
Ayu terdiam, tidak berani bergerak sedikitpun. Nasib sial mungkin sedang menimpanya. Andra menghampiri Gandhi hendak menanyakan sesuatu. Gandhi pun bergeming, tak berucap satu kata pun.
Andra semakin dekat, lalu merangkul bahu Gandhi. Dan saat berbalik ia terkejut melihat Ayu berdiri di depannya. Tawanya terhenti seketika.
"Ayu!" seru Andra menaikkan dagu Ayu. Wajahnya sudah sembab karena air mata.
Andra lalu memeluk sepupunya itu. "Astaga, kamu kemana saja? Tante Rika nyariin kamu kemana-mana, bagaimana kabarmu selama ini?" cerca Andra melepas pelukannya.
'Jadi selama ini, ibu nyariin? Aku pikir dia sudah tidak peduli lagi denganku,' ucap Ayu dalam hati.
Gandhi meminta mereka agar berbicara di ruangannya. Karena pengunjung kafe mulai berdatangan. Ayu pasrah saja, mungkin sudah saatnya bertemu dengan keluarganya.
"Kamu tinggal di mana? Dan, kamu ternyata sudah lahiran? Mana bayi kamu?" tanya Andra ketika mereka sudah duduk saling berhadapan. Gandhi meninggalkan mereka, memberikan waktu dan ruang bagi keduanya.
Ayu lalu menceritakan kisah pilunya selama ini. Diabaikan suami dan ibu mertua, berjuang melalui kehamilan dan melahirkan sendiri. Andra terkejut, tidak menyangka semua terjadi pada sepupunya itu.
Beberapa hari kemudian, Ayu diantar oleh Andra pulang. Bersama Baby El dan juga Nenek July yang selama ini merawatnya. Ayu juga tidak jadi resign karena ia sadar kebutuhannya semakin banyak. Saat itu dia hanya terbawa emosi saja.
Mereka telah menginjakkan kaki di halaman kediaman rumah orang tua Ayu. Lama ia berdiri, memori kepalanya berputar dari awal pertemuan dengan Gandhi, sampai ia dinikahi oleh Anjar. Rasa bersalah sekaligus malu masih tertanam kuat di hatinya.
"Ya Tuhan ... anakku, Ayu!" jerit Ibu Rika berlari keluar saat tak sengaja hendak keluar berbelanja.
"Ibu," sahut Ayu pelan dengan mata berkaca-kaca.
Keduanya saling berpelukan erat dan saling menumpahkan air mata. Rasa rindu menyeruak selama satu tahun lebih kini telah terobati. Saat melepas pelukannya, Ibu Rika mencium seluruh wajah Ayu tak tersisa sejengkal pun.
Kemudian, Ayu meminta Nenek July yang sedang menggendong Baby El. Ibu Rika menutup mulutnya karena tidak menyangka sekarang, ia sudah menjadi seorang nenek.
"Ini cucu ibu, namanya Baby El," tukas Ayu memperkenalkan.
"Cucuku, sudah besar. Maafin nenek ya nak, maaf. Nenek tidak menjagamu saat baru lahir bahkan sampai sebesar ini," pekik Ibu Rika lalu meraih cucu gembulnya dalam dekapannya, menciumi dan terus memeluknya.
Bayi yang sudah 8 bulan itu tertawa gemas melihat sang nenek. Meskipun tidak pernah mengenalnya, tapi bayi itu mampu mengenali keluarganya.
Berakhir sudah drama keluarga itu di meja makan. Ibu Rika belum mau menanyakan apa pun. Ia ingin Ayu suatu saat nanti menceritakan sendiri apa yang dialaminya. Dia tidak mau merusak suasana kebersamaan yang baru saja terjalin.
Ibu Rika meminta Ayu untuk tinggal bersamanya. Ayu menyutujui namun dengan syarat Nenek July ikut bersamanya. Pada awalnya, Ibu Rika menolak namun setelah menceritakan betapa berjasanya sang nenek dalam kehidupan Ayu, ia menerima dengan tangan terbuka.
__ADS_1
...----------------...
Dua tahun kemudian ....
Chaca telah menyelesaikan studynya. Sehingga ia kini bertugas mengelola kafe tersebut bersama Andra. Sedangkan Gandhi dipaksa oleh orang tuanya untuk memimpin hotel yang didirikan beberapa waktu silam.
Hotel tersebut letaknya agak jauh dari rumah. Sehingga Gandhi sering pulang larut malam. Karena hotelnya masih baru dibuka, ia terus memantau setiap hari. Bahkan saat weekend sekalipun.
Pagi ini, mereka sedang di meja makan. Rey kini sudah duduk di bangku sekolah dasar. Chaca yang bertugas mengantar jemput anaknya itu. Karena hotel Gandhi tidak searah.
"Sayang, nanti pulangnya jangan malam-malam ya. Ada yang mau aku bicarakan," tukas Chaca sembari merapikan dasi anaknya.
"Emmm ... semoga nggak ada meeting dadakan ya, Sayang," sahut Gandhi melahap nasi goreng buatan istrinya.
