Duda Tapi Perjaka

Duda Tapi Perjaka
[Season 2] Sandaran


__ADS_3

Andra benar-benar bingung, 'Untuk apa Chaca ke sana? Dan lagi kenapa tidak bersama Gandhi? Apa keduanya sedang ada masalah?' Pertanyaan yang hanya mampu diucapkan dalam hati.


"Masuk, Cha," ujar Andra mempersilahkan.


Chaca menggeleng pelan, "Tidak, Bang. Aku tunggu di sini nggak apa-apa. Lagian nggak ada orang di rumah 'kan?" elak Chaca dengan seulas senyum.


Andra mengangguk lalu masuk ke rumah lagi. Chaca berdiri di depan rumah menghadap ke halaman. Pikirannya berkecamuk.


Tak berapa lama, Andra kembali namun dengan pakaian yang rapi tak lupa dengan jaket kulitnya.


"Loh, Bang?" Chaca terkejut.


"Ayo aku antar," tukas Andra berjalan ke garasi.


"Nggak usah, Bang. Nanti kerjaanmu gimana?" elak Chaca merasa sungkan.


Andra menghela napas panjang, "Cha, kafe sama kamu di mata Gandhi itu lebih berharga kamu. Aku nggak bisa biarin kamu pergi sendirian. Kalau ada apa-apa sama kamu, suamimu akan membunuhku!" terang Andra membuat Chaca terkesiap.


Chaca menelan salivanya dengan susah. Sebisa mungkin ia tidak menangis mendengar sebutan Gandhi. Ia menundukkan kepala. Andra semakin yakin Chaca dan Gandhi sedang bermasalah. Mungkin bertemu dengan Amel bisa melegakan perasaan maupun pikirannya.


"Ayo, Cha. Kamu itu udah seperti adik aku sendiri. Jangan sungkan, jangan anggap aku orang lain," tutur Andra malah membuat Chaca menangis.


Andra memeluknya layaknya seorang kakak yang menopang adiknya. Memberi kekuatan pada sang adik yang sedang rapuh.


"Menangislah, itu akan membuatmu lebih lega," ucapnya mengusap pelan rambut Chaca.


"Makasih ya, Bang. Maaf aku ngrepotin kamu. Tolong banget jangan bilang apa-apa dulu ke Mas Gandhi. Aku mau tenangin diri dulu, Bang. Tolong ya," tutur Chaca dengan isak tangisnya.


"Kata siapa? Kamu sama sekali nggak ngrepotin. Kamu adik aku, sudah sepatutnya melindungi dan menjagamu. Iya, aku nggak akan bilang kecuali kamu yang meminta," tandas Andra.


Keduanya lalu saling melepas, Andra segera membuka garasi dan mengambil mobilnya. Chaca pun segera masuk. Mereka melakukan perjalanan panjang pagi itu.


Jalan masih sangat sepi, karena matahari belum menampakkan diri. Chaca menyandarkan kepalanya, memejamkan mata dengan air mata terus mengalir.


Andra tidak akan bertanya apa pun sebelum Chaca mau membuka mulutnya sendiri. Meski sebenarnya dia sangat penasaran.


"Istirahatlah, Cha. Nanti aku bangunkan ketika kita sampai," tukas Andra.


Chaca hanya mengangguk tanpa membuka matanya. Andra tidak tega melihatnya. Masalah sepelik apa kok sampai Chaca seperti itu? Ini pertama kalinya Andra melihat Chaca sesedih itu setelah menikah.


Hampir 5 jam perjalanan ditempuh Andra, jalanan yang lengang membuatnya mengendarai mobil dengan cepat. Sampailah mereka di kota batik atau di Pekalongan, kampung halaman Amel.


Andra melihat ponselnya, ia mengirim pesan pada Gandhi jika hari ini izin pulang kampung. Alasannya merindukan anak istrinya. Sudah lama Andra tidak mengunjungi keduanya.

__ADS_1


"Cha, kita sudah sampai," tutur Andra pelan menyentuh bahu Chaca.


Wanita itu mengerjapkan matanya yang masih terasa lengket. Terasa pedih dan memerah, karena semalaman tidak tidur ditambah menangis terus menerus.


"Udah sampai ya, Bang?" tanya Chaca lagi.


Andra mengangguk, lalu mengajak Chaca turun. Terlihat Baby Al berlarian di halaman hendak disuapi sang mama.


"Boy!" pekik Andra merentangkan tangan sembari berjongkok.


"Papa!" sahut Baby Al berlari memeluk Andra dengan erat.


Andra lalu berdiri menggendong anaknya, menciumi seluruh wajahnya hingga tertawa cekikikan karena geli.


"Chaca, Mas Andra!" seru Amel meletakkan piring berisi makanan lalu berlari menyambut Chaca dan suaminya.


"Ya ampun, apa kabar, Cha?" tanya Amel memeluk Chaca erat.


"Lagi nggak baik, Mbak," ucapnya sendu.


"Eh!" Amel tersentak, lalu mengajaknya segera masuk ke rumah. Orang tua Amel pun menyambutnya dengan baik. Amel sering bercerita tentang Gandhi dan Chaca. Oleh karena itu, orang tuanya telah mengenal Chaca secara tidak langsung.


