Duda Tapi Perjaka

Duda Tapi Perjaka
[Season 2] Kamu Satu-satunya


__ADS_3

Setelah sudah hampir mengering, Chaca pergi ke kamarnya. Ia bermaksud berganti pakaian. Tanpa ia sadari, aku mengikutinya dari belakang. Chaca terkejut, saat hendak menutup pintu, aku menahan dengan kaki.


"Sayang!" serunya terkejut menatapku. Ia lalu membuka pintu dan membiarkanku masuk. Kemudian menutupnya kembali.


Aku hanya tersenyum, "Beresin pakaian kamu Sayang. Pindahin ke kamar aku, atau kamu mau pulang ke rumah kita?" ucapku bersandar di lemarinya.


Chaca mengernyitkan dahinya, "Rumah kita?" tanyanya lagi.


"Iya, yang pernah aku omongin tempo hari. Sewaktu proses perceraian sama Ayu, aku sudah membeli rumah dan meminta orang untuk merenovasinya. Kan sudah pernah aku bilang, aku sudah menyiapkan rumah untuk kita. Tapi tidak sebesar ini, Sayang," jelasku menghentikan gerakan Chaca mengambil lipatan-lipatan baju.


Ia lalu duduk di tepi ranjang. "Aku tidak mau mendengar nama itu!" gerutunya cemberut mendudukkan tubuhnya di tepi ranjang.


Aku mengulas senyum, mengambil sisir di meja rias lalu menghampirinya. Ini akan menjadi kebiasaan yang menyenangkan. Aku duduk di sampingnya, posisinya membelakangiku. Jadi, memudahkan aku meraih rambutnya untuk kusisir.


"Sayang, aku juga tidak sudi menyebut namanya. Tapi, tidak baik buat hati kita jika menyimpan dendam terlalu lama. Bukankan Bunda selalu berpesan agar selalu memaafkan kesalahan orang lain? Sebesar apapun kesalahannya," tuturku sibuk memainkan rambutnya dengan sisir.


"Sakit yang kurasakan tentu tidak bisa hilang begitu saja. Tapi aku telah ketemu obatnya. Yaitu kamu Chatrine Salsabila, kucing liarku yang kini menjadi istriku. Kamu adalah sumber kebahagiaanku Sayang," tukasku memeluknya dari belakang.


Chaca membalikkan tubuhnya, ia menangkup kedua pipiku. Melihat kedua bola mataku bergantian. Lalu mengecup bibirku sekilas, sehingga membuatku terkejut.


"Terima kasih karena telah memilihku. Aku sangat beruntung bisa menjadi orang yang terpilih untuk mendampingimu. Aku tidak akan membiarkan siapapun merebutmu dari pelukanku," akunya memelukku erat.


"Siapa yang akan merebutku darimu, Sayang? Aku juga tidak sudi melirik wanita lain. Karena kamu akan selalu menjadi satu-satunya dalam hatiku. Sampai maut memisahkan kita," ucapku mencium keningnya.


Suara ketukan pintu merusak suasana romantis kami. Dengan berat, aku melepaskan pelukan itu, menyuruh Chaca segera berganti pakaian. Aku berjalan menuju pintu dan membukanya.


"Mama!" sapaku setelah pintu terbuka sempurna.


Beliau menampikkan senyuman lebar membuatku mengerutkan kening.


"Pengantin baru, siang banget bangunnya sampai lupa sarapan," goda Mama melipat kedua tangannya di dada.


"Ah Mama, katanya pengen cepet punya cucu?" serangku balik menyembunyikan maluku.


"Ah, iya! Semangat Sayang, Mama mendukungmu. Tapi kasihan istrimu, biarkan istirahat sejenak. Waktunya makan ya makan dulu. Eh kok pindah ke kamar Chaca sih? Mama udah siapin kamar pengantin lho!" protesnya melihatku ada di kamar Chaca.


Aku menjelaskan keberadaanku di kamar ini, semalam tidurnya di kamarku. Dan ke sini hanya mengambil pakaian Chaca.


"Makasih ya Ma, bagus banget dekorasinya Ma. Tahu nggak Ma? Balonnya ada yang ikut meletus waktu ...."

__ADS_1


"Ngomongin apaan?" teriak Chaca memotong ucapanku. Ia sudah berpakaian lengkap lalu mendekat pada kami.


Mama mengerti maksud ucapanku beliau tertawa terpingkal-pingkal. "Mama nggak kepikiran ke sana. Duh maaf ya pasti ganggu banget tu balon," ucap Mama masih tertawa.


Chaca yang sudah terlihat sangat malu menarik lengan Mama mengajaknya sarapan. Aku hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum dan berjalan di belakangnya.


"Mommy jangan ceritain ke siapa-siapa ya," bisik Chaca masih bisa kudengar.


Mama mengangguk mengiyakan sambil tertawa. Kami lalu sarapan bergabung dengan Papa yang sudah bersiap untuk melahap makanannya.


"Pagi, Pa," sapaku menarik kursi dan mendudukinya.


"Pagi Gan, gimana semalam sukses?" goda Papa dengan seulas senyuman.


