Duda Tapi Perjaka

Duda Tapi Perjaka
[Season 2] Jadikan Pembelajaran


__ADS_3

"Maaf Tuan, Sa--saya sudah memecat Tuan Gandhi," ucap Handoyo pelan.


Xander mengeratkan rahangnya masih menunggu pengakuan selanjutnya, namun Handoyo tak kunjung berucap. Hanya terus menunduk, tidak berani mengangkat kepalanya sedikit pun.


Susah payah Handoyo menelan salivanya, ia merasa hidupnya akan segera berakhir.


"Lupa yang lainnya? Mau saya ingatkan?" tanyanya tepat di telinga Handoyo, sehingga membuat merinding seketika.


"Biar saya bantu ingatkan, kamu sudah mencoreng nama baik anak saya! Kamu membiarkan anak saya dibawa oleh polisi atas kesalahan yang tidak pernah dia lakukan! Meskipun seandainya Gandhi bukan anak saya, tidak seharusnya kamu bersikap seperti itu!" teriak Xander geram mengacungkan jari telunjuk di wajah Handoyo.


Gandhi, Alice dan Chaca terkesiap mendengar teriakan Xander. Alice segera menghampiri suaminya, ia meraih lengan lelaki itu.


"Pa," isyarat Alice agar menurunkan nada bicaranya.


"Sebagai atasan harusnya melindungi dan menjamin bawahannya. Bukan semena-mena dan mengambil keputusan sepihak tanpa melihat benar dan salahnya!" pekiknya lagi.


Handoyo berlutut dan masih menunduk. "Saya mohon maafkan saya, Tuan," ucapnya bergetar penuh sesal.


"Besok, saya tarik semua saham saya. Asisten saya akan mengurus semuanya!" tegas Xander.


"Pak Handoyo, saya juga menarik kerja sama dengan hotel Anda. Terus terang saya kecewa dengan kepemimpinan Anda," ucap Alice pelan namun penuh ketegasan.


Xander adalah pemegang saham tertinggi di hotelnya. Dialah yang membantu Handoyo mulai merintis pembangunan hotel tersebut. Selama ini Xander dan Alice selalu melimpahkan wewenang kepada para asistennya ketika ada meeting apapun itu.


Sehingga Gandhi tidak pernah bertatap muka dengan para pemegang saham di hotel tersebut. Dan juga memang bukan tugasnya berurusan dengan para pemegang saham atau pihak-pihak yang bekerja sama. Dunia Handoyo seakan runtuh, tubuhnya semakin lemas mendengarnya.


"Sayang, kamu di sini aja ya. Aku ke sana sebentar," ucap Gandhi mencium kening istrinya sebelum akhirnya melenggang pergi.


"Pa, ada apa? Pak Han bangun Pak," ucap Gandhi meraih lengan Handoyo. Namun pria itu bergeming.


"Saya rasa itu bisa menjadikan pembelajaran buat kamu. Agar ke depannya tidak semena-mena terhadap bawahan dan tidak sembarangan meng-judge seseorang bersalah," ucap Xander menurunkan nada bicaranya.


"Tuan, tolong jangan tarik saham dari hotel saya. Saya janji tidak akan mengulanginya lagi. Tuan Gandhi saya mohon maafkan saya, " ujar Handoyo pelan menangkupkan kedua tangannya.


Gandhi membelalakkan matanya. Terkejut ketika mendengar sang papa hendak menarik semua sahamnya. Ia berjalan mendekati Xander.

__ADS_1


"Pa, tolong jangan lakukan itu. Apa Papa tidak memikirkan imbasnya? Bagaimana nasib para karyawan di sana?" tutur Gandhi menyentuh lengan Xander.


"Mereka bisa bekerja di perusahaan Papa!" tandasnya seolah tidak menerima alasan.


Gandhi menggelengkan kepalanya, "Pa, tidak semudah itu. Termasuk Gandhi sendiri pun belum bisa. Para karyawan sudah menemukan kenyamanan mereka di sana. Di perusahaan yang Papa tawarkan, mereka harus beradaptasi lagi dengan lingkungan baru, pekerjaan baru, teman-teman baru. Belum tentu mendapatkan kenyamanan yang sama, Pa," jelas Gandhi.


Alice dan Xander tercengang, mereka menggelengkan kepalanya. Heran dengan sikap putranya itu. Ia tidak egois dalam mengambil keputusan.


"Pa, masalah pemecatan itu memang sepenuhnya kesalahan Gandhi. Sewaktu honeymoon kemarin, Gandhi mematikan ponsel selama satu minggu penuh. Tidak menyentuh pekerjaan sama sekali. Padahal pengajuan cuti cuma 3 hari sewaktu akad saja. Ini memang pantas Gandhi dapatkan terlepas Gandhi anak papa atau bukan, memang sudah konsekuensi yang harus didapatkan oleh karyawan yang tidak bertanggung jawab. Tolong jangan tarik saham Papa dan Mama," imbuh Gandhi lagi.


