
Andin mengekori langkah Bryan menuju ruangannya. Dalam hatinya was-was, pikirannya kalut. Takut akan membahas kejadian semalam. Rasa malunya belum memudar dari wajahnya. Andin terus berjalan menundukkan kepalanya.
"Duduk!" titah Bryan setelah ia duduk di kursi kebesarannya.
Andin hanya diam saja. Lalu Bryan kembali mengulangi perintahnya lagi, "Andin, kamu mau duduk sendiri apa mau di pangkuanku sini?" goda Bryan membuat Andin terkejut, buru-buru ia mendudukkan dirinya di kursi depan Bryan. Mereka terhalangi oleh sebuah meja.
"Eee ... ada apa ya, Pak?" tanya Andin pelan.
"Apa kamu tidak merasa kehilangan sesuatu?" tanya Bryan lalu meneguk kopi di cangkirnya.
Andin memutar bola matanya, berusaha mengingat apa kiranya yang dimaksud oleh dosennya itu. Namun dia tidak menemukan jawabannya.
Andin menggeleng pelan, "Tidak, Pak. Eh maksudnya tidak tahu," ujarnya.
"Astaga kenapa kamu ceroboh sekali? Bahkan kehilangan benda berharga saja kamu tidak menyadarinya!" seru Bryan melipat lengannya di dada.
Andin semakin bingung dibuatnya. Ia menghela napas panjang, sebenarnya malas karena Bryan berbelit-belit. Namun ia juga tidak enak jika langsung berpamitan. Akhirnya Andin hanya diam dan menunduk saja.
Hingga, Bryan meletakkan sebuah ponsel di hadapan Andin membuatnya membulatkan kedua bola matanya. Ia benar-benar tidak menyadari jika ponselnya menghilang. Andin segera membuka tasnya, mengobrak-abrik isinya. Dan benar, ternyata ponselnya tidak ada.
"Kenapa?" tanya Bryan meletakkan cangkirnya di meja.
"Hehe ... ternyata itu ponsel saya, Pak," ucapnya meringis malu.
"Kok bisa sih, benda itu biasanya nggak pernah bisa lepas dari tangan perempuan. Stalking lah, belanja, gosip. Tapi kamu seteledor itu? Bahkan hilang saja sampai tidak menyadarinya," decak Bryan geleng-geleng kepala.
Andin meraih ponselnya, lalu meletakkannya di tas tanpa memeriksanya terlebih dahulu.
"Bagiku benda ini tidak masuk prioritas, Pak. Mau ada atau nggak sama saja. Yang lebih penting mah fokus kerja sama kuliah. Tapi makasih banyak ya, Pak," tandas Andin dengan seulas senyum.
"Baru ketemu sama orang seperti kamu. Sama sekali tidak kecanduan gadget di zaman modern seperti ini. Memangnya, pacar kamu nggak nyariin apa?" kagum Bryan pada gadis di depannya.
Bryan merasa nyaman ngobrol dengan Andin. Nada bicaranya pun terasa santai. Mendengar kata pacar membuat Andin tertawa.
"Pacar? Ya ampun, Pak. Mana ada yang mau sama saya? Cuma gadis sebatang kara, yang mati-matian berjuang hidup. Ada-ada saja Bapak ini," jelas Andin lebih santai.
"Aku mau," celetuk Bryan menatap Andin.
Seketika Andin menghentikan tawanya. Matanya mengerjap berulang kali. Ia menajamkan telinga, takut salah tanggap.
"Mau kamu menjadi asinten aku. Dan mulai saat itu juga kamu harus selalu stanby dengan ponselmu. Karena sewaktu-waktu aku akan menghubungi ketika membutuhkanmu. Aku nggak suka orang yang lelet," lanjut Bryan.
Andin sedang mengatur napasnya, karena sedari tadi jantungnya berdegub tidak karuan. Ia mendesah lega, karena tadi sempat berpikiran yang tidak-tidak.
__ADS_1
"Baik, Pak. Kalau gitu saya permisi dulu. Karena masih ada jam kuliah," ujar Andin beranjak dari duduknya.
"Permisi, Pak," imbuhnya membungkukkan tubuhnya. Bryan menjawab dengan sebuah anggukan. Terlihat senyum tipis menyeringai di wajahnya.
Andin keluar ruangan Bryan. Ia terus menghela napas dan menghembuskannya kasar. Andin merutuki dirinya sendiri karena sempat berpikir jika Bryan akan mengatakan cinta padanya.
"Dasar bodoh! Kenapa bisa sampai berpikir ke sana," geram Andin pada dirinya sendiri.
Saat tiba di kelas, Andin segera mendudukkan dirinya ke tempat semula. Chaca memalingkan muka menatap gadis yang sedang menekuk wajahnya itu.
"Kenapa, Ndin?" tanya Chaca.
"Lagi badmood!" sahutnya singkat.
Tak berapa lama, dosen pun datang. Andin seharian merasa kesal, kesal pada dirinya sendiri. Sebenarnya banyak yang ingin Chaca tanyakan, namun ia urungkan. Karena takut akan menambah buruk suasana hati Andin.
