Duda Tapi Perjaka

Duda Tapi Perjaka
[Season 2] Farewell Party


__ADS_3

"Aku dipecat," ucap Gandhi menepiskan senyum.


Dewi nampak sedih setelah mendengarnya, ia tak kuasa membendung air mata. Chaca beranjak dan duduk di samping Dewi.


"Mbak, sering-sering aja main ke sini. Pintu rumah ini selalu terbuka untuk kalian," tutur Chaca mengusap lengan Dewi.


Dewi mengangguk, "Tapi aku bakal kehilangan sosok atasan yang ramah dan sesabar Pak Gandhi. Nggak ada yang lindungin kami lagi kalau tersandung masalah. Nggak akan ada suasana hangat lagi di hotel," ujarnya menundukkan kepala sambil mengusap air matanya yang terus menetes.


Gandhi mendesah, ia turut bersedih karena harus kehilangan rekan kerja yang sudah ia anggap seperti keluarga. Namun, mau tidak mau mereka harus menerima keputusan yang diambil oleh Handoyo.


"Masih ada Andra, Dew," tandas Gandhi


Dewi memalingkan mukanya pada Andra. Sedangkan pria itu menatapnya tidak mengerti. Kemudian Dewi menyebikkan bibirnya.


"Pak Andra galak, emosian. Nggak ada yang bisa sama kaya Pak Gandhi," ujarnya pelan.


Andra tidak mengelak. Dia akui memang sedari dulu begitu sifatnya. Tidak dapat dipungkiri, Andra pun sebenarnya turut sedih karena selama ini mereka selalu menghadapi masalah bersama. Yah, meskipun seringnya Gandhi yang selalu merepotkannya.


"Mungkin memang sudah waktunya kamu pegang perusahaan papa kamu Gan," desah Andra pelan.


"Aku belum siap," ujar Gandhi menggeleng.


Chaca yang sedari tadi hanya diam mendengarkan mengalihkan perhatian. "Udah ah, jangan sedih-sedihan terus. Kita bikin acara farewell aja, Sayang. Bang Andra nanti undang semua temen-temen ya ke sini," tandasnya sambil tersenyum.


Dewi dan Andra mengangguk cepat. Mereka setuju dengan ide Chaca. Andra segera mengeluarkan ponselnya memberikan ultimatum pada semua bawahannya untuk melakukan meeting ke alamat ini. Namun ia tidak memberitahukan alasan sebenarnya.


Tidak mau membuang banyak waktu, mereka bergegas pergi ke swalayan terdekat. Mereka bagi tugas, Andra dan Dewi membeli beberapa perlengkapan party sedangkan Gandhi dan istrinya sibuk memesan makanan. Waktu yang sudah mepet tidak cukup untuk memasak.


Dewi menelpon Gandhi mengatakan jika mereka pulang duluan untuk mendekorasi lokasi. Kunci rumah diletakkan di bawah keset welcome. Jadi mereka bisa masuk. Tanpa sepengetahuan tuan rumah, ia membeli kue juga.


Gandhi dan Chaca masih sibuk membeli aneka camilan juga minuman ringan. Mereka telah memesan beberapa nasi box dan meminta agar segera diantar ke rumah.


Kini, Dewi dan Andra telah sampai di rumah Gandhi. Mereka bergegas masuk, merasa seperti rumah sendiri.


"Pak, istrinya nggak disuruh ke sini?" tanya Dewi mengingatkan. Ia takut hanya berdua dengan Andra. Bukan apa-apa, yang ia takutkan adalah pandangan orang-orang sekitar.


"Oiya, bentar ya," pamit Andra meraih telepon menghubungi Amel.


Setelahnya Andra kembali bergabung dengan Dewi. Mereka dengan cekatan meniup beberapa balon dan merangkainya. Hingga tiga puluh menit kemudian, mereka telah selesai mengerjakannya. Sederhana saja, karena waktu yang mendesak.



