Duda Tapi Perjaka

Duda Tapi Perjaka
[Season 2] Pergi


__ADS_3

Tubuh Chaca melemas seolah tak bertulang. Ia menangis sesenggukan. Chaca mulai ketakutan, tubuhnya merosot dan terduduk di lantai. Gandhi masih mengatur deru napasnya yang tersengal-sengal menahan amarah.


"Tidak ingatkah kamu, saat kita berjuang mempersatukan cinta kita Cha? Tidakkah kamu ingat kekuatan cinta kita yang hendak meruntuhkan takdir? Namun ternyata Tuhan begitu baik karena menyatukan kita. Tidakkah kamu ingat semua yang kita lalui bersama Cha? Bahkan sampai Bunda menghembuskan napas terakhirnya, beliau berpesan agar aku selalu menjagamu, menikahimu dan membimbingmu," ucap Gandhi bergetar dengan mata memerah.


"Tapi begitu mudahnya kamu mengatakan kata-kata perpisahan, hanya karena keturunan? Apa kamu merasa, aku tidak ada artinya dalam hidup kamu? Sakit Cha, sakit!" ucap Gandhi penuh penekanan sembari menepuk-nepuk dadanya yang terasa amat sesak.


Pria itu mulai menitikkan air mata tanpa dia sadari. Ia merasa gagal menjadi seorang suami, gagal membawa istrinya dalam kebahagiaan. Padahal selama ini dia selalu bersabar, memberi support pada istrinya agar selalu tegar dan kuat menjalani semua cobaan rumah tangganya.


Namun entah kenapa kesabaran itu sudah berada di ambang batas, karena permintaan bodoh istrinya. Keduanya terdiam beberapa saat. Kesunyian malam menambah suasana semakin mencekam. Bahkan dinginnya angin tak mampu mendinginkan hati dan perasaan Gandhi.


Chaca masih hanyut dalam isakannya. Gandhi menghela napas berkali-kali, sampai merasa lega pada rongga dadanya. Ia lalu berjongkok, menggendong tubuh mungil istrinya ke kamar.


Gandhi merebahkannya di ranjang, ia lalu turut bergabung dan menarik selimut untuk menutupi tubuh keduanya. Pria itu memeluk Chaca dari belakang, bersembunyi pada ceruk leher istrinya. Tetesan air mata mulai membasahi leher Chaca.


"Maafkan aku, Sayang. Aku nggak bermaksud membentakmu. Maaf, maaf, aku mohon jangan tinggalkan aku. Aku tidak peduli apa pun lagi. Kamu hidupku, Sayang. Kamu belahan jiwaku. Aku mohon jangan lagi paksa aku untuk melakukannya. Aku tidak bisa. Aku tidak akan sanggup," bisik Gandhi di tengah tangisnya.


Chaca bergeming masih terus menangis, kedua matanya membengkak. Gandhi juga tidak lagi berkata, karena semakin sesak terasa. Lama mereka saling terdiam, masih di posisi semula. Gandhi memeluk erat tubuh Chaca yang membelakanginya.


Keduanya sama-sama tidak bisa memejamkan mata. Mereka termenung dalam pemikiran masing-masing. Jarum jam terus berputar, sampai waktu menunjukkan pukul 02.00 WIB dini hari.


Chaca memutar tubuhnya, mengira suaminya telah terlelap. Namun ternyata ia salah. Sempat terkesiap saat menatap manik mata sang suami yang basah.


"Maafin aku, Sayang," ucap Chaca lirih menyentuh pipi suaminya.


Gandhi memejamkan mata menikmati sentuhan Chaca, ia mengangguk pelan. Tiba-tiba Chaca melepaskan dasi yang masih terpasang di leher Gandhi.


Chaca juga membuka kancing kemeja Gandhi satu persatu disambung celananya. Hingga tidak meninggalkan satu helai benang pun. Setelahnya wanita itu juga melucuti pakaiannya sendiri.


Gandhi terkejut dengan keagresifan Chaca. Ia mencium seluruh wajah sang suami hingga berakhir dengan ciuman panas pada bibirnya.


"Apa ini caramu meminta maaf?" ucap Gandhi saat keduanya hampir kehabisan napas.

__ADS_1


Chaca tersenyum manis menanggapinya. Junior Gandhi sudah mulai terpancing ingin segera beraksi. Chaca masih menjalankan aksinya memberikan banyak tanda di dada dan leher suaminya. Hal itu semakin membuat Gandhi tidak tahan.


Mereka lalu melakukan penyatuan, Chaca nampak begitu bersemangat memuaskan sang suami. Keringat mulai membanjiri tubuh keduanya. Padahal pintu masih terbuka, AC pun masih menyala.


