Duda Tapi Perjaka

Duda Tapi Perjaka
[Season 2] Produk Gagal


__ADS_3

Malam yang dingin, tidak menyurutkan keinginanku untuk mandi lagi. Aku mengguyur seluruh tubuh di bawah shower yang menyala. Membersihkan sisa-sisa air laut yang mungkin masih menempel pada permukaan kulitku. Rasa lelah pun seolah turut menghilang bersamaan dengan aliran air.


Setelah beberapa saat, aku keluar dengan menggunakan kimono dan handuk kecil di kepalaku. Aku berjalan ke arah lemari, mengambil kaos pendek juga celana kolor. Yang akan kukenakan saat beristirahat.


"Sayang, kamu mau mandi lagi nggak?" ucapku berjongkok di tepi ranjang sejajar dengan kepalanya.


Chaca masih bergeming, tidak bergerak sedikitpun. Aku jadi tidak tega membangunkannya. Lalu aku memutuskan untuk merebahkan tubuhku di samping Chaca.


Berbagi selimut dengan wanita yang telah merebut separuh hidupku. Aku memiringkan tubuh, memandangnya lekat-lekat.


"Apapun akan aku lakukan demi kebahagiaanmu Sayang. Semoga kita terus bersama, mampu melalui setiap cobaan dalam rumah tangga kita kelak," ucapku pelan mengusap kepalanya lembut.


"Aamiin," sahutnya dengan suara serak sambil tersenyum. Ia mencoba membuka kelopak matanya yang terlihat begitu berat.


"Kenapa terbangun? Apa aku mengganggumu? Tidurlah lagi," ujarku menariknya dalam dekapanku. Mengusap punggungnya perlahan.


Chaca menempelkan pipinya pada dadaku. Ia pasti mendengarkan gemuruh yang ada di dalam sana. Yang hanya bisa berisik ketika dekat dengan Chaca.


"I love you, Hubby," tukasnya mengecup bibirku sekilas.


"I love you more, Honey. Libur dulu ya, kamu pasti capek banget," ucapku mengapit dagunya dengan jari jemariku.


Chaca mengerti maksudku, ia mengangguk dan kembali memejamkan matanya. Malam ini, tidak ada pergulatan panas yang terjadi seperti malam sebelumnya. Meskipun aku begitu menginginkannya, namun aku tidak mau Chaca kelelahan.


Kami tidur saling berpelukan. Menyalurkan kehangatan dan kenyamanan satu sama lain. Rasa lelah yang menderaku membuatku terbang ke alam mimpi lebih cepat.


***


Aku terbangun ketika tangan ini tidak menemukan apapun di sampingku. Dengan berat, kedua kelopak mata kubuka lalu menyipit memperjelas penglihatan.


Kosong! Aku terperanjat, lalu mendudukkan diri. Mengumpulkan segenap nyawa yang masih berlarian di alam bawah sadar.


Setelah memastikan kesadaranku telah pulih, aku melihat jam yang menempel di dinding kamar tersebut. Jarum pendek menunjuk angka 1, sedangkan jarum panjangnya berada menunjukkan angka 5.


Berarti masih dini hari. Kemana Chaca?


"Sayang! Kamu di mana?" teriakku menyibak selimut dan menurunkan kedua kaki dari ranjang.


"Cha! Chaca! Sayang!" pekikku lagi sambil berjalan keluar.


"Ya, Sayang!" Terdengar sahutan dari lantai bawah.


Aku melongokkan kepala, melihat dari tepi tangga sambil terus menuruninya. Ternyata ia di dapur. Langkah ini kupercepat segera menghampirinya.

__ADS_1


"Kamu ngapain malam-malam sendirian?" tanyaku ketika sudah berdiri di depannya.


Chaca berdiri dan tersenyum kaku. Kedua tangannya bersembunyi di belakang punggungnya. Membuatku curiga.


"Apa itu, Sayang?" tanyaku mendekat.


"Tidak! Bukan apa-apa!" teriaknya panik menggeser tubuhnya mengikuti setiap gerakanku. Menutupi sesuatu yang ada di belakangnya.


Aku semakin penasaran dibuatnya. "Sayang lihat, ada kucing terbang!" seruku menunjuk ke arah samping.


"Mana? Mana?" sahutnya menoleh mengikuti jari telunjukku.


Sedangkan aku mengambil sebuah mangkuk yang berisi mie instan tapi bentuknya masya Allah. Ini mah lebih cocok disebut tumpukan cacing. Ukurannya yang mengembang menjadi lebih gemuk dari ukuran mie matang normal. Ada rasa tidak tega memakannya.


"Cari aja sampai lebaran kambing, nggak akan ketemu!" celetukku memainkan mie tersebut dengan garpu. Kuangkat tinggi satu suapan.


"Sayang, ini apa?"


