
"Anak siapa?" tanya Chaca cemberut memukul bahuku.
"Hei, aku beneran nggak tau, Sayang," sahutku bingung harus kuapakan anak ini karena sedari tadi menempel padaku terus. Aku juga tidak ingin Chaca salah paham.
Tak berapa lama, ada pengumuman anak hilang. Tanpa bertanya apapun aku menggendongnya menuju pusat pengumuman itu. Tangan kananku menggandeng Chaca. Anak itu masih menangis dan mengeratkan pelukannya.
Aku terkejut ketika kedua mataku menatap seseorang yang begitu aku kenal. Ia mondar-mandir panik dan memarahi petugas di sana.
Apakah ini putranya?
"Sayang, kenapa Mbak Friska panik dan marah-marah di sana? Jangan jangan ...."
"Sepemikiran!" serobotku memotong ucapannya sambil menatap mata indahnya.
Kami mempercepat langkah, tanganku sama sekali tidak melepaskan Chaca. Sesampainya di depan Friska, tampak ada kelegaan dari raut wajahnya.
"Rey Sayang, kamu ke mana aja? Mama khawatir sama kamu?" serunya mencoba mengambil anak itu dari gendonganku.
Namanya Reyhan, aku tahu dari suara pengumuman tadi. Dia malah semakin mengeratkan kedua lengan dan kakinya yang melilit tubuhku.
"Gandhi! Chaca! Terima kasih banyak telah menemukan anakku," ucapnya berkaca-kaca.
Kami masih tercengang karenanya. Aku saling menatap dengan Chaca, sama-sama terkejut.
"Oh, Reyhan yang lucu ini anak Mbak Friska ya. Tadi menangis di loby, Mbak," sahut Chaca.
"Aku ke toilet sebentar tadi, aku minta dia nunggu, malah dia jalan-jalan."
Friska masih membujuk keras agar anaknya mau turun. Tapi segala bujuk rayunya tidak mempan. Aku pun bingung kenapa Reyhan bisa seperti ini?
"Yaudah, kita ajak makan aja Bu. Siapa tahu mau turun," saranku diangguki cepat oleh Chaca.
Friska juga turut setuju. Aku menghampiri seorang pelayan terlebih dahulu, untuk meminta bantuan memasukkan belanjaan yang tergeletak di lantai ke dalam bagasi.
Setelahnya, aku kembali masuk dan melangkah ke area food court. Ya meskipun tadi sudah makan, tapi mau gimana lagi. Jemariku tidak pernah lepas dari Chaca bahkan sesekali menciumnya. Friska tersenyum getir melihatnya. Seperti ada gurat kesedihan mendalam yang sedang ia pendam.
__ADS_1
Kini, kami berempat duduk satu meja. Benar saja, Reyhan mau turun setelah makanan kesukaannya datang. Friska menyuapinya dengan telaten. Aku dan Chaca hanya memesan minuman saja.
"Maafin sikap Reyhan ya Gan, Cha," tukasnya ditengah kesibukannya menyuapi Reyhan.
"Nggak apa-apa, Mbak. Namanya juga anak-anak. Lain kali jangan ke tempat ramai sendirian, bahaya Mbak. Kalau tadi diculik gimana?" celetuk Chaca yang membuat Friska semakin bersedih. Aku segera meremas jemari Chaca lembut, lalu menggelengkan kepala.
Takut kalau ucapannya akan membuat Friska semakin khawatir. Ya, meskipun memang ada benernya sih.
"Iya, aku takut sekali. Karena hanya dia yang aku punya saat ini," ucapnya menitikkan air mata. Namun dengan cepat ia menghapusnya.
Aku mengaduk-aduk minumanku, lalu menyesapnya sedikit demi sedikit. Melihatnya sedih, Chaca jadi merasa bersalah.
"Maaf ya, Mbak. Aku nggak bermaksud membuat Mbak lebih khawatir. Kalau boleh tahu suami Mbak ke mana?" tanya Chaca penasaran.
Friska menghentikan gerakannya. Air matanya tiba-tiba luruh seketika. Reyhan yang melihatnya segera menghapus air mata ibunya dengan jemari mungilnya.
Chaca menyentuh tangan Friska, "Mbak, maaf. Jangan diceritain kalau membuat Mbak terluka," imbuh Chaca lembut.
Aku hanya menjadi pendengar setia di sini. Aku masih sungkan saja. Karena dia atasanku, meskipun ini bukan di lingkup kerja.
