Duda Tapi Perjaka

Duda Tapi Perjaka
[Season 2] Merajuk


__ADS_3

Chaca mencubit lengan suaminya. Heran, kenapa di otaknya selalu saja itu yang dipikirkan. Gandhi mengaduh, mengusap lengannya pelan.


"Ampun, Yang! Astaga KDRT nih," gumam Gandhi.


"Biarin, salah sendiri mikirnya itu terus, mungkin harus aku cuci dulu nih isi kepala kamu, Mas, pengen tak hiiih!" cebik Chaca dengan kesal mengacak rambut suaminya.


"Boleh, cucinya wajib pakai deterjen cinta dan pewanginya pakai kasih sayang," canda Gandhi mencubit puncak hidung sang istri.


"Sayang! Kita ke panti yuk. Udah lama nggak ke sana, aku kangen adik-adik," pinta Chaca bersandar di lengan Gandhi.


Gandhi mendesah, lalu melarangnya dengan tegas. Pria itu meminta Chaca agar beristirahat dulu. Karena masih dalam masa pemulihan. Awalnya Chaca menolak, namun ia juga tidak bisa membantah suaminya. Meskipun ia sadar, kemungkinan jika di panti Chaca mampu melupakan sejenak dengan apa yang dialaminya.


"Udah, yuk pulang. Besok aja ke sananya. Kamu harus banyak istirahat," ujar Gandhi menarik lengan Chaca.


"Ya udah," dengus Chaca kecewa.


Dengan gontai, Chaca berjalan mensejajarkan langkah suaminya menuju ke parkiran. Seperti biasa, Gandhi membukakan pintu untuk wanita kesayangannya. Lalu mengenakan sabuk pengaman.


Gandhi mencium bibir mungil Chaca yang terus cemberut dari tadi. Ia mengusap puncak kepala Chaca, "Besok aja ya, Sayang," tukas Gandhi lalu menutup pintu mobil.


Ia segera berlari ke seberang duduk di balik kemudi. Gandhi mulai memacu mobilnya dengan perlahan. Sepanjang jalan, Chaca hanya diam memandang keluar jendela.


Gandhi menghembuskan napasnya kasar. Ia tahu istrinya sedang merajuk. Tapi itu semua ia lakukan demi kebaikan Chaca.


...----------------...


Hari-hari berlalu, Gandhi semakin ekstra menjaga dan memperhatikan Chaca. Dia sudah mulai bisa berangkat kuliah seperti biasa. Gandhi juga mulai disibukkan pembangunan restonya. Meskipun begitu, dia tetap memantau Chaca.


Dari modal yang diberikan Xander, Gandhi memutuskan membeli lahan dan bangunan tersebut. Kemudian ia membangun lantai dua agar lebih luas lagi.

__ADS_1


Gandhi bekerja sama dengan arsitek, desain interior dan kontraktor yang terpercaya dan terkenal bagus setiap pengerjaannya.


Sore ini, sepulang kuliah Chaca ingin sekali ke Panti. Sejak kepulangannya dari rumah sakit sampai sekarang belum kesampaian ke sana, karena kesibukan Gandhi.


Tak terasa, mereka sudah hampir sampai di rumah. Gandhi menghentikan mobilnya di taman dekat rumah. Pria itu hafal sekali, jika makanan dapat mengembalikan mood Chaca. Benar saja, mata wanita itu langsung berbinar.


"Ayo, turun. Tapi cari makanan yang sehat dan bergizi. Nggak boleh sembarangan!" tegasnya memperingatkan Chaca.


Chaca mengangguk bersemangat, keduanya lalu turun. Gandhi menghampirinya dan menautkan jemarinya. Mereka berjalan menikmati keasrian taman yang rindang dan tidak banyak polusi itu.


Gandhi menyuruhnya duduk di kursi, sedangkan dia bertugas untuk memilih makanannya. Karena kalau Chaca memilih sendiri, tentu saja akan diborong semuanya tanpa memperhatikan gizinya.


Chaca sedang memainkan ponselnya, tiba-tiba Reyhan berlari ke arahnya. Anak itu mengejutkannya, bersandar di kaki Chaca. Mereka hampir setiap sore bertemu.


Karena taman itu sangat bagus untuk kesehatan Chaca. Tidak banyak polusi udara maupun rokok, dan udaranya juga sejuk. Oleh karena itu, Gandhi selalu mengajaknya jalan santai di taman. Sedangkan Reyhan memang selalu bermain di sana setiap sorenya.


Pasangan suami istri itu pun menyambutnya dengan tangan terbuka. Itung-itung buat latihan, pikir keduanya.


"Hai, Sayang! Kamu makin tinggi aja sih sekarang!" ujar Chaca gemas menjawil kedua pipi anak gembul itu.


"Iya dong, kan sekarang Reyhan udah besar," sahutnya mengangkat kedua lengan dan mengepalkan di udara.


Chaca dan Gandhi memang semakin akrab dengan anak itu. Reyhan sudah berusia hampir 5 tahun. Ia sudah mengerti jika Gandhi bukan papanya, namun anak itu tetap saja suka menyebutnya dengan panggilan itu. Padahal mamanya sudah melarang keras.


"Papa lagi beli jajan banyak. Kamu sama siapa, Nak?" tanya Chaca mendudukkan Reyhan di sampingnya.


"Sama Bibi aja Tan, Mama sibuk terus," jawab Reyhan dengan mencebikkan bibir.


"Kamu makin pinter yah, sekarang jadi banyak bicaranya," ucap Chaca mengacak rambut Reyhan.

__ADS_1


"Karena kata mama, Tante itu baik. Tante itu kesayangan Papa. Jadi aku berani ngobrol sama Tante. Dulu, mama bilang nggak boleh ngobrol sama orang asing," jelas Reyhan.


Chaca mengerutkan kening. "Bukannya Om yang kamu panggil Papa itu juga orang asing ya?" tanya Chaca menatap anak gembul itu.


"Dia kayak Papa yang di foto, Tan," ujar Reyhan jujur.


Chaca mengangguk-anggukkan kepala, tak berselang lama Gandhi sudah datang dengan beberapa kantong makanan.


"Sayang," panggil Gandhi mencium kening Chaca. Namun bibirnya ditahan oleh jemari Chaca. Satu tangan lainnya menutup mata Reyhan.


"Ada Reyhan," bisik Chaca menggerakkan bola matanya.


"Tante, kenapa ditutup mata Reyhan?" tanya anak itu polos.


Chaca bingung menjawabnya. Dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Bola mata Chaca menatap Gandhi mengisyaratkan untuk menjawabnya.


"Biar surprise anak ganteng," alasan Gandhi meletakkan beberapa bungkus makanan, mencubit kedua pipi anak itu.


"Papa!" serunya memeluk Gandhi.


Gandhi mengerling nakal menatap Chaca. Sedangkan Chaca hanya membalas dengan senyuman.


Bersambung~


Jangan lupa kepoin Bryan 👉 "Prahara Cinta Dua Saudara"



__ADS_1


Jangan lupa mampir ya🤗


__ADS_2