Chaca mengulas senyum, ia sedang mempersiapkan bekal untuk Reyhan. Anak itu pun makan dengan lahap. Chaca sudah bisa memasak sendiri, meski hanya makanan sederhana saja. Tapi itu sebuah kemajuan.
Ketiganya lalu menikmati sarapan mereka, sesekali Rey menceritakan keseruannya di sekolah. Canda tawa memenuhi seisi ruang tersebut.
"Berangkat dulu ya, Sayang. Takut kejebak macet," ucap Gandhi beranjak mencium kening istrinya lalu beralih pada kening putranya.
"Bos telat nggak masalah deh," cebik Chaca bersungut kesal.
"Sabar ya, Sayang. Kalau keadaan hotel sudah stabil nanti pasti banyak waktu luang. Dan lagi, bos 'kan harus memberi contoh yang baik sama bawahannya." Gandhi memeluk Chaca dari belakang. Memberikan kecupan pada puncak kepalanya.
"Rey nggak lihat, Pa," celetuk Reyhan menahan tawa menatap piringnya.
Gandhi tertawa karena keusilan anaknya. Ia lalu mengacak gemas rambut Rey, kemudian segera bergegas. Chaca dan Rey mencium punggung tangannya terlebih dahulu.
"Rey, Sayang. Sudah siap?" tanya Chaca membereskan piring kosongnya. Namun segera disergah oleh Bi Maemunah, salah satu asisten rumah tangganya.
"Berangkat, Mom," seru Rey bersemangat.
"Makasih ya Bi, maaf saya tinggal dulu," tukas Chaca dengan senyumannya.
"Sudah tugas saya, Nyonya. Hati-hati, Nyonya," sahut sang Bibi.
Setelah mengantar Rey ke sekolah, Chaca segera bergegas ke kafe yang ternyata sudah ramai pengunjung.
__ADS_1
...----------------...
Malam harinya, Chaca pulang lebih awal. Ia mengajari Rey belajar, lalu membacakan dongeng hingga anak itu tertidur. Chaca lalu menyalakan lampu tidur dan mematikan lampu utama.
Ia segera masuk ke kamarnya, waktu sudah menunjukkan pukul 20.00 WIB. Suaminya masih belum pulang juga. Chaca gelisah, ia mondar mandir di balkon kamarnya.
Entah sudah berapa lama ia bersandar pada pembatas balkon. Menikmati udara malam yang semakin dingin menusuk. Tiba-tiba, dua tangan kekar memeluk perut rampingnya.
"Maaf, Sayang aku terlambat. Ada masalah sedikit tadi di hotel," ucap Gandhi mencium ceruk leher Chaca.
"Apa kamu sedang sibuk dengan wanita lain?" tukas Chaca berkaca-kaca.
Gandhi melepas kan pelukannya. Terkejut dengan pertanyaan istrinya. Ia memutar tubuh istrinya cepat.
"Apa maksud kamu, Sayang?" tangkas Gandhi mengusap air mata yang mengalir di kedua pipinya.
Perasaan seorang istri yang sudah lama menantikan kehadiran sang buah hati. Ditambah suami yang sering pulang larut malam, membuat pikiran Chaca berkelana kemana-mana.
Chaca sudah berhenti pengobatan sejak setahun yang lalu. Ia sudah lelah, karena tak kunjung ada hasilnya. Gandhi pun mendukung apa pun keputusan Chaca. Pria itu tidak pernah mempermasalahkannya.
"Aku nggak apa-apa kok kalau kamu mau menikah lagi, Mas," ucapnya dengan isakan tangis yang mulai pecah.
"Jangan gila kamu, Cha!" bentak Gandhi penuh amarah.
Chaca terkesiap, detak jantungnya bergemuruh kencang. Ini pertama kalinya Gandhi membentak Chaca, sesak rasanya. Air matanya semakin tak tertahankan.
Tubuh dan pikiran Gandhi sudah sangat lelah, ditambah penyambutan istrinya yang cukup menggores hatinya membuat Gandhi terpancing emosi.
"Mau sampai kapan kamu sabar menunggu? Aku nggak bisa memberikan kamu keturunan. Carilah wanita lain yang bisa menjadi ibu dari anakmu. Menikahlah lagi, Mas." Tubuh Chaca bergetar mengatakannya. Kedua manik matanya basah oleh air mata.
"Chaca! Sampai mati pun aku tidak akan pernah melakukannya. Aku hanya mencintai kamu. Hanya kamu! Jangan memintaku melakukan hal paling bodoh!" teriak Gandhi menendang meja kayu di depannya.
Chaca terlonjak, selama hidup bersama Gandhi tidak pernah berteriak kepadanya. Gandhi selalu sabar dengan semua tingkahnya. Tapi hari ini, ia menemukan sisi lain Gandhi.
"Tinggalkan aku, Mas," ucapnya sesenggukan.
Bersambungš¤§
__ADS_1
Percayalah, sependiam-pendiamnya orang, sekalem-kalemnya orang itu lebih menakutkan ketika marah dibandingkan orang bar-bar atau orang pemarah.