"Daddy, ih udah dong Mommy sama Daddy sama aja. Jangan bicara itu terus, Chaca 'kan malu," akunya menutup wajahnya dengan sendok dan garpu.


Kami semua tertawa melihat Chaca yang tersipu malu. Kalau aku sih merasa bangga. Tentu saja bangga, sudah melepas status duda sekaligus perjaka.


"Ngapain senyum-senyum!" geram Chaca memukul punggung tanganku.


"Aw! Sakit Sayang," ucapku meringis mengusapnya.


"Sudah-sudah, kalian ini. Berantemnya di kamar aja. Oiya Cha, kamu harus kuliah. Wajib! Kamu bebas mau pilih universitas manapun. Dan ini tanggung jawab Papa. Tidak boleh mengelak ataupun membantah!" tegas Papa setelah meneguk kopi di cangkirnya.


"Chaca juga anak Papa, dan tanggung jawab Papa belum selesai. Kamu sih nggak sabaran udah ngebet pengen nikahin dia. Kan dia belum menyelesaikan pendidikannya. Pokoknya semua biaya kuliah Chaca, Papa yang tanggung. Titik!" tegasnya lagi.


"Gandhi keburu tua dong Pa nungguin Chaca kelar sarjana," celetukku mengundang gelak tawa Papa dan Mama.


"Papa bercanda Gan," tukasnya.


Tidak ada yang bisa kami lakukan selain menurutinya. Selama ini beliau tidak pernah menuntut apapun. Jadi, kami mengiyakannya. Chaca diam hanya mengangguk sembari mengunyah makanannya.


"Bryan di mana Ma?" tanyaku yang tidak melihatnya sejak kemarin.


"Bryan udah pindah ke apartemennya. Baru tadi sore dia dapat. Terus langsung pindah," jelas Mama.


Papa sudah selesai makan. Beliau berpamitan segera berangkat ke kantor. Kami masih melanjutkan makanan.


"Kok nggak pamitan sama kita sih?" protes Chaca mengeluarkan suara.

__ADS_1


"Pengen banget ya dipamitin Bryan?" ucapku dingin.


"Ya, nggak juga. Tapi 'kan di sini ada penghuninya. Nggak sopan aja keluar tapi nggak pamitan," elaknya menundukkan pandangan.


"Tadi sore mau nungguin kalian. Karena lama, jadi dia memutuskan tidak berpamitan," tutur Mama mengusap bibirnya dan beranjak berdiri kemudian berpamitan berangkat ke pabriknya.


Kini tinggal aku dan Chaca di meja. "Sayang, nanti kita ke kantor polisi ya. Abis itu mampir ke rumah kita, lihat-lihat dulu," ucapku menggenggam tangan kirinya. Chaca hanya mengangguk, karena masih sibuk mengunyah makanan.


Setelah beberapa menit, kami selesai sarapan. Lalu segera beranjak berganti pakaian. Lebih cepat akan lebih baik.


Kami menaiki mobil Chaca, karena mobilku masih di bengkel. Aku melajukan mobil perlahan, menikmati kepadatan kendaraan yang berjajar di jalan raya. Karena sekarang memang jam-jam ramai. Bersamaan dengan orang-orang yang hendak mulai pekerjaan maupun kegiatan lainnya.


"Sayang, mau kuliah di mana? Apa kita cari hari ini juga?" tanyaku membuka suara saat kejenuhan melanda.


"Enggak Sayang, aku mau cari sendiri nggak apa-apa ya? Aku mau lihat-liat dulu lewat internet. Kamu fokus aja sama kerjaan kamu," ucapnya membelai sebelah pipiku.


Aku memutuskan melewati jalan pintas, kemacetan semakin bertambah parah.


"Lewat mana ini Mas? Kok aku asing dengan jalan ini?" tanya Chaca menolehkan kepala melihat keluar jendela.


"Jalan tikus, Sayang. Macetnya parah," jawabku fokus menyetir.


Jalan yang kami lalui memang agak sepi. Sehingga perjalanan lancar dan bebas dari kemacetan.


"Mas, itu mobil item dari tadi kayaknya ngikutin kita deh!" ucap Chaca menunjuk ke spion.


"Oh ya? Sejak kapan?" sahutku menengok sebentar lalu fokus kembali ke jalan.


"Sejak jalan raya dekat rumah," ucapnya sedikit tegang.


Aku terkejut, namun tetap berusaha tenang agar Chaca juga tidak panik. "Tenang aja, mungkin kebetulan," ujarku membelai kepalanya.


Aku menginjak pedal rem kuat-kuat ketika ada mobil APV hitam menghadang di depanku. Chaca hampir terbentur dashboard mobil.


"Sayang, kamu nggak apa-apa?" seruku melepas sabuk pengaman mendekatinya dan memastikan keadaannya. Aku meraba-raba wajah juga tangannya.


Ia terlihat sangat shock, aku meraihnya dalam pelukanku, "Maaf, Sayang," ucapku sambil mengecupi keningnya.


Pandangannya terpaku, "Mas," panggilnya melepaskan pelukan.

__ADS_1


Aku melihat di luar mobil telah dikepung.


Bersambung~


__ADS_2