Duda Tapi Perjaka

Duda Tapi Perjaka
[Season 2] Like Father Like Son


__ADS_3

"Thank you banget kepercayaannya, Bro ... tapi aku tanya sama Amel dulu. Dia sekarang manja banget terus gampang uring-uringan. Apa-apa maunya sama aku. Kadang masih gugup kalau Baby Al nangis terus," jelas Andra.


Gandhi mendesah, ia sangat menyayangkan jika Andra menolaknya. Ya meskipun ia sendiri belum mengerti bagaimana repotnya mengurus bayi.


"Ndra, carilah babby sitter pengalaman, yang bisa membantu merawat Baby Al. Kebutuhan kamu bakal bertambah banyak. Masa mau nggak kerja terus-terusan? Sebanyak apa pun tabunganmu kalau pemasukan berhenti, lama kelamaan bakalan habis," terang Gandhi.


"Jelasin pelan-pelan sama Mbak Amel, semua demi masa depan anak-anak kalian. Aku memang pernah baca artikel, wanita hamil dan menyusui sangat sensitif karena pengaruh hormon. Lagian kamu 'kan kerja bukan main apalagi nambah bini," imbuh Gandhi lagi.


"Sialan! Aku coba dulu deh," gerutu Andra mendengar kalimat terakhir Gandhi.


Keduanya lalu berbincang banyak tentang kafe tersebut. Sampai pada akhirnya, Andra bercerita tentang Ibu Rika, ibunda Ayu yang mencari keberadaan anaknya. Sudah sekian lama tidak pernah mengunjunginya sejak menikah lagi dengan Anjar.


Suatu hari, Ibu Rika datang ke rumah lama Gandhi, ternyata rumah itu sudah berpindah tangan. Sampai sekarang, beliau masih bingung sekaligus sedih atas hilangnya kabar putri satu-satunya.


Gandhi tidak mengatakan apa pun. Karena Ayu berjanji, akan menemui keluarganya jika sudah siap. Kalau Andra setuju kerja di sana, otomatis mereka akan bertemu dengan sendirinya.


Tak terasa, waktu sudah menunjukkan hampir pukul 1 siang. Kini saatnya Gandhi menjemput putranya. Hak asuhnya masih diurus oleh pengacaranya.


Gandhi telah bersandar di mobil menunggu Rey keluar dari kelas. Pandangannya tak lepas dari ruangan itu. Rey berlari menghampiri sang papa ketika melihatnya.

__ADS_1


"Papa!" teriaknya lalu memeluk Gandhi.


Gandhi berjongkok menyamakan tinggi sang anak. membalas pelukan hangat itu. Tidak ada yang mengira jika keduanya bukan sedarah. Kedekatan mereka sungguh bak anak dan ayah kandung.


"Gimana sekolahnya, Sayang?" tanya Gandhi setelah melepas pelukan.


"Seru banget, Pa. Rey punya banyak teman-teman baru," jawabnya sangat antusias.


"Oh iya? Rey suka sekolah di sini?" tanya Gandhi lagi.


Reyhan mengangguk bersemangat. Gandhi lalu menggendongnya masuk ke mobil. Di sepanjang perjalanan, Rey terus menceritakan kegiatannya di sekolah.


Gandhi juga kerap kali menanyakan apa pun yang terjadi selama di sekolah. Karena Gandhi mau menanamkan kebiasaan pada Rey agar selalu terbuka padanya sejak dini.


"Rey, di kafe ada adik bayi loh," ucap Gandhi menoleh sekilas pada putranya.


"Dede El ya, Pa?" sahut Rey berbinar.


Rey sangat menyayangi Baby El semenjak bayi itu sering diajak ke kafe oleh Ayu. Gandhi menggeleng pelan sembari fokus menyetir.

__ADS_1


"Bukan, Sayang. Namanya Dede Alio. Rey suka punya banyak adek bayi?"


"Suka, Pa. Rey jadi nggak kesepian punya banyak temen main," seru Rey.


"Doain Papa sama Mommy ya. Biar punya dede bayi juga dan rumah kita jadi tambah rame," ucap Gandhi mengusap kepala Rey lembut.


"Asik ... Rey mau, Pa. Rey mau," girangnya hendak lompat-lompat dari duduknya.


Gandhi geleng-geleng dengan tawa melihatnya. Mungkin sedari bayi dia selalu kesepian. Mamanya super sibuk, lebih sering meninggalkannya dengan Bibi di rumah. Sehingga saat melihat banyak adik-adik bayi Rey selalu antusias dan terlampau bahagia.


Sesampainya di kafe, ternyata Baby Al tidur dengan nyenyak dengan sang bunda juga ayahnya. Mereka terlihat lelah setelah melakukan perjalanan panjang. Gandhi segera mengganti seragam Rey dengan baju sehari-hari. Lalu, dengan sabar menyuapinya makan.


Barulah anak itu tidur siang. Dia tidur di sofa lumayan luas di ruangan Gandhi. Kemudian Gandhi melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.


Di luar kafe, Lukman sengaja mendatangi Ayu. Dia sering mencari-cari alasan agar bisa menemuinya. Meskipun Ayu selalu menolaknya, namun laki-laki itu gencar mendekatinya. Ayu masih trauma dengan kisah cintanya.


"Hai," sapa Lukman bersandar pada pintu stand permainan.


Bersambung~

__ADS_1


__ADS_2