Duda Tapi Perjaka

Duda Tapi Perjaka
[Season 2] PDKT


__ADS_3

Ayu mengabaikannya, ia lebih menyibukkan diri pura-pura membersihkan arena bermain itu. Padahal sudah ada cleaning service. Lukman mengekori kemanapun Ayu bergerak. Hal itu membuatnya geram sendiri.


"Ngapain sih, ngikutin terus?" geram Ayu melayangkan tatapan tajam.


"Udah waktunya istirahat, ngobrol dulu yuk, sambil makan siang. Aku yang traktir deh," ucap Lukman menaik turunkan alisnya.


Memang kini sudah waktunya Ayu beristirahat, perutnya juga sudah meronta ingin segera diisi. Ia akhirnya memutuskan untuk menerima tawaran laki-laki itu.


Ayu dan Lukman kini berada di saung belakang kafe. Ayu memilih tempat yang nyaman, jauh dari keramaian. Mereka duduk lesehan saling berhadapan. Namun dengan meja sebagai pemisah tentunya.


"Gimana kabar Baby El?" tanya Lukman basa-basi.


Dia selalu mencari tahu semua informasi tentang Ayu. Alhasil, dia kini tahu jika Ayu ternyata single parent. Meskipun belum sah bercerai secara hukum.


Kecelakaan beberapa waktu silam, membuatnya jatuh hati pada wanita beranak satu itu. Lukman bahkan tidak peduli dengan statusnya. Walau Ayu selalu ketus dan galak padanya, justru itu menjadi pecut semangat oleh Lukman untuk menaklukannya.


"Baik. Nggak usah sok peduli. Aku nggak butuh!" geram Ayu segera minum es di hadapannya yang baru saja sampai.


Lukman tersenyum, ia juga menyerutup minumannya. "Makin jutek makin cantik," gumam Lukman dengan tatapan penuh arti.


"Kamu kapan liburnya? Kita ajak Baby El jalan-jalan, Yuk," ajak Lukman menangkup jemari Ayu.


Ayu menarik cepat tangannya, ia tidak berani menatap pria di depannya. Luka hatinya masih belum pulih total. Ia tidak mau menambah benan hidupnya lagi. Ayu juga tidak mau ada orang yang mendekatinya hanya sebatas kasihan saja. Padahal Lukman tulus.


"Nggak ada libur!" jawab Ayu cuek lalu bersiap memakan makanannya.

__ADS_1


Lukman mendesah pelan, namun ia tetap tidak menyerah. Justru semakin merasa tertarik. Menurutnya, Ayu tipe wanita setia. Tidak mudah tergoda dan susah move on. Makanya dia gencar ingin mendekati Ayu.


Keduanya kini mulai makan, sesekali Lukman mengajak berbicara. Meskipun selalu dijawab jutek oleh Ayu.


Tak terasa, sudah 30 menit mereka bersama. Ayu melihat jam di pergelangan tangannya. Ia lalu berpamitan bekerja kembali. Ia beranjak dari duduknya.


"Tunggu, nanti aku antar pulang, ya," ucap Lukman menyentuh lengan Ayu.


Ayu melepaskan jemari Lukman, tanpa menjawab ia segera pergi meninggalkannya sendirian.


"Ah, susah banget dideketin. Aku semakin suka," gumam Lukman lalu segera membayar tagihan. Setelahnya ia juga kembali bekerja. Lukman hanya seorang karyawan di sebuah bengkel mobil tak jauh dari kafe itu.


...----------------...


Kecerdasan yang dimilikinya dirasa mampu menempuh S2 lebih cepat. Sebenarnya Andin juga sama, karena IPK mereka berdua sama bagusnya. Namun karena suatu hal Andin harus tetap memilih kelas reguler.


"Ya, Sayang?" ucap Chaca mengangkat telepon sambil berjalan ke parkiran.


"Kamu pulang jam berapa, Sayang?" tanya Gandhi di seberang.


"Ini udah mau jalan kok, Mas," tukas Chaca meraih kunci mobil di kantong celana.


Ia lalu membuka mobil dan segera duduk di balik kemudi. Ponselnya masih diapit di telinganya, lalu ia mengenakan seatbeltnya.


"Yaudah, hati-hati ya, Sayang. Langsung ke kafe. Aku ada kejutan, pasti kamu seneng banget." Perkataan Gandhi membuat Chaca penasaran.

__ADS_1


"Apaan, Sayang? Jangan bikin penasaran ih," tutur Chaca mulai menyalakan mesin mobil.


"Kalau aku ngomong bukan kejutan dong. Pokoknya hati-hati nyetirnya. Aku tunggu, love you, Sayang," ucap Gandhi lalu menutup sambungan teleponnya.


Chaca segera melesat pergi ke kafe. Ia penasaran dengan kejutan yang dimaksud suaminya. Tak berapa lama, mobilnya telah terparkir rapi di halaman kafe. Chaca bergegas turun dan berlari masuk.


"Hai, San!" sapa Chaca saat melalui kasir. Santi membalas dengan senyuman dan lambaian tangan.


Chaca berjalan cepat, bahkan menaiki tangga pun ia setengah berlari. Napasnya terengah-engah ketika membuka pintu ruangan Gandhi.


Suara pintu terbuka membuat Gandhi memalingkan muka ke arah pintu. Ia segera meletakkan telunjuknya di bibir. Menandakan agar Chaca tidak berisik.


Chaca mengerti, ia lalu menutup pintu perlahan dan melangkah tanpa menimbulkan suara. Ia segera memeluk suaminya itu. Keduanya selalu merasakan kerinduan mendalam saat saling berjauhan. Meskipun hanya sehari saja.


Gandhi lalu menarik lengan Chaca mendudukkan tubuh mungil itu di pangkuannya. Kedua lengan Chaca mengalung pada leher Gandhi. Pria itu lalu membelai kedua pipi Chaca, lalu menghadiahi sebuah kecupan di kening, kedua pipi hingga di bibir ranum sang istri.


"Kangen banget," bisik Gandhi saat melepas tautan bibirnya.


"Sama," sahut Chaca tertawa hingga kedua matanya menyipit.


Saat masih asyik saling bermesraan sebuah deheman membuyarkan keromantiasan mereka berdua.


"Ehem! Yang masih menguar aroma pengantin baru!"


Bersambung~

__ADS_1


__ADS_2