Chaca menganga lalu merebut mangkok beserta garpu yang kupegang dengan kasar. Dan meletakkannya di meja. Bahkan sampai isinya berhamburan saking kerasnya. Untung mangkok melamin.


"Kamu bohongin aku! Aku marah!" gerutunya mengerucutkan bibir dan menatapku tajam. Tangannya juga dilipat di depan dadanya.


"Ppffftt! Lucu banget sih istriku satu ini," ujarku mengacak rambutnya gemas.


"Kenapa? Mau ngetawain aku nggak bisa bikin mie instan?" serunya jengkel menatap sembarang arah.


Chaca menurut saja, meski raut wajahnya masih ada kilatan kemarahan. "Bunda dulu belum pernah ngajarin bikin mie," ucapnya pelan namun masih bisa kudengar. Aku hanya tersenyum menanggapinya.


Ia menumpukan kepalanya di meja. Kedua tangannya juga merentang. Entah dia mengomel apa lagi, aku sudah tidak mendengarnya.


Aku sibuk membuatkan nasi goreng untuknya. Eh sepertinya aku ikut lapar, jadi aku membuatnya dua porsi. Setelah berkutat selama beberapa menit, nasi goreng telah terhidang di atas meja makan.


Chaca mengangkat kepalanya, menghirup aroma uap panas yang menari-nari di atas piring itu. Senyumnya merekah, kedua tangannya langsung mengambil sendok dan garpu.


"Makasih Sayang, kamu memang suami terbaik." Chaca beranjak dan memberikan kecupan pada pipiku.


Aku menahan tubuhnya saat hendak duduk kembali, kuraih tengkuknya dan melahap bibirnya yang mungil itu.


"Sama-sama Sayang. Lain kali kalau lapar bangunin aku aja ya," ucapku setelah melepas pagutan kami.


Ia mengangguk lalu mendudukkan tubuhnya dan memakan nasi goreng tersebut dengan lahapnya. Aku pun juga turut melakukannya.


Dari dulu kamu nggak berubah, masih menggemaskan.

__ADS_1


Kemudian, kami kembali tidur lagi. Namun sebelumnya, aku mengajaknya untuk menunaikan salat sunnah tahajud. Sesuai pesan terakhir Bunda, setelah menikah aku selalu mengajaknya salat berjamaah. Baik itu wajib maupun sunnah.


***


Alarm yang selalu berbunyi bertepatan dengan azan subuh, membuatku terbangun. Chaca masih membelitkan lengannya pada perutku. Tanganku meraih ponsel itu dan mematikannya.


"Sayang, bangun!" ucapku menepuk pipinya pelan.


Chaca bergeming, mungkin karena bangun tengah malam membuatnya masih mengantuk. Aku menghujani ciuman pada wajahnya, dan berhasil membuatnya terbangun.


Kedua matanya mengerjap, lalu tersenyum. Aku mengajaknya salat subuh lalu jogging di sekitar resort saat matahari mulai menyembul ke permukaan.


"Ayo, Sayang. Udara pagi di sini seger banget,"



"Iya, Sayang," sahutnya berlari merengkuh lenganku lalu kami berjalan beriringan keluar.


Setelah kurasa Chaca cukup lelah, aku mengajaknya kembali ke resort untuk sarapan. Karena tadi aku sudah memesan makanan.


Aku tidak akan membiarkannya kelelahan. Jadi, aku menggendongnya di punggungku. Dia pun dengan senang hati langsung mengalungkan lengannya.


"Sayang, jangan tidur lagi!" ucapku memperingatkan.


"Habisnya punggung kamu nyaman banget, enak buat rebahan, Sayang," ucapnya terkekeh.


"Memangnya terbuat dari kasur?" candaku menimpalinya membuatnya semakin mengeratkan pelukannya.


Tak lama, kami telah sampai di resort, aku menurunkannya di depan rumah. Chaca berlarian menuju meja makan. Aku menarik kaosnya, membuat langkahnya terhenti. Lalu menoleh ke belakang.


"Jail deh, aku kan lapar Mas," ujarnya cemberut.


"Mandi dulu sana! Semalam kamu belum mandi," perintahku menoleh ke arah kamar.


"Tapi ...."


"Enggak ada tapi-tapi." Aku merengkuh pinggangnya menarik tubuhnya ke lantai atas.


Sepanjang perjalanan menaiki tangga, kedua bola matanya tak terlepas dari meja makan.


'Dasar bocah, kalau urusan makan aja nomor satu,' batinku menggeleng-gelengkan kepala.


Aku menariknya hingga ke kamar mandi. Pada akhirnya sesuatu terjadi. Tidak hanya mandi, namun juga ... ya begitulah. Kami melakukannya, karena semalam sudah libur.

__ADS_1


Bersambung~


Like komennya sayang.... 😚 tengkyu banget buat kalin yg mau vote❤❤❤


__ADS_2