Duda Tapi Perjaka

Duda Tapi Perjaka
[Season 2] Untitle


__ADS_3

"Mau coba kamar baru?" godaku mengedipkan sebelah mata.


Chaca yang mengerti maksudku menyembunyikan mukanya yang memerah di dada bidangku. Aku meniti anak tangga satu per satu secara perlahan.


Sampailah pada kamar utama yang berdekatan dengan tangga tersebut. Sebuah kamar yang tentu tidak seluas dengan kamar di rumah Papa. Kamar itu bernuansa coklat muda, dari warna cat dinding, hingga tirainya berwarna senada.


"Sayang," bisikku pada daun telinganya membuat Chaca menggeliat dan menatapku sejenak.


Ia memaksa turun dan berdiri. Kedua matanya melihat sekeliling kamar dengan tatapan yang sulit diartikan. Aku mendudukkan diri di ranjang.


"Sayang, maaf. Mungkin kamar ini nggak sebesar kamar kamu di sana. Semoga kamu nyaman ya. Dan kalau kamu nggak suka sama property atau desain interiornya, kamu boleh mengubahnya sesuka hati," ucapku menariknya dalam pangkuanku.


Chaca tersenyum melihatku, ia mengalungkan lengannya pada kedua bahuku. Mencium bibirku sekilas.


"Terima kasih banyak, Sayang. Apapun akan terasa berharga asalkan selalu bersamamu," ucapnya dengan senyum yang tidak memudar sedari tadi.


Aku lega, Chaca mau menerimaku apa adanya. Bahkan sedari dulu. Tanpa melihat harta maupun tahta yang aku punya.


Meskipun ternyata kedua orang tuaku bergelimang harta, tapi aku merasa sungkan jika harus turut menikmatinya, tanpa ikut mengalirkan keringat jerih payah satu tetespun.


Aku menatap kedua bola mata sipit milik Chaca bergantian. Terpancar cinta dan ketulusan dari sana. Kuraih rambutnya yang menutupi sebagian wajah cantik itu, kuselipkan pada belakang telinganya.


"Kenapa kamu sangat cantik, Sayang?" ucapku tidak tahan jika melihat bibirnya yang menganggur itu.


Aku menahan belakang kepalanya, mendekatkan kepalaku untuk mempertemukan kedua bibir kami yang sudah kehausan sedari tadi. Mereguknya, merasakan rasa manis dari bibir tipis itu.


Aku merebahkannya tanpa melepas tautan bibir kami. Jemariku sudah menggelayar ke mana-mana. Ciuman itu beralih ke leher jenjang Chaca. Hingga meninggalkan beberapa jejak di sana.


Desahan yang tercipta dari bibirnya membuatku semakin bergejolak. Aku memiringkan tubuhnya melepaskan resliting gaun yang dikenakannya.


Sampai kedua bukit kembarnya menyembul seolah menantang untuk segera aku jamah. Chaca semakin menggeliat tak beraturan. Sampai tiba-tiba, tangannya menghentikan gerakanku.


"Kenapa, Sayang?" ucapku serak sudah dipenuhi oleh hasrat membara.


"Sebentar, Mas," sahutnya panik.


Ia tiba-tiba berlari ke kamar mandi. Aku khawatir dengannya. Ada apa? Batinku bertanya-tanya. Pintu tertutup dengan begitu kerasnya.

__ADS_1


Aku mengikutinya, berdiri di depan pintu kamar mandi, bersandar pada tembok dan melipat kedua lengan.


Sampai terdengar suara pintu terbuka. Chaca menunduk lesu, tubuhnya seolah tidak bertenaga. Aku mendongakkan kepalanya. Terlihat matanya berkaca-kaca.


"Hei, ada apa Sayang?" ucapku merengkuh tubuhnya dalam dekapanku.


"Maaf, Mas," tukasnya menangis dalam pelukanku.


Aku semakin bingung, "Ngomong yang jelas, jangan bikin aku khawatir. Ada apa, Sayang?" tanyaku melepas pelukan dan memegang kedua pipinya.


"Aku ... aku ... datang bulan," ujarnya terbata-bata. Air matanya mengalir semakin deras.


