
Chaca POV
Bersyukur, satu kata yang mampu mewakili kebahagiaanku saat ini. Mendapatkan suami yang begitu perhatian, penyayang, super pengertian dan sabar dengan semua sikapku.
Tidak akan seperti ini jika bukan dia suamiku. Menikah muda, bagiku bukan satu hal yang menyeramkan seperti yang orang-orang katakan. Justru, aku mendapatkan kebahagiaan berkali-kali lipat. Ketika hati sudah tertambat dengan orang yang tepat kenapa harus berlama-lama?
Bisa melakukan apapun dengan pasangan tanpa takut dosa dan tanpa nyinyiran tetangga. Bahkan jika tidak melakukannya malah berdosa. Ah apalagi nikmat surga dunia.
Pagi ini, aku membuka mataku ketika sang fajar mulai menyingsing. Pandangan yang selalu kudapatkan setiap pagi. Wajah polos suamiku saat tertidur. Wajah yang selalu menghiasi hariku, wajah yang selalu membuatku damai, tenang dan bahagia.
Jemariku membelai pipinya lembut, lalu menyusuri mata, hidung dan bibirnya. Betapa sempurnanya kamu, Mas. Ditambah semua sikap dan perlakuanmu yang lembut. Aku semakin tergila-gila. Aku semakin mencintaimu Mas Gandhi.
"Pagi, Sayang," ucapnya dengan suara serak khas bangun tidur.
Ia menyentuh tanganku dan menciumnya. Matanya masih terpejam, mungkin ia masih mengantuk.
"Maaf, Mas. Aku mengusik tidurmu ya?" ucapku ragu.
"Tidak, sebentar lagi subuh 'kan?" sahutnya mengeratkan pelukan dan mencium keningku.
Aku mendengar dentuman jantung yang sangat keras.
Suara jantung siapa ini?
Tak berapa lama, suara azan berkumandang. Mas Gandhi pergi ke masjid terdekat. Karena aku sedang berhalangan. Biasanya sih selalu berjamaah di rumah.
Kemudian aku ikut beranjak, terbiasa mandi jam segini jadi aku memutuskan untuk mandi. Setelahnya, aku tidak bisa tidur kembali.
Aku memutuskan untuk ke dapur. Membuka lemari pendingin dan mengeluarkan bahan-bahan masakan.
Hufffttt! Masak apaan ya?
Dulu Bunda yang selalu meracikkan bumbu-bumbunya. Aku hanya membantunya. Jadi tidak begitu mengerti bumbu apa saja yang digunakan.
Aku duduk di kursi yang ada di dekat meja dapur. Lenganku menopang dagu, tanganku sibuk menyibak aneka sayur yang masih bingung harus kuapakan. Tak berapa lama, terdengar pintu terbuka.
__ADS_1
"Sayang! Sini!" seruku saat melihat Mas Gandhi berjalan hendak menaiki tangga.
Ia menoleh dan tersenyum, manis sekali suamiku itu. Namun tetap saja ia terus melajukan langkahnya.
"Iihh kesel deh dicuekin!" gerutuku menyandarkan kepala di atas meja.
Tiba-tiba ada tangan melingkar di bahuku. Aku menegakkan posisi duduk, lalu sebuah kecupan mendarat di keningku.
"Apa, Sayang? Tumben nggak tidur lagi?" tanya Mas Gandhi menyentuh tanganku lalu mengecupnya.
"Ajarin masak dong, Mas. Sewaktu sama Bunda, beliau yang selalu meracik bumbu-bumbunya," ucapku apa adanya.
Ia mengusap rambutku pelan, lalu memilih kangkung, ikan nila dan tempe. Sisanya ia masukkan lagi ke kulkas.
"Kita mulai dari yang mudah dulu ya," ucapnya menyiapkan semua peralatan masak.
"Ok, Boss!" sahutku bersemangat.
Aku mulai memetik sayur yang sedikit lengket itu sampai habis. Sesuai takaran yang diambilkan Mas Gandhi. Sedangkan dia, mencuci dan membersihkan kotoran ikan. Aku nggak tahan baunya, rasanya mau muntah.
