
Setelah pengumuman tersebut, masuklah pada acara dansa. Chaca segera turun menarik suaminya ketika alunan musik mulai memanjakan telinga. Lighting yang diatur sedemikian rupa, hanya menyorot keduanya. Sehingga semua perhatian berpusat pada pasangan tersebut.
Namun semua tamu juga mengikuti, turut berdansa mengitari mereka berdua. Gandhi mengulurkan tangan kirinya yang segera disambut oleh Chaca.
"Sayang aku nggak bisa dansa," ucap Gandhi merengkuh pinggang istrinya dengan tangan kanan.
"Ikutin aja alunan musiknya, Sayang," sahut Chaca meletakkan sebelah tangan di bahu suaminya.
Tawa bahagia keduanya menguar tidak memudar satu detikpun. Mereka mulai mengayunkan kakinya dengan kompak dalam alunan musik klasik yang menggema.
Sesekali kaki Chaca terinjak oleh suaminya. Namun wanita itu memakluminya, ia hanya meringis tetap melanjutkan gerakannya. Karena mereka menjadi pusat perhatian saat ini.
"Sayang, maaf," sesal Gandhi merasa bersalah.
"Nggak apa-apa, Sayang. Namanya juga baru belajar," sahut Chaca tersenyum menyentuh sebelah pipi suaminya.
Setelah semakin menguasai gerakan, Chaca berputar lalu ditarik lagi oleh Gandhi dalam dekapan lengannya. Gandhi terus menghujani ciuman pada kening istrinya itu.
Beberapa menit kemudian Chaca berputar lagi, kedua tangan Gandhi menahan punggung Chaca, ketika ia melengkungkan tubuhnya ke belakang. Gandhi mengikutinya, membungkukkan tubuh dan mencium mesra bibir istrinya.
"Yuhuu ... wedding kiss!" sorak para tamu bertepuk tangan dengan meriah, ada yang bersiul juga.
"Ya ampun sweet banget sih mereka. Hei jodoh, semoga kamu segera mendekat ya. Aku meleleh melihat mereka," gerutu Dewi mencium bunga pengantin yang didapatkannya tadi.
Kilatan-kilatan cahaya foto saling bersahutan untuk mengabadikan momen tersebut. Xander dan Alice turut berdansa juga. Mereka tak kalah romantis meski usia pernikahan yang terhitung lama.
Amel juga antusias ingin berdansa dengan suaminya. Namun baru beberapa gerakan ia merasakan mual saat berdekatan dengan pria itu.
"Sayang, kamu keringetan lagi!" seru Amel menutup hidungnya menahan mual.
"Astaga, masa orang sehat nggak boleh keringetan?" gerutu Andra menjauhkan tubuhnya.
Amel segera berlari ke toilet karena perutnya bergejolak ingin mengeluarkan semua isinya. Andra panik, mengikuti istrinya memijat lembut tengkuk wanita itu. Ia semakin berkeringat karena panik melihat istrinya.
"Mas Andra jangan deket-deket dong! Makin mual akunya," pekik Amel mendorong suaminya.
__ADS_1
Andra jadi serba salah dibuatnya. Disatu sisi ia khawatir, namun di sisi lain kehadirannya ditolak oleh istrinya. Akhirnya pria itu melangkah keluar dan menunggu di depan pintu.
Selang beberapa menit, Amel sudah tidak mengeluarkan suara. Andra mengetuk pintu berkali-kali, ia takut terjadi sesuatu dengan istrinya.
"Sayang, Amel, kamu nggak apa-apa?" teriak Andra menggedor pintu.
Amel keluar dengan wajah pucat pasi. Rambutnya yang tadi digelung rapi sedikit berantakan. Ia berjalan gontai, namun tidak mau dipapah suaminya.
"Astaga, Sayang!" geram Andra pada dirinya sendiri. Ia tidak tega melihat istrinya menderita seperti itu.
Andra berjalan di belakang istrinya memberikan jarak beberapa meter. Mereka hendak berpamitan dengan Gandhi dan Chaca yang sudah duduk kembali di singgasananya, diapit oleh kedua orang tuanya.
Anehnya, Amel merasa bugar kembali saat dekat dengan Gandhi. Ia antusias berfoto dengan pasangan pengantin itu. Sedangkan Andra, hanya menyaksikannya dari bawah panggung. Ia duduk di hadapan Dewi.
"Pak! Kok nggak ikutan ke panggung sih? Bapak lagi berantem ya sama istrinya," sindir Dewi.
