
Gandhi dan Chaca terkejut mendengar jeritan mama dan papanya. Xander dan Alice saling pandang, sampai akhirnya Alice menarik salah satu telinga putranya.
"Gadhii! Astaga! Kamu bandel ya dibilangin. Kamu juga udah buat Chaca sampai drop kayak gini! Ngapain repot-repot? Ngapain capek-capek, hah? Kamu 'kan masih ada Mama sama Papa!" geram Alice menjewer telinga Gandhi kuat.
Gandhi meringis kesakitan, kepalanya tertarik mengikuti gerakan sang mama. Chaca ikut meringis, ia ngilu melihatnya.
"Astaga, Ma, sakit. Ini kalau putus nggak ada gantinya, Ma," rengek Gandhi kesakitan.
"Makanya nurut sama orang tua. Kamu mau apa tinggal bilang, jangan turun tangan sendiri! Gimana mau cepet punya baby kalau kalian sering kelelahan gini?" gerutunya melepaskan Gandhi lalu menangkup kedua pipinya.
DEG!
Seketika Chaca membeku ketika mendengar kata bayi. Dalam hati, ia bertanya-tanya sudah hampir satu tahun lamanya kenapa masih belum ada tanda-tanda juga.
'Tunggu, bukankah bulan ini aku belum mendapatkan menstruasi?' batin Chaca bergejolak. Namun ia tidak mau mengatakan apa pun. Karena takut jika hasilnya mengecewakan.
"Gandhi sayang, Mama dan Papa cuma mau kamu menganggap kami ada. Jangan pernah merasa sendiri. Kalian punya kami. Sebagai orang tua, kami pasti mau yang terbaik untuk anaknya," tutur Alice melembut.
Xander hanya diam saja melihat ibu dan anak itu berbicara dari hati ke hati. Karena ia sadar kalau dia yang angkat bicara, pasti hanya emosi yang ada.
Gandhi melepas tangan sang mama dari pipinya. Ia lalu memeluknya erat. Mengusap punggung Alice lembut.
"Maafin Gandhi ya Ma, jika Gandhi egois. Bukan maksud Gandhi tidak menganggap Mama dan Papa. Namun, Gandhi hanya mau memulai semuanya dari nol bersama Chaca. Gandhi mau seperti Mama dan Papa yang sama-sama berjuang dari nol," tukas Gandhi lirih takut menyinggung mamanya.
Gandhi mendudukkan mamanya di sofa. Ia mengambilkan minuman di gelas lalu menyerahkannya pada Alice. "Minum dulu, Ma," tandas Gandhi.
Xander masih terdiam, dia hanya memperhatikan gelagat putranya. Satu hal yang dia sadari, sifat keras kepalanya menurun pada putranya. Xander menghela napas panjang dan membuangnya kasar.
"Gan, di mana rencana kamu buatnya?" Akhirnya Xander angkat bicara setelah merasa lebih tenang.
"Gandhi sewa lokasi di depan Hotel Majesty, Pa," sahut Gandhi.
"Mmm ... lumayan bagus lokasinya, strategis. Papa hargai keputusan kamu. Tapi, biarkan Papa turut menanam modal pada usaha kamu. Tidak ada penolakan atau izin dicabut!" tegas Xander menatap Gandhi tajam.
"Baik, Pa. Terima kasih banyak," desah Gandhi.
Alice yang lebih tenang akhirnya ikut angkat bicara. Ia menyarankan, selain menyediakan makanan, sekalian juga menyediakan oleh-oleh. Dan semua pasokan mengambil dari pabrik-pabrik Alice.
__ADS_1
"Tapi, nanti boleh balikin modalnya 'kan Pa, Ma? Sama aja dong kalau Mama dan Papa yang modal," elak Gandhi menatap kedua orang tuanya bergantian.
"Astaga Gandhi! Keras kepala sekali sih kamu. Persis sama papamu!" celetuk Alice melipat tangannya di dada.
"Kok jadi Papa sih, Ma?" ujar Xander tidak terima.
Mereka berdua berdebat kecil, Gandhi meninggalkan pasangan suami istri itu. Ia melangkah pelan menghampiri Chaca yang tersenyum sedari tadi.
"Pa, gimana rencana kita?" bisik Alice pada suaminya setelah Gandhi melenggang pergi.
"Gimana apanya, Ma? Tetep jalan lah, Ma. Lagian paling nggak butuh waktu minimal setahun, Ma untuk mendirikannya. Kita ikutin aja dulu keinginannya saat ini," sahut Xander berbisik juga.
