
Mendengar keributan, Alice dan Xander menyusul Gandhi. Langkahnya buru-buru karena khawatir. Melihat Reyhan berjongkok membuat wanita paruh baya itu melangkah semakin cepat.
"Ya ampun, Gandhi Chaca! Apa yang kalian lakukan?" teriak Mama Alice.
"Hai, Sayang. Kamu pasti Reyhan ya. Ini omanya Rey juga, itu opanya Rey," tukas Alice pelan berjongkok di depan Reyhan menunjuk dirinya juga suaminya.
Rey menatap Gandhi penuh tanda tanya. Pria itu tersenyum lalu menganggukkan kepala. Karena cuma Gandhi yang ia percaya. Reyhan lalu memeluk oma barunya itu.
Giliran Xander berjongkok dan merentangkan tangannya, anak itu lalu memeluk Reyhan dengan sayang. Gandhi dan Chaca saling berpelukan di kolam renang. Mereka lega karena mama dan papa mau menerima Reyhan.
"Eh kalian buruan ganti baju sana. Renang kok nggak tahu waktu!" geram Mama Alice.
Gandhi dan Chaca saling pandang dan tertawa. "Rey sama oma dan opa dulu ya. Papa mau ganti baju dulu," tukas Gandhi mengusap puncak kepala Reyhan.
Reyhan mengangguk, Xander lalu menggendong cucu barunya itu masuk ke rumah. Meski Rey masih merasa takut pada Alice dan Xander, namun ia percaya karena ada Gandhi.
__ADS_1
Setelah berganti pakaian, Gandhi dan istrinya segera turun menyusul mereka di ruang makan. Ternyata Rey sudah disuapi oleh Mama Alice. Mereka sudah mulai akrab. Rey bisa beradaptasi dengan cepat karena ketulusan Alice.
Hari-hari berlalu, Gandhi selalu mengajak Rey ke kafe. Anak itu senang sekali, apalagi terkadang Baby El diajak oleh Ayu juga. Ia bersemangat untuk mengajak bayi kecil itu bermain di tempat khusus bayi.
Ketika genap berusia 5 tahun, Gandhi mendaftarkan Rey di Taman Kanak-Kanak dekat dengan kafenya. Agar berangkatnya bisa sekalian dan pulangnya juga tidak terlalu jauh jemputnya.
Sesekali, Pak Han menengok cucunya itu. Terkadang Gandhi juga mengajak Rey ke rumahnya. Pak Han merasa sangat kesepian, karena di rumah sendiri dengan para pembantu. Namun, mau bagaimana lagi. Ia harus menuruti pesan terakhir putri satu-satunya.
Dia tahu, tidak mampu dan tidak mengerti bagaimana cara mendidik atau merawat anak. Mungkin itu alasan Friska lebih percaya orang lain dari pada dia.
Jasad Friska telah ditemukan setelah satu minggu kecelakaan itu. Tubuhnya berhasil diidentifikasi melalui sidik jarinya. Pak Han sangat terpukul harus kehilangan satu-satunya keluarganya.
...----------------...
"Rey Sayang, kalau papa atau mommy belum jemput jangan kemana-mana ya. Jangan pulang atau ngobrol sama orang asing. Jangan mau menerima apapun dari orang yang nggak kamu kenal, mengerti?" pesan Gandhi saat mengantar Rey di depan kelas.
__ADS_1
"Siap, Papa!" sahut Rey bersemangat.
"Good boy, papa tinggal ya. Belajar yang pinter," tukasnya mencium kening Rey.
Rey lalu mencium tangan Gandhi dan berlari masuk ke kelasnya. Pria itu lalu bergegas ke kafe, karena Chaca sekarang memilih membawa mobil sendiri. Dia tidak mau suaminya kerepotan. Apalagi Gandhi masih belum mempercayakan kafenya pada siapapun.
Ayu bekerja dengan sangat baik. Kini, sifat keibuannya terpancar. Apalagi saat ia dengan sabar membantu anak-anak yang sedang asyik bermain.
"Ayu, Baby El nggak ikut?" tanya Gandhi saat melaluinya.
"Enggak Mas. Nenek kangen, mau ajak jalan-jalan katanya," sahut Ayu dengan seulas senyum.
Tiba-tiba ada yang menepuk bahu Gandhi sangat keras. "Sialan kamu, Gan!" serunya.
Gandhi meringis memegangi bahu, lalu memutar tubuhnya melihat orang tersebut.
__ADS_1
Bersambung~
Muuaahh buat yang sukak like komeng ama votenya๐๐๐๐