Dewi melihat hasil karya mereka. Ia berdiri di depan background itu dan kembali menitikkan air mata, mengingat ia akan segera kehilangan sosok pemimpin yang bijaksana.


Tak berapa lama, Gandhi dan Chaca telah sampai di rumah. Mereka terkejut dengan kedatangan Amel yang berdiri di depan rumah.

__ADS_1


"Mbak Amel!" seru Chaca menghambur memeluk Amel meletakkan belanjaan.


"Lho, Gandhi, Chaca? Kalian ...."


Gandhi juga Chaca menganggukkan kepala dengan senyuman di wajahnya. "Ini rumah kami, Mbak. Mari masuk," tukas Chaca menggaet lengan Amel.


Mereka melangkah beriringan. Kedua tangan Gandhi penuh dengan banyaknya kantong belanjaan mereka. Karena Chaca melupakannya.


Andra langsung memeluk istrinya ketika melihat kedatangan Amel. Dewi yang melihatnya hanya mendesah lalu memalingkan muka.


"Jomlo bisa apa? Ya nggak lon?" seloroh Dewi menatap balon di tangannya.


Chaca menepuk bahunya, "Semoga segera menyusul ya Mbak Dewi. Semoga mendapatkan orang yang tepat," ujar Chaca.


Mereka saling melempar senyum lalu berjalan ke meja segera menghidangkan makanan dan minuman. Setelah semuanya siap, mereka bergantian mandi.


Ukuran tubuh Dewi sama seperti Chaca, sehingga Chaca memintanya untuk mengenakan gaunnya. Ada beberapa gaun baru yang belum pernah ia pakai. Awalnya Dewi nggak enak, namun Chaca terus memaksanya.


"Mbak, pakai aja. Belum pernah aku pakai. Anggap aja ucapan terima kasih karena Mbak mau membantu acara ini," ucap Chaca tulus.


"Makasih banyak ya, Cha," sahut Dewi.


Chaca mengangguk lalu keluar kamar membawakan baju ganti untuk suaminya yang mandi di kamar lain. Ia mendudukkan diri dan mulai menghias wajahnya.


Ia masih mengenakan handuk yang hanya melilit pinggangnya.


"Mas! Kecoret ih ngagetin," gerutunya menyebikkan bibir ketika melihat eyelinernya melenceng jauh.


Gandhi tertawa tertahan. Ia lalu membantu Chaca membersihkan noda itu dengan tissu basah. Chaca terus menggerutu.


"Maaf, Sayang, udah bersih nih," ujar Gandhi mencium kening istrinya.


Gandhi berjalan ke kasur, mengenakan pakaian yang telah disiapkan oleh Chaca. Sedangkan Chaca melanjutkan kegiatan memoles wajahnya tipis-tipis.


Gandhi meraih handuk yang melilit rambut Chaca. Ia menggosoknya pelan, lalu melepas handuk itu. Pria itu mengambil hairdrayer mengeringkan rambut istinya.


"Mas, banyak yang sayang sama kamu. Mereka pasti akan merasa kehilangan banget. Mbak Dewi aja nangis terus," ucap Chaca menatap suaminya melalui cermin.


"Mereka sudah seperti keluarga, Sayang. Kamu nggak cemburu 'kan?" sahut Gandhi menyisir rambut panjang itu.


Chaca menggelengkan kepalanya, ia juga menepiskan senyuman manisnya. "Enggaklah, Sayang. Aku tahu orang baik pasti banyak yang sayang. Yang penting hati kamu cuma ada aku, Mas," balas Chaca membalikkan tubuh menghadap Gandhi.


Gandhi tersenyum bangga, istrinya sudah semakin dewasa. Ia mengangkat dagu Chaca memberikan kecupan sekilas pada bibir ranum itu.


"Tentu saja, cuma kamu yang aku cintai. Cuma kamu yang memenuhi ruang hatiku, Sayang," ujarnya memeluk tubuh Chaca.