Alice menganggukkan kepalanya. Mengerti dengan ucapan suaminya. Tak berapa lama, ponsel Xander berdering, ternyata dari sekretarisnya. Ia harus menghadiri meeting sebentar lagi.
"Sayang," panggil Gandhi pelan memegang jemari Chaca dan menciumnya.
"Hmmm," gumam Chaca menatapnya.
"Jadi keganggu ya? Maaf ya." Gandhi merasa tidak enak ia mencium kening istrinya.
"Enggak, Sayang. Aku malah seneng lihatnya. Sebelumnya nggak pernah lihat Mommy dan Daddy seheboh itu," bisik Chaca terkikik pelan.
"Ma, nggak ngantor?" tanya Gandhi saat Alice duduk di seberang Gandhi.
"Mama mau nemenin Chaca dulu, kamu sarapan dulu sana. Biar Mama jagain Chaca. Kamu juga harus jaga kondisi, jangan sampai ikut drop," tukas Alice membelai rambut Chaca.
"Iya, Ma. Gandhi keluar bentar, makasih Ma. Sayang, aku tinggal dulu ya," pamit Gandhi lalu melenggang pergi.
...----------------...
Sore harinya, Gandhi meminta Alice untuk pulang beristirahat di rumah. Karena ia nggak mau mamanya kelelahan. Seharian mereka membahas tentang rencana perkembangan restonya.
Alice merekomendasikan seorang stylish interior handal untuk membuat dekorasi sesuai dengan keinginan mereka. Gandhi dan Chaca setuju, mereka yakin dengan pilihan mamanya pasti yang terbaik. Rencananya akan dilanjutkan ketika Chaca sudah kembali pulih.
"Sayang, aku capek. Pengen pulang," rengek Chaca pada suaminya.
Tidur terus terusan membuat punggungnya terasa panas dan lelah. Gandhi membantu memposisikan bed pasien setengah duduk, meletakkan bantal di punggungnya, lalu mengupaskan jeruk yang disediakan rumah sakit.
__ADS_1
"Sabar, Sayang. Makanya kamu harus cepet sembuh. Biar cepet pulang. Aku udah rindu," goda Gandhi menyuapi jeruk yang sudah siap makan.
"Perasaan berdua mulu tapi masih rindu," cebik Chaca mengunyah jeruknya perlahan.
"Rindu itu, Sayang. Kamu selalu bikin ketagihan," bisik Gandhi tepat di telinga Chaca lalu mencium pipinya
"Isshh, apasih. Perasaan ke sana mulu pikirannya," sahut Chaca mendorong suaminya dengan tersipu malu.
Tak berselang lama, pintu ruangan terbuka. Terlihat, Bryan dan Andin menyembul dari balik pintu. Bryan melangkah cepat mendekati Chaca. Ia hendak merengkuh tubuh wanita mungil itu.
Tapi tentu saja Gandhi tidak tinggal diam. Ia menahan dada Bryan dengan tatapan yang tajam.
"Nggak perlu pake peluk 'kan bisa," geram Gandhi masih menahan tubuh Bryan.
Bryan mengangkat kedua tangannya, "Sorry Bro, refleks. Aku khawatir aja sama Chaca," ucapnya.
Andin diam saja di belakangnya. Ia hanya fokus menatap Chaca yang mencoba menenangkan suaminya.
"Cha, gimana keadaan kamu?" tanya Andin lembut mendekati ranjang Chaca.
Bryan menggeser tubuhnya, Andin meraih tangan Chaca. Ia tak kalah khawatir dengan keadaan sahabatnya itu.
"Udah lebih baik. Makasih ya, Ndin," jawab Chaca dengan seulas senyum.
"Syukurlah," desah Andin penuh kelegaan.
Gandhi masih menatap Bryan dengan aura kewaspadaan. Namun Bryan biasa saja seolah tanpa dosa.
Ia lalu menyerahkan kunci pada Gandhi. Gandhi menerimanya mengucapkan terima kasih dan permohonan maaf karena telah merepotkannya. Seketika ia teringat dengan kebaikan Bryan, sehingga tatapannya sudah lebih bersahabat.
"Eh, Ndin, kalian tadi berangkat ke sini barengan ya?" tanya Chaca menunjuk Andin dan Bryan menatapnya bergantian.
Andin tersentak, ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Eh, itu ... anu, kebetulan ...."
"Iya," potong Bryan cepat.
Bersambung~
__ADS_1
Terima kasih banyak supportnya ❣❣
terima kasih like, komen dan votenya😘