanan, aku melihat santi yang sedang melamun di dekat jendela. Kuletakkan makanan dan minuman di depan Intan, lalu ia makan dengan lahap.


Dia tumbuh menjadi sosok anak yang mandiri dan tidak pernah bergantung pada orang lain. Ya, Bunda telah mengajarkan semua anak-anaknya menjadi pribadi yang mandiri dan penyayang.


Aku melangkah mendekati Santi. "San," ujarku menepuk bahunya.


Bersambung~

__ADS_1


late update... maapkeen 😘


__ADS_2