Duda Tapi Perjaka

Duda Tapi Perjaka
[Season 2] Induk Ayam


__ADS_3

"Hari ini kamu pulang saja dulu, istirahat. Kalau sudah baikan baru mulai masuk," ucap Gandhi.


Kemudian Gandhi beranjak hendak masuk lagi ke ruangannya. "Sayang, aku kembali dulu. Kalau ada apa-apa telepon lagi ya," imbuhnya membungkuk lalu membelai pipi Chaca.


Chaca menatap suaminya, kemudian mengangguk. Ayu memalingkan mukanya sambil menyeka air matanya. Ia lalu berpamitan pulang terlebih dahulu.


"Hati-hati ya, Mbak. Salam buat Baby El," ucap Chaca.


Ayu mengangguk saja lalu melenggang pergi. Chaca menyusul suaminya ke lantai atas. Gandhi masih berkutat dengan laptop di depannya, menyusun anggaran dana.


Saat ini ia masih mengelolanya sendiri, belum mempercayakan pada seseorang untuk membantunya. Hanya berdua saja dengan istrinya.


Chaca membuka pintu, masuk lalu menutupnya perlahan. Wanita itu melangkah mendekati suaminya, memeluknya dari belakang.


Gandhi mendongak dari kursinya, "Sayang," sapa Gandhi kembali fokus pada laptopnya.


"Kasihan Ayu ya, Mas," ucap Chaca sendu.


"Aku lebih kasihan bayinya, kalau Ayu mah biar dia bisa sadar dan berubah lebih baik lagi." sahut Gandhi malas.


"Euumm ... iya juga sih. Makasih udah jaga hati aku, makin cinta deh," ucap Chaca mengecup pipi suaminya lalu berlari kecil keluar ruangan.


Gandhi hanya menggeleng melihatnya tingkah istrinya. Terkadang seperti anak kecil, kadang dewasa, sulit sekali ditebak.


...----------------...

__ADS_1


Di luar kafe, pria yang menabraknya tadi masih memeriksa motornya di parkiran. Motornya tidak rusak terlalu parah, hanya ada yang retak sedikit. Ia pun tidak terluka karena jatuhnya di rerumputan.


Ketika Ayu baru keluar, pria itu langsung menahannya, mencekal lengan lalu memeriksanya.


"Maaf ya, aku nggak sengaja," sesal pria itu.


"Nggak apa-apa, bukan sepenuhnya kesalahanmu," sahut Ayu melepas tangan pria itu lalu melenggang pergi.


"Tunggu! Aku antar pulang." Pria itu lalu bersiap memutar motornya.


Ayu menolak pada awalnya, namun pria itu gencar mengatakan sebagai tanggung jawabnya. Akhirnya Ayu mau menerima tawarannya.


Di sepanjang jalan, dia terus mengajak Ayu berbincang. Pria yang diketahui namanya Lukman itu sangat humble. Meskipun Ayu hanya menjawabnya malas sepatah dua patah kata saja.


"Mau ngapain?" ketusnya berkacak pinggang.


"Galaknya, macam induk ayam kehilangan anaknya," canda Lukman berlari memutar balik motornya.


"Apa kamu bilang?" teriak Ayu mengambil batu lalu melemparkannya pada Lukman.


Beruntung helmnya bisa menghalau batu itu hingga terpental. Lukman menoleh sambil tertawa.


"Sampai jumpa lagi induk ayam!" pekik Lukman semakin menjauh melambaikan tangan kirinya.


"Dasar gila!" teriak Ayu geram.

__ADS_1


Nenek July yang mendengar keributan keluar rumah, "Ada apa, Nak? Kok ribut-ribut?" tanya sang nenek.


Ayu tersadar segera berbalik dan masuk ke rumah. Nenek July terkejut ketika melihat keadaan Ayu yang tertatih dan lengan yang diperban. Namun, Ayu meyakinkan jika dia baik-baik saja. Ayu juga bercerita bahwa dia sudah mendapatkan pekerjaan.


Nenek July turut senang mendengarnya. Karena lengan Ayu yang cidera, sang nenek menyarankan untuk membelikan susu formula untuk Baby El. Selain Ayu akan kesulitan menggendongnya, ia juga akan kesulitan memompa ASInya.


"Baiklah, Nek. Mau gimana lagi, maafin mama ya, Sayang. Kamu harus minum susu formula dulu," ujar Ayu membelai kepala Baby El yang terlelap dalam tidur siangnya.


Ayu segera bergegas ke minimarket terdekat. Ia membeli salah satu sufor dengan ukuran kecil terlebih dahulu. Takut tidak cocok pada pencernaan Baby El.


...----------------...


Gandhi yang masih sibuk berkutat dengan laptopnya, teralihkan oleh dering ponselnya. Ia lalu mengerutkan kening saat melihat sang penelepon.


"Pak Han? Ngapain ya?" gumam Gandhi bingung.


Gandhi menggeser slide hijau pada ponselnya, lalu menempelkannya pada telinga.


"Halo, Pak?" sahut Gandhi.


"...."


"Apa?!" pekik Gandhi terkejut, lalu berlari mencari istrinya.


Bersambung~

__ADS_1


__ADS_2