Xander dan Alice mendesah pelan. Mereka kagum dengan pemikiran Gandhi yang selalu berpikir sebab akibat sebuah tindakan. Tidak egois dan juga tidak pernah menyimpan dendam.


"Pa, aku bangga dengan Gandhi. Aku juga sangat berterimakasih sama Ibu Hanin telah mendidik anak kita menjadi seperti ini," ucap Alice pelan merangkul lengan suaminya. Xander mengangguk mengiyakan.


Gandhi berjongkok menyamakan tingginya dengan Handoyo, ia menyentuh kedua bahu pria paruh baya itu.


"Pak, bangun," ucap Gandhi lagi. Handoyo menggelengkan kepalanya. Gandhi menatap kedua orang tuanya memohon.


"Baiklah kali ini kami memaafkanmu Han. Saya harap kamu bisa bersikap lebih baik ke depannya. Bangunlah," tukas Xander pelan.


"Terima kasih banyak Tuan, Nyonya, sekali lagi mohon maafkan saya," ucapnya menjabat tangan keduanya. Xander hanya menganggukkan kepala.


"Semoga Anda bisa lebih baik lagi ya Pak Han," tandas Alice membalas jabat tangan pria itu.


Handoyo berpamitan pulang. Ia begitu lega, juga merasa sangat berterima kasih kepada Gandhi. Atas kebesaran hatinya, hotel yang dirintis dari nol bisa terselamatkan.


"Sayang, ada apa sih?" tanya Chaca menepuk pundak suaminya.


Ia kemudian bergelayut manja di lengan Gandhi. Pria itu mengusap puncak kepala istrinya. "Nggak apa-apa, Sayang," ucap Gandhi pelan.


"Papa bangga sama kamu," tukas Xander merangkul putranya.


Gandhi membalas pelukan papanya dengan satu tangan karena tangan lainnya dipegang erat oleh Chaca. Wanita itu bingung namun ia tidak mau ikut campur.


"Gandhi 'kan nggak ngapa-ngapain, Pa," tutur Gandhi pelan.

__ADS_1


Xander melepaskan pelukan, menepuk bahunya. "Udah sana istirahat. Kasian Chaca udah pucat gitu," tutur Xander.


Akhirnya Gandhi dan Chaca berpamitan ke kamar dulu. Gandhi membantu memegangi gaun Chaca dari belakang saat menuruni dan menaiki tangga.


"Ya ampun ini dibuat dari apa ya, kok seberat ini sih Sayang. Kamu pasti keberatan ya," gerutu Gandhi menaiki tangga ke kamarnya.


"Namanya juga gaun, Sayang. Ya berat pasti, tapi 'kan biar kelihatan cantik, Sayang," terang Chaca terus melangkah pelan dengan pandangan fokus ke depan.


Chaca sesekali melirik Gandhi di belakangnya yang kerepotan menangkup gaun yang sedang ia kenakan.


"Kamu sangat cantik istriku, apalagi kalau nggak pakai baju bertambah cantik," celetuk Gandhi.


Chaca menghentikan langkahnya tiba-tiba. Ia melayangkan tatapan tajam pada suami mesumnya itu.


"Ma--maksudnya kamu pakai baju apa aja tetep cantik, Sayang. Nggak hanya gaun segede ini, pakai baju tidur tanpa make up aja udah cantik banget," jawab Gandhi gugup.


Mereka melanjutkan langkah, hingga sampai di kamar. Tidak dihias lagi seperti malam pertama dulu. Jika mengingatnya, mereka senyum-senyum sendiri.


"Sayang, bantu bukain gaunnya," seru Chaca ketika Gandhi baru saja merebahkan tubuhnya.



Ia bergegas bangun, berdiri di belakang Chaca. Gandhi kebingungan, tidak tahu cara membukanya. Jemarinya meraba punggung Chaca yang sedikit terekspose. Sentuhan suaminya justru malah membuat Chaca merinding.


"Sayang, jangan diraba-raba!" pekiknya berbalik menatap suaminya.


"Hei, aku cari jalan buat bukanya, Sayang," elak Gandhi.


"Itu tinggal lepasin talinya, Sayang, nggak perlu pakai acara diraba, geli tau!" seru Chaca kembali menghadap ke depan.


"Ya maaf, 'kan nggak tahu ujungnya," sahut Gandhi berusaha melepaskan gaun itu.


Saat berhasil melepaskannya, Gandhi menelan ludah melihat kemulusan punggung istrinya. Chaca sibuk melepaskan lengan gaunnya. Ia terkesiap dan menggeliat saat Gandhi menempel di belakangnya sambil terus mengecup bahunya.


"Sayang, liburnya udahan 'kan? Ini udah hari ke-7." Gandhi menopangkan dagu pada pundak Chaca. Ia melingkarkan tangan pada perut ramping istrinya itu.

__ADS_1


Bersambung~


__ADS_2