Friska menggeleng lemah, "Suamiku selingkuh dengan wanita lain. Bahkan aku melihatnya sendiri mereka bermesraan dan masuk ke hotel. Aku mengikutinya diam-diam, meminta kunci cadangan pada petugas hotel. Mereka bersikeras menolak, namun waktu itu aku memohon dan mengiba." Friska bercerita dengan nada bergetar. Hingga tenggorokannya tercekat.
"Aku ... melihat mereka sedang melakukan pergumulan panas di atas ranjang," ucapnya tidak sanggup melanjutkan ceritanya lagi. Ia menangis pilu, Chaca segera beranjak dan memeluknya, Reyhan juga turun dan memeluk ibunya. Mereka ikut menangis.
Aku juga pernah mengalaminya. Ah jadi teringat lagi 'kan jadinya. Dadaku kembali sesak saat mengingatnya. Aku menghembuskan napas kasar. Berusaha mengusir ingatan-ingatan buruk itu.
Sekarang, aku sudah memiliki Chaca. Wanitaku yang luar biasa, satu-satunya orang yang aku cintai.
"Sabar ya, semoga Mbak akan mendapatkan jodoh yang lebih dan lebih baik dari suami brengsek itu," tukas Chaca mengusap lembut punggungnya.
"Maaf maaf, aku jadi malah curhat," ucap Friska melepas pelukannya dan mengusap sisa-sisa air matanya.
"Nggak apa-apa kok. Justru kalau ada masalah itu jangan dipendam sendiri, Mbak. Aku siap menjadi tempat curhat Mbak. Meskipun nggak bisa bantu menyelesaikan masalah, seenggaknya Mbak merasa lega," tutur Chaca mengusap tangannya lembut.
Friska tersenyum sambil memeluk putranya. "Makasih ya, Cha."
__ADS_1
Chaca menepiskan senyumannya. Kemudian ia berpamitan, karena Reyhan sudah mengantuk. Sebelumnya, Reyhan mencium pipiku.
"Dah Papa," serunya melambaikan tangan.
Aku hanya tersenyum dan membalas lambaian tangan kecil itu. Chaca menatap mereka hingga punggungnya menghilang dari pandangan.
"Ya ampun, kasihan sekali ya Mas. Mbak Friska harus menjadi ibu sekaligus ayah untuk anaknya," tutur Chaca mengiba.
"Kamu nggak marah?" tanyaku mengerutkan kening.
"Kenapa harus marah?" tanyanya sambil menyesap minumannya.
"Anaknya memanggilku Pa-pa." Aku menekankan kata Papa.
Chaca tertawa lalu menggeleng, "Enggak Sayang, mungkin dia rindu dengan Papanya. Itung-itung belajar. Kasihan anak sekecil itu harus kehilangan salah satu kasih sayang orang tuanya," jawabnya santai.
Aku mendesah lega, 'kan jadi makin cinta. Ternyata pemikirannya dewasa. Kemudian, aku mengajaknya segera pulang. Karena hari sudah semakin malam.
Aku merengkuh pinggangnya, agar tidak terlalu jauh. Ia pun melingkarkan lengannya pada pinggangku. Sampailah di depan, aku membukakan pintu mobil untuknya. Lalu berjalan memutar dan masuk pintu sebelah.
"Sayang, besok aku mulai kuliah," ucap Chaca sambil memasang seat belt.
Aku juga melakukan hal yang sama, "Iya Sayang, aku juga sudah harus masuk kerja," sahutku menyalakan mesin mobil.
Sesampainya di rumah, aku menurunkan semua belanjaan dan membawanya masuk. Chaca membukakan pintu rumah dan mengikutiku di belakang.
Aku meletakkannya di meja dapur, lalu membongkarnya. Chaca juga turut membantu memasukkannya ke dalam kulkas. Dan menyimpan semua makanannya ke dalam toples.
Lalu, kami segera membersihkan diri dan berganti piyama. Setelahnya Chaca sudah lebih dulu merebahkan diri di ranjang. Aku melempar tubuhku dengan keras. Hingga terpantul pantul oleh kasurnya.
"Sayang, empuk ya," ucapku menatap langit-langit.
Chaca hanya terkekeh. Ia merebahkan kepalanya di dadaku. Mencium pipi juga bibirku. Karena harus libur, mau nggak mau tanpa ada kegiatan rutin tiap malam nih.
"Sabar ya, Sayang," tukas Chaca mengeratkan pelukan.
__ADS_1
Huft ... sabar Gandhi sabar 6 hari lagi.
Bersambung~