"Astaga, aku pikir apa!" decakku kembali memeluknya.


"Nggak apa-apa, Sayang. Kenapa sampai menangis? Aku justru takut jika aku menyakitimu tadi. Ssshhh ... udah ya, sekarang istirahat aja yuk," ajakku kemudian.


Chaca menarik lenganku, membuatku menghentikan langkah dan menoleh. "Kenapa, Sayang? Mau digendong lagi?"


Chaca menggeleng pelan, "Aku nggak bawa pembalut," tuturnya menundukkan kepala semakin dalam.


"Udah deres banget, Sayang. Nanti kalau tembus gimana? Aku malu," sahutnya menggigit bibir bawahnya.


Oke aku mengerti arah pembicaraannya. Aku mencium bibirnya sekilas dan membelai kedua pipinya lembut.


"Kirim ya yang biasa kamu pakai. Aku cariin, tunggu di sini," ucapku lalu melenggang pergi.


Aku merapikan kemejaku, memakai jaket putih lalu mengambil ponsel dan kunci mobil. Kembali menuruni tangga dan bergegas menjalankan mobil agar sampai di minimarket terdekat.


Selang beberapa menit, aku menemukannya. Buru-buru aku masuk dan mencari lorong tumpukan pembalut. Banyak pasang mata yang menatapku dan berbisik di belakangku. Aku tidak peduli.


Begitu banyak sekali jenisnya. Aku pusing mencari yang sesuai dengan yang biasa dipakai Chaca. Aku berjalan mencari salah satu karyawan di sana.


"Mas, tolong ambilin yang sama kayak gini dong," ucapku pada salah seorang karyawan pria yang mengenakan seragam merah itu.


Dia sempat menahan senyumnya saat melihat benda yang aku tunjukkan. "Buruan Mas, malah senyam senyum!" kesalku.


"Iya maaf, Mas," sesalnya lalu beralih ke lorong yang sempat aku singgahi tadi.

__ADS_1


Tangannya mengulur mendapatkan benda yang aku cari sedari tadi. Aku memintanya untuk membawakan 10 pcs ke kasir. Sedangkan aku pergi ke cooller mengambil sebuah minuman.


Cuaca yang panas ditambah hasrat yang tertunda membuatku butuh sesuatu untuk mendinginkannya. Aku meneguknya sembari menunggu antrian pembayaran karena saking tidak tahannya.



Setelah melakukan pembayaran, aku segera kembali melajukan mobil. Dengan kecepatan sedikit kutambah. Karena nggak mau Chaca menunggu terlalu lama.


Sesampainya di rumah, aku setengah berlari menaiki tangga mencapai kamar. Lalu dengan napas terengah, aku mengetuk pintu kamar mandi.


"Sayang, ini pembalutnya," ucapku setengah berteriak.


Pintu terbuka sedikit, tangan mulus Chaca terulur mengambil plastik dari tanganku. Setelah beberapa menit Chaca keluar dari ruangan kecil itu.


"Mas, banyak banget belinya," ucap Chaca sambil menutup pintu.


Kemudian ia berjalan dan duduk di tepi ranjang. Aku mengikutinya, "Bukannya lama ya kalau sedang 'gitu'?" ucapku mendudukkan diri di sampingnya.


Chaca terkekeh, "Dua aja cukup, Sayang. Paling lama seminggu. Makasih banyak ya. Maaf aku ngrepotin," tukasnya memelukku erat.


Harum rambutnya menyeruak di indera penciumanku, aku membalas pelukannya dengan menahan gejolak yang kembali bangkit.


"Maaf, aku tidak bisa melakukannya Mas. Kita libur seminggu," ucapnya lirih namun masih bisa kudengar.


"Nggak apa-apa, Sayang," desahku menghela napas panjang.


Dalam hatiku menangis, Cha.


Bersambung~


Author note:


~ Wahai kaum Adam, semoga kamu bisa seperti Mas Gandhi. Nggak malu membeli benda keramat wanitamu. Percayalah kamu akan terlihat istimewa jika melakukannya.


~ Buat ladies semoga suami kalian seperti itu ya 😚


Maap ya kemarin mati lampu gengs sehari semalem... ga bisa update...

__ADS_1


__ADS_2