
"Sayang! Aku mau mandi. Lengket semua nih rasanya, masih bau keringat!" teriak Chaca menolah-nolehkan kepala menghindari ciumanku.
"Biarin aja sih, mau mandi mau enggak bagiku kamu tetep mempesona, wangi dan menggoda, Sayang," bisikku terus memberikan menyusuri setiap jengkal leher jenjangnya dengan bibirku.
Chaca menggeliat, kedua tangannya menahan dadaku. Sehingga tidak menindihnya dengan sempurna. Sesapan demi sesapan kuberikan hingga menimbulkan banyak tanda merah pada lehernya. Desahan dan getaran setiap bisikannya membuat gejolak dalam tubuhku semakin meronta.
"Sayang!" desahnya mencengkeram kuat kedua pundakku.
"Iya, Sayang," sahutku bermain-main pada daun telinganya, beralih ke leher dan berakhir pada bibirnya. Kulahap habis bibir itu bergantian atas dan bawah.
Tanganku bergerilya membuka semua pakaian yang melekat pada tubuhnya. Aku beranjak dan buru-buru melepaskan semua pakaianku juga. Lalu meraih tubuhnya membenarkan posisi agar nyaman. Dan penyatuan itupun akhirnya terjadi.
"Aku mencintaimu, Sayang," ucapku di tengah permainan kami.
"Aku juga mencintaimu, Mas," sahutnya.
Hingga lenguhan panjang dari kami menandakan berakhirnya pergulatan panas malam ini. Keringat mengguyur seluruh permukaan kulit kami. Aku mengecup keningnya lama, "Terima kasih, Sayang," ucapku lalu beralih ke sampingnya.
Chaca masih mengatur napas. Ia hanya mengedipkan matanya dan tersenyum. Aku menarik selimut hingga menutupi tubuh kami. Tanganku melingkar pada perutnya, dan melesakkan kepalanya di dadaku.
Kami sempat tertidur sebentar. Aku terbangun ketika perutku meronta ingin segera diisi. Terakhir makan saat di bandara tadi. Chaca masih tertidur dengan pulas.
Aku segera beranjak dengan perlahan, memunguti pakaianku yang antah berantah dan mengenakannya. Kubenarkan posisi selimut untuk menutupi tubuh polos Chaca.
"Sudah jam 9 pantesan keroncongan," gumamku berjalan menuju dapur.
Aku mengecek lemari pendingin, dan aku terkejut karena isinya lengkap. Apa iya Mama menyewa rumah ini termasuk bahan makanannya juga?
Ah, tidak mau memikirkan hal yang tidak penting.
Aku segera mengeksekusi bahan-bahan mentah itu menjadi hidangan makan malam. Dalam waktu kurang dari 1 jam, aku telah menyelesaikan semuanya.
__ADS_1
Kini aku menatanya dalam dua piring, beserta susu dan air putih di atas nampan. Kemudian, aku berjalan perlahan meniti tangga satu per satu dengan hati-hati.
Aku membuka pintu kamar perlahan, berjalan masuk ke kamar. Kuletakkan nampan di atas nakas, kemudian berjalan mendekati ranjang dan duduk di samping Chaca.
"Sayang," panggilku membelai lembut kepalanya.
"Sayang, bangun!" ulangku sekali lagi mengusap bahu mulusnya. Cuma seperti itu aja membuat darahku kembali berdesir dan menegang. Sesuatu sudah mengeras di bawah sana.
"Emm ... jam berapa ini Mas? Aku capek," ucapnya masih memejamkan kedua matanya.
"Sudah hampir jam 10. Ayo makan dulu," tukasku membangunkan tubuhnya, mendudukkannya di ranjang.
Tubuhnya yang masih polos membuatku kembali bergejolak. Aku terus menarik napas dan membuangnya perlahan untuk menetralkannya.
Aku memunguti pakaiannya satu per satu, lalu mengenakan semuanya pada tubuh mungil itu. Ia masih malas beranjak.
Sabar Gandhi ini godaan. Chaca masih lelah. Tahan sebentar ya!
"Sayang, ayo makan dulu. Buka mulutnya!"
Chaca membuka mulutnya dan mulai mengunyah. Tubuhnya masih bersandar pada headboard kasur dan masih terpejam.
Tidak masalah, dengan sabar aku menyuapinya sedikit demi sedikit hingga tandas. Lalu menyerahkan gelas berisi susu hangat padanya.
Ia sudah mulai membuka matanya, kedua bola matanya memerah. Mungkin masih merasa ngantuk. Aku mengacak rambutnya gemas.
Setelah tandas, aku mulai memakan makananku sendiri. Tidak butuh waktu lama, piring dan gelasku sudah kosong. Berpindah ke dalam perutku yang sekarang sudah terasa kenyang.
Aku membawa piring dan gelas kosong ke dapur. Lalu mencucinya dan meletakkannya ke tempat semula. Kemudian kembali lagi melangkah ke kamar.
Aku menggelengkan kepala ketika melihat Chaca kembali tertidur dengan posisi duduk. "Sayang." Aku menangkup kedua pipinya mencium keningnya lama.
__ADS_1
Chaca mengerjapkan kedua matanya. Ia hanya menampilkan senyuman tercantiknya. Tanpa kuduga, ia menarik kepalaku dan mendaratkan ciuman pada bibirku dan mulai melum*tnya.
Tak mau menyia-nyiakannya, aku mendudukkan tubuhku di depannya. Menikmati setiap gigitan dan sesapan dari bibir tipis itu.
Chaca melepaskan pagutan bibir kami dengan napas terengah-engah. Namun masih menahan tengkukku. Hidung kami masih bertabrakan.
"Terima kasih banyak, Mas. Kamu suami terbaik dan terhebat," bisiknya mengecup kembali bibirku.
"Kamu harus tanggung jawab, Sayang!" ucapku memegang kedua bahunya.
Keningnya berkerut, "Tanggung jawab apa?" tanyanya penasaran. Mataku mengerling nakal dan memandang ke bawah.
Chaca membelalakkan matanya, wajahnya bersemu. Namun sejurus kemudian, aku terkejut. Ia membukakan pakaianku.
"Kucingku semakin liar di ranjang," godaku melepaskan pakaiannya juga. Chaca hanya tertawa dan mengerlingkan matanya.
Dan akhirnya kami melakukannya lagi, lagi dan lagi. Entah berapa kali kami melakukannya semalam. Namun tidak ada rasa lelah sedikitpun yang mendera tubuhku.
Justru aku merasa tubuhku begitu ringan, hilang semua kepenatan, kelelahan dan penuh kepuasan. Chaca juga begitu menikmati setiap permainan kami.
"Sayang, bangun. Udah subuh," ucapku menyelipkan rambut ke belakang telinganya.
Kedua bola matanya terbuka, pandangan kami saling beradu. Aku mendekatkan kepala, memberikan kecupan pada seluruh wajahnya. Berakhir pada ******* di bibirnya.
"Morning kiss," tuturku setelah melepaskannya.
"Kamu hebat, Mas," ucapnya menangkup kedua pipiku.
Aku meraih tubuhnya ke dalam dekapanku. "Kamu istimewa, Sayang. Kamu terbaik, aku semakin mencintaimu," tukasku mencium keningnya lama.
Kemudian kami beranjak membersihkan tubuh dan mulai beraktivitas. Hari ini, kami mulai menjelajahi Pulau Moyo yang dikatakan surga tersembunyi di Kota Sumbawa, Nusa Tenggara Barat ini.
__ADS_1
Bersambung~