Pergulatan yang cukup panjang itu akhirnya mencapai klimaks bersama-sama. Tubuh keduanya bergetar hebat seolah melayang ke udara. Gandhi mengecup kening Chaca dengan sayang.


"Terima kasih, Sayang," ucapnya.


"Mandi yuk, Mas," tutur Chaca dengan manjanya.


Gandhi mana bisa menolak permintaan istrinya itu. Mereka mandi bersama, meski waktu masih menunjukkan pukul tiga pagi. Keduanya berendam dalam bathup yang berisi air hangat.


"Sayang aku mau lagi," bisik Chaca mencium pipi sang suami.


Gandhi terkejut mendengarnya, ia merasa ada yang aneh dengan istrinya. Namun dia tidak mau negative thinking. Akhirnya ia pun hanya menuruti istrinya untuk melakukan penyatuan lagi di kamar mandi tersebut.


Setelah selesai dengan pergulatan, mereka mandi bersama di bawah kucuran air shower. Saling menggosok dengan sabun juga shamponya. Hingga bilasan terakhir, Gandhi mengambilkan handuk untuk membelit tubuhnya sendiri, tubuh Chaca juga rambut panjang istrinya.


"Sayang, aku aja. Kamu duduk di sini," tandas Chaca mendorong suaminya.


Chaca lalu berganti baju dan mengambilkan pakaian untuk suaminya. Chaca juga mengeringkan rambut Gandhi yang masih basah itu. Menggosoknya dengan handuk perlahan.


"Manis sekali istriku ini," tukas Gandhi mencium kening Chaca setelah berganti baju.


Tak berapa lama, azan subuh berkumandang. Mereka bergegas memgambil air wudhu dan menunaikan salat berjamaah.


Kemudian mereka kembali tidur karena semalaman belum tidur sama sekali. Tidak butuh waktu lama, Gandhi terlelap memeluk Chaca. Wanita itu masih tidak bisa memejamkan mata.


Jemari lentiknya membelai wajah Gandhi, lalu mencium kening, hidung dan bibir sang suami. Dengan perlahan, Chaca melepaskan pelukan Gandhi menggantikan dengan guling.


Chaca berkemas tanpa menimbulkan suara. Ia segera berganti pakaian bersiap untuk pergi. Berat ketika harus berpisah dari suaminya. Namun untuk saat ini dia sedang ingin sendiri. Emosinya yang naik turun takut kembali melukai suaminya.

__ADS_1


"Sayang, maafin aku. I love you," bisik Chaca mencium lama pipi Gandhi.


Chaca hanya membawa beberapa baju di tas ransel yang digendongnya. Ia membuka dan menutup pintu sangat pelan.


Kemudian, Chaca masuk ke kamar Reyhan. Seorang anak yang mengisi kekosongan hari-harinya. Chaca membelai lembut kepala Rey lalu mencium keningnya.


"Baik-baik sama Papa ya, Sayang. Mommy sayang banget sama Rey," tandas Chaca lalu melenggang pergi.


Chaca tidak menggunakan mobilnya, ia juga meninggalkan ponsel. Chaca hanya membawa beberapa lembar uang cash dalam tasnya. Ia naik taksi menuju ke rumah Andra.


Di sepanjang jalan, Chaca terus menangis. Pikirannya kalut sejak bertemu dengan rekan-rekan bisnis Mommy-nya yang menyinggung soal cucu. Padahal Mommy Alice santai saja. Namun ia begitu sensitif dan terus kepikiran.


Sesampainya di rumah Andra, Chaca menekan bel dan mengetuk pintu berulang.


"Mbak! Mbak Amel!" teriak Chaca terus mengetuk.


"Mbak! Ini Chaca!" pekiknya lagi.


Pintu terbuka, terlihat Andra masih acak-acakan dan begitu mengantuk. Andra mengucek kedua matanya sambil menguap.


"Chaca! Ada apa? Mana suamimu?" tanya Andra menengok ke segela arah.


"Mbak Amel ada, Bang?" tanya Chaca merasa bersalah mengganggu istirahat mereka.


"Amel di Jawa Tengah, Cha. Dia diminta pulang orang tuanya. Mertua nggak bisa jauh dari cucunya," tukas Andra masih berdiri di ambang pintu.


Chaca terlihat kecewa mendengarnya, namun seketika dia berbinar. Memaksa Andra menuliskan alamat lengkap mertuanya.


"Bang, please ... tolong kasih alamat Mbak Amel," pinta Chaca memohon menangkupkan kedua tangannya.


Bersambung~

__ADS_1


__ADS_2