'Nanti aja lah nunggu dia goodmood,' ucap Chaca dalam hati.
Tibalah jam mata kuliah terakhir. Seperti pesan suaminya, Chaca mengirimkan pesan 30 menit sebelum pulang. Gandhi yang membaca pesan tersebut segera melajukan mobilnya ke kampus.
Gandhi sampai di kampus sepuluh menit sebelum Chaca keluar. Ia menunggu di mobil sambil memainkan ponselnya. Ternyata ada yang langsung berminat dengan rumahnya. Padahal baru beberapa jam yang lalu ia mempostingnya.
Tawar menawar akan dilakukan setelah calon pembeli tersebut melihat langsung rumahnya. Gandhi meletakkan ponselnya, ia lalu keluar dan bersandar di mobil.
Gandhi tersenyum melihat tingkah istrinya yang kekanakan itu. Ia semakin gemas dibuatnya. Gandhi memeluk sang istri, lalu memberikan kecupan mesra pada kening Chaca. Andin turut tersenyum sambil menggelengkan kepala melihatnya.
"Udah lama nunggunya?" tanya Chaca menatap suaminya.
"Mau selama apa pun kalau nungguin kamu nggak akan terasa, Sayang," sahut Gandhi mencubit puncak hidung istrinya.
Gandhi merengkuh pinggang istrinya, lalu membukakan pintu mobil untuk wanita kesayangannya itu.
"Makasih, Sayang," ucap Chaca mengenakan sabuk pengaman.
Gandhi setengah berlari menuju ke arah kemudi. Pandangan Chaca lurus ke depan. Ia menepuk jidatnya lalu membuka sabuk pengaman lagi.
"Astaga!" decaknya hendak turun dari mobil.
"Kenapa, Sayang?" tanya Gandhi penasaran.
"Sayang sebentar, aku lupa pamitan sama Andin," pamit Chaca turun lagi dari mobil.
"Yaampun, kucingku. Gemas sekali rasanya," gumam Gandhi menyalakan mesin mobil.
__ADS_1
Tampak Chaca bersenda gurau dengan teman perempuannya. Dia meminta maaf, lalu berpamitan dan berpelukan dengan Andin. Chaca kembali ke mobil, dimana Gandhi telah menunggunya.
"Udah?" tanya Gandhi mengusap lembut rambut Chaca.
Wanita itu tersenyum, lalu menganggukkan kepalanya. Ia segera mengenakan sabuk pengamannya. Gandhi mulai melajukan mobil perlahan. Chaca menurunkan jendela lalu saling melambai dengan Andin yang sedang menunggu angkutan umum.
Setelah cukup jauh, Chaca kembali duduk dengan benar lalu menutup kembali jendela mobil itu.
"Itu yang namanya Andin ya?" tanya Gandhi meraih tangan Chaca.
"Iya, Sayang. Eh tapi aku curiga sepertinya ada sesuatu deh antara dia sama Bryan," ujar Chaca memalingkan muka pada suaminya.
Gandhi mengecup tangan istrinya, "Ya bagus dong Sayang, berarti dia udah bisa move on," ucapnya.
"Sayang, kita ke rumah lama dulu ya. Ma ...."
"Mau ngapain? Kamu pengen ketemu Mak Lampir?" geram Chaca memotong ucapan Gandhi cepat.
"Astaga, enggak sayangku. Aku mau jual rumah itu," sahut Gandhi membelai puncak kepala Chaca.
Chaca mengerutkan kening, "Loh, bukannya rumah itu kamu kasih ke dia, Mas?" ujarnya melunak.
Gandhi menjelaskan pada Chaca apa yang terjadi tadi. Termasuk, tentang Ayu yang sekarang tidak tahu keberadaannya.
"Yaampun, kok kasihan ya sama Mak Lampir. Dia 'kan lagi hamil, tega banget sih suaminya," gumam Chaca prihatin dengan apa yang menimpa pada Ayu.
"Jangan terlalu dipikirkan. Doakan saja semoga dia dan bayinya baik-baik saja," ujar Gandhi pelan.
Chaca melepaskan sabuk pengamannya. Gandhi terkejut, ia memeluk suaminya erat. Gandhi tetap fokus mengendalikan setirnya. Sesekali mencium puncak kepala istrinya.
"Sayang, jangan pernah tinggalin aku," ucap Chaca manja mengeratkan pelukannya.
"Itu hal paling bodoh jika aku melakukannya," sahut Gandhi serius.
"Aku semakin mencintaimu." Chaca memberikan ciuman pada pipi Gandhi sebelah kiri.
"Aku lebih lebih mencintaimu, Sayang. Balik lagi sana, bahaya. Nanti kita ketangkap polisi," sahut Gandhi mengusap pipi Chaca lembut.
Chaca menuruti ucapan Gandhi, ia kembali duduk dengan benar dan mengenakan sabuk pengaman lagi.
Bersambung~
Ciieee double up.
__ADS_1