"Sayang, siapin bumbunya terus diuleg," serunya kemudian menyebutkan semua bumbunya.
"Yang serbuk kecoklatan, cium aja yang kerasa pedes," sahutnya.
Aku melakukan apa yang disuruh. Kubuka toples kecil-kecil yang berjajar pada rak bumbu. Aku menghirupnya. Pada pilihan kedua hidungku terasa pengar dan begitu pedas hingga bersin berkepanjangan.
Mas Gandhi menghampiriku, mengusap air mata yang menggenang karena kepedesan oleh bawang sekaligus lada tadi.
"Semangat, Sayang. Kalau sudah terbiasa pasti mudah dan nggak nangis lagi," ucapnya mengecup keningku sekilas.
Aku menganggukkan kepala, setelah bumbunya siap aku mulai menumisnya. Mas Gandhi menuntun tanganku, satu lengannya melingkar pada perutku. Ia memelukku dari belakang. Sesekali mencium puncak kepalaku.
'Jadi makin sayang 'kan punya suami paket lengkap gini.'
Hal yang sama dilakukan ketika menggoreng ikan. Karena aku takut, dulu mataku terciprat minyak goreng. Dan itu membuatku trauma, namun jika dibimbing sambil dipeluk dari belakang gini siapa yang nggak betah.
__ADS_1
Setelah selesai semuanya, kami menghidangkan di atas meja. Aku sudah duduk ingin mencicipinya. Namun ada yang kurang.
"Astaga! Mas, belum masak nasinya," seruku menepuk jidat lalu kembali beranjak.
"Kok bisa lupa? Mau makan lauk aja nih?" candanya menggelengkan kepala.
Aku mulai mengeluarkan beras dan mencucinya. Lalu memasukkannya ke dalam magic com. Kutuangkan air sesuai anjuran Mas Gandhi kemudian menekan tombol cook setelah kabelnya kucolokkan stop kontak.
Sambil menunggu, kami berjalan-jalan santai di depan rumah. Hari masih terlalu pagi, tidak banyak orang berlalu lalang. Aku juga belum kenalan sama tetangga-tetangga sini sih.
Saat kurasa cukup lelah, aku meminta masuk kembali. Tujuanku langsung ke dapur. Dan berbinar ketika melihat nasi sudah matang. Perut yang sudah keroncongan, membuatku bersemangat segera mengambilnya dan membawanya ke meja makan.
Aku sangat puas, meskipun masih ada campur tangan Mas Gandhi tapi setidaknya sudah ada kemajuan.
"Makanan yang dimasak penuh cinta, pasti rasanya istimewa. Makasih Sayang," ucap mas Gandhi.
Aku menyunggingkan senyuman, "Cinta kita. Kan tadi berdua masaknya," sahutku setelah menelan satu suapan yang memang sangat enak di lidah.
...----------------...
Setelahnya, aku bersiap berangkat ke kampus. Diantar sama suami pastinya. Ia juga hari ini mulai bekerja.
Sepanjang perjalanan, kami terus bersenda gurau. Sampai pada akhirnya aku sampai di pelataran kampus. Aku turun dan berjalan meniggalkannya sambil melambai. Ia bersandar di mobil menungguku sampai menghilang dari pandangan.
Aku berkeliling mencari letak kelasku. Karena terlalu fokus, aku menabrak seseorang sampai terjatuh.
"Aduh, maaf," ucap gadis itu lembut. Ia beranjak dan mengulurkan tangannya.
"Nggak apa-apa, aku juga salah kok," sahutku menyambut uluran tangannya.
Akhirnya kita berkenalan, namanya Andin. Dan kebetulan kita satu jurusan. Jadilah kami berjalan bersisian ke kelas. Aku duduk dekat dengannya. Saking asyiknya ngobrol dengan Andin, aku tidak menyadari jika ternyata dosen sudah memasuki kelas.
"Ehem! Seru sekali ya ngobrolnya," sindir suara pria yang begitu aku kenal.
Aku menghentikan gurauan, kemudian berbalik mengahadap ke depan. Mataku membulat dengan sempurna saat melihat seorang pria yang berdiri di atas podium.
__ADS_1
"Dia dosenku?" gumamku pelan.
Bersambung~