Andra hanya mendesah, tidak menjawabnya. Tatapannya lurus pada istrinya yang bersenda gurau bersama Gandhi dan Chaca.
"Mbak Amel, kenapa Andra nggak ikut naik?" tanya Gandhi penasaran.
Gandhi dan Chaca saling pandang, lalu keduanya tertawa. Ia juga merasa iba pada pasangan itu.
"Kalian jangan ketawa, nanti Chaca hamil ngerasa kayak gitu tau rasa kamu!" ucapnya menghentikan gelak tawa keduanya.
"Yah, jangan dong Mbak. Aku nggak bisa jauh-jauh dari Chaca," elak Gandhi memeluk mesra istrinya.
"Mana bisa diprediksi? Aku juga nggak pengen kayak gini. Liat aja entar." Amel tertawa menyeringai membuat Gandhi takut membayangkannya.
Tak lama, Amel berpamitan ingin segera pulang. Karena tubuhnya terasa lelah. Setelah turun, giliran Andra naik. Tidak ada kata lain yang diucapkan oleh Gandhi dan Chaca, selain sabar untuk calon ayah itu.
"Sayang, nanti kalau hamil jangan kayak gitu ya. Aku nggak bisa jauh dari kamu," gumamnya menyentuh dagu istrinya.
"Semoga aja ya, Sayang," sahut Chaca merengkuh kedua pipi suaminya.
"Ehm! Sayang, kalian lagi di panggung loh. Semua mata tertuju ke sini tuh." Suara Alice membuyarkan keduanya.
__ADS_1
Gandhi dan Chaca jadi salah tingkah dibuatnya. Mereka saling melepas dan duduk dengan pandangan lurus ke depan. Benar saja semua mata sedang tertuju padanya. Chaca menunduk dalam, berbeda dengan Gandhi yang cuek saja.
Kini waktunya para tamu mengucapkan selamat pada kedua mempelai. Para rekan Gandhi antusias menaiki panggung. Mereka bangga, ternyata pernah memiliki atasan orang terpandang. Namun tidak pernah menampakkan kesombongannya. Setelah puas berfoto ria, mereka berpamitan pulang setelah mengucapkan selamat.
Setelahnya disusul para rekan bisnis Xander dan Alice termasuk para karyawan di semua perusahaannya. Chaca bahkan begitu nampak kelelahan. Mereka sudah berdiri selama berjam-jam. Namun seolah tak ada habisnya.
"Sayang, kamu masih kuat? Mau duduk aja?" tanya Gandhi memperhatikan istrinya yang sudah pucat.
Chaca mengangguk, ia lalu dipapah suaminya untuk duduk. Diikuti sang mama yang nampak khawatir. Gandhi mengusap peluh istrinya dengan tissu.
"Cha, kenapa, Nak?" tanya Alice mendudukkan diri di samping Chaca.
"Capek aja Mom. Tamunya nggak ada habisnya," sahut Chaca lemah.
Alice menggelengkan kepalanya. "Masa kalah sama Mommy sih?" sindir Alice menyodorkan minuman.
Chaca meraih dan meneguknya dengan cepat. Ia memang tidak terbiasa berdiri lama. Ditambah gaun yang dikenakan saat berat, hasil pilihan sang mama.
Seorang pria paruh baya menaiki panggung menundukkan kepala. Hampir semua tamu trlah pulang. Ia tidak berani meluruskan pandangan sekedar melihat seseorang yang berdiri dengan tatapan nyalang.
Pria itu adalah Handoyo, mantan atasan Gandhi. Rasa takut merayap di sekujur tubuhnya. Nasib hotelnya kini sedang di ujung tanduk. Mengingat perlakuannya pada Gandhi. Putra orang ternama yang sangat berpengaruh pada perkembangan hotelnya saat ini.
"Tu--tuan Xander, selamat atas pernikahan putranya," ucap Handoyo terbata-bata.
Tangannya mengulur hendak menjabat. Terlihat jelas gemetar pada tubuhnya. Xander menatapnya tajam, tidak menyambutnya.
"Handoyo!" serunya berjalan mengelilingi pria itu semakin membuatnya ketakutan.
Kepalanya semakin menunduk, "Iya Tuan," sahutnya pelan menurunkan kembali tangannya.
Gandhi masih sibuk memperhatikan istrinya, ia belum melihat kedatangan mantan atasannya tersebut.
"Kamu tahu apa kesalahan yang telah kamu lakukan?" tanya Xander melipat lengannya di dada. Handoyo mengangguk pelan.
"Sebutkan!" pekiknya dingin.
__ADS_1
Bersambungš¤