"Ternyata cantik banget ya Nak Chaca, aduh ibu seneng banget mau berkunjung ke sini. Nginep 'kan di sini?" tutur Ibu Mila memeluknya


"Enggak kok, mana ada ngrepotin yang ada kita malah seneng ya, Buk," terang Amel yang keluar dari dapur membawakan teh hangat.


Ibu Mila tersenyum manis, lalu mempersilahkan Chaca untuk minum teh hangat tersebut. Beliau lalu pamit karena harus pergi mengajar batik tulis di sebuah sanggar.


Andra masih sibuk bermain dengan jagoan kecilnya di halaman. Mereka heboh sendiri bermain sepak bola. Alio sangat bahagia atas kunjungan sang papa.


Tinggallah Amel dan Chaca sendiri. Amel berpindah duduk di samping Chaca. Dia merebahkan kepala Chaca di pundaknya.


Chaca lalu memeluk erat Amel. Ia menumpahkan seluruh tangisannya, membasahi baju yang dikenakan Amel. Amel mengusap lembut punggung Chaca, membiarkannya menangis hingga puas.


Chaca kembali meminum teh kembali. Dua gelas telah tandas olehnya. Amel hanya melongo melihatnya. Chaca lalu meletakkan gelas kosong perlahan.


"Mbak," ucap Chaca lirih.


"Iya, Cha," sahut Amel menangkup tangan Chaca.


"Izinin aku tinggal di sini beberapa hari ya," pinta Chaca memelas.


"Tentu saja. Pintu rumah ini terbuka lebar untukmu dan Gandhi," jawab Amel dengan seulas senyum.

__ADS_1


"Tapi aku sendirian, Mbak," tutur Chaca menundukkan kepala.


Amel mengerutkan kening, dia baru sadar sejak tadi tidak ada tanda-tanda kehadiran Gandhi. Dari Amel dapat menyimpulkan ternyata Chaca sedang bermasalah dengan Gandhi.


'Sepelik apakah masalah kalian, hingga kamu harus pergi dari rumah meninggalkan suamimu, Cha?' tanyanya dalam hati.


Amel lalu meminta Chaca untuk beristirahat. Kebetulan memang ada beberapa kamar kosong di rumah orang tuanya itu. Dulunya bekas murid ibu dari luar kota yang belajar batik.


Kemudian Amel segera memasak untuk makan siang. Dia yakin tadi Chaca dan suaminya pas ti belum makan. Jadi, ia ingin menyiapkan makan siang lebih awal.


Hampir satu jam berkutat di dapur, Amel menghampiri sang suami yang menggendong Baby Al. Ternyata anak itu tertidur di bahu sang papa.


"Yaampun, Mas! Kok nggak ditidurin di kamar aja, nanti capek lho. Bukannya habis nyetir jauh?" tukas Amel hendak meraih putranya.


Andra mengelak, ia melarang istrinya menggendong Baby Al. Malah memeluk Amel dan mencium keningnya.


"Iya, Sayang. Ini mau kuletakkan. Kelelahan kayaknya dari tadi berlarian terus," bisik Andra.


Keduanya lalu masuk ke kamar. Andra merebahkan Baby Al perlahan, agar tidak membangunkannya. Lalu mereka duduk di sofa yang ada di kamarnya.


"Sayang, Chaca ada masalah apa sama Gandhi? Kenapa sampai kabur segala?" tanya Amel pada suaminya.


"Nggak tahu, Sayang. Dia nangis terus sepanjang jalan. Terus aku suruh tidur aja. Tunggu saja sampai dia siap cerita, jangan tanya apa pun sebelum dia membuka suara. Buatlah dia nyaman dan ceria lagi," tutur Andra membelai kepala istrinya.


Amel mengangguk paham, Andra lalu memeluk istri yang sangat dia rindukan itu. Pelukan yang berakhir dengan kepuasan, meski hanya di sofa namun mereka begitu menikmatinya.


...----------------...


Gandhi mengerjapkan matanya perlahan, kepalanya terasa begitu berat. Matahari sudah begitu terik. Gandhi terperanjat ketika tidak melihat Chaca di sampingnya.


"Sayang!" serunya mencari ke semua sudut kamar.


Tidak dia temukan. Gandhi lalu berlari keluar dan terus memanggil istrinya. Semua ruangan sudah dia sambangi tapi tidak menemukannya dimanapun. Gandhi panik, dia lalu berlari lagi ke kamar dan hendak mengambil ponsel menghubunginya.


Napasnya tersengal, dia bergegas mengambil ponsel dan melakukan panggilan. Dering ponsel Chaca nyaring terdengar. Membuat jantungnya hendak lepas. Tubuhnya terhuyung, ponselnya terjatuh ke lantai.


"Chaca!" teriaknya mengacak rambut frustasi.


Bersambung~


Uuhhh detik detik menuju ending


Mon maaf part ini doble... sriptnya cuma satu tapi sepertinya ada kesalahan sistem. ttep like komeng ya🤣

__ADS_1


__ADS_2