__ADS_1


Mereka segera keluar kamar, sebentar lagi tamu-tamu mereka akan segera sampai. Dan benar saja, saat keduanya membuka pintu sudah banyak mobil terparkir di halaman.


Chaca dan Gandhi berdiri di ambang pintu. Keduanya menyambut kedatangan rekan-rekan Gandhi yang masih terkejut.


"Ini rumah Pak Gandhi ya?"


"Wah Pak Andra nggak bilang sih tadi."


"Syukuran rumah baru ya, Pak?"


Dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan maupun ucapan dari mereka. Gandhi hanya tersenyum dan mempersilahkan masuk.


Acara tersebut diawali dengan makan malam bersama. Semua rekan kerjanya berkumpul, kecuali Handoyo dan anaknya. Andra sengaja tidak mengundangnya.


Mereka melalui dinner tersebut dengan saling bersenda gurau. Hanya Dewi yang sedari tadi menunduk dan sesekali menyeka air matanya. Ia juga hanya mengaduk-aduk makanannya.


Setelahnya acara dilanjutkan dengan bernyanyi. Mereka sangat antusias menikmati acara. Gandhi menyukai musik sejak kecil dan baru sekarang ia bisa mewujudkan keinginannya mempunyai studio musik pribadi. Yah meskipun hanya alat seadanya dan sederhana saja. Yang terpenting hobinya tersalurkan.


Satu per satu teman-temannya menunjukkan bakatnya. Mereka terlihat sangat bahagia. Rumah itu menjadi sangat ramai. Chaca duduk di samping Dewi, ia merengkuh tubuh wanita itu yang tidak sekalipun terlihat senyum di bibirnya. Andra dan Amel juga sempat berduet. Mereka sangat romantis.


Sampai dipenghujung acara, Gandhi menyanyi sebagai penanda berakhirnya acara pada malam tersebut. Ia menyanyikan beberapa lagu mellow, yang bertema perpisahan.


"Pak, lagunya bawaannya pengen nangis terus. Yang happy napa, Pak," protes seorang rekan laki-laki yang diiyakan oleh semua orang.


Setelah dirasa cukup, Gandhi memberikan beberapa kata sambutan.



"Ehm! Selamat malam semuanya. Sebelumnya aku ucapkan banyak terima kasih karena mau hadir di sini. Bisa dibilang ini acara syukuran rumah baru. Yang kedua adalah undangan resepsi pernikahanku dengan Chaca. Besok hari minggu kalian semua wajib datang ke rumah utama di Jalan Merpati no.53." Gandhi menghela napas panjang dan menghembuskannya kasar.


"Dan yang terakhir, aku mau mengucapkan banyak terima kasih kepada kalian semua. Atas kerja keras team kita selama ini. Mohon maaf atas semua kesalahan yang aku sengaja maupun tidak. Dan maaf jika selama aku memimpin banyak kekurangannya," ucap Gandhi dengan mata memerah.


Tenggorokannya tercekat, ruangan yang tadinya ramai kini begitu sunyi. Mereka menghentikan aktivitas masing-masing, saling pandang lalu menatap Gandhi bingung. Sementara Dewi, air matanya semakin mengalir deras.


"Mulai hari ini, aku bukan lagi atasan kalian," ucap Gandhi setelah memejamkan mata.


Semua orang terkejut, banyak diantara mereka yang langsung menangis mendengarnya. Ada pula yang mengira ini hanya prank belaka. Gandhi turun dari panggung kecil itu. Kedua tangannya merentang, semua orang berlari menghambur ke pelukannya.


Mereka tak kuasa menahan air mata. Isak tangis memenuhi seisi ruangan. Semuanya saling merangkul dan memeluk Gandhi.


Chaca bersandar pada meja, ia juga turut menangis melihat pemandangan haru itu. Banyak yang menyayangi suaminya.


Jangan menjelaskan tentang dirimu kepada siapapun, karena yang menyukaimu tidak butuh itu. Dan yang membencimu tidak percaya itu.


Bersambung~

__ADS_1


__ADS_2