Duda Tapi Perjaka

Duda Tapi Perjaka
[Season 2] Salah Sasaran


__ADS_3

"San," sapaku menepuk bahunya.


Santi menoleh, terlihat sisa-sisa air mata pada kedua matanya. Ia menampikkan senyuman yang dipaksakan.


"Mas, selamat ya," ucapnya menyodorkan tangannya.


Aku menjabatnya lalu mengucapkan terima kasih. "Kenapa kamu tidak makan?" tanyaku yang melihatnya kembali terdiam. Pandangannya kosong lurus ke depan.


"Aku, tidak lapar Mas," sahutnya tanpa menoleh ke arahku.


"San, jangan seperti itu. Oiya kok bisa tahu kalau hari ini aku nikah?" tanyaku bersandar pada tembok di sampingnya.


Santi tersenyum getir, kedua matanya berkaca-kaca. Namun pandangannya masih lurus ke depan.


"Dari Mama kamu Mas. Tante Alice juga yang membelikan kami semua gaun dan pakaian. Kamu jahat banget, di hari bahagia enggak undang adik-adik," ucapnya melipat kedua lengannya di dada.


"Iya aku minta maaf, semua serba mendadak. Aku bahkan tidak kepikiran mengundang siapapun," ucapku menariknya ke meja makan.


Aku beranjak mengambilkannya beberapa makanan. Tak lupa minumannya pula. Aku yakin dia belum makan.


"San, gimana kabar kamu dan adik-adik?" tanyaku meletakkan piring di hadapannya.


Aku menarik kursi dan mendudukkan diri di depannya. Menurutku dia sudah tidak canggung lagi. Mungkin sudah bisa menerima aku sebagai kakaknya.


"Baik Mas, Paman Dul dan istrinya mau tinggal di panti. Karena anak-anaknya sudah besar. Sesekali pulang sih. Tapi banyak waktu beliau di panti. Oiya Om Xander juga sekarang jadi donatur tetap Mas," ucapnya tersenyum lalu mulai memakan makanannya.


"Syukurlah, kamu yang kuat ya. Demi adik-adik, aku kalau ada waktu pasti sempetin ke panti," tukasku.


Santi mengangguk, kemudian aku berpamitan padanya. Kini aku beranjak berdiri, melihat sekeliling mencari-cari seseorang. Siapa lagi kalau bukan Andra dan istrinya. Kenapa sejak tadi pagi mereka tidak kelihatan batang hidungnya?


"Sayang, lihat Andra atau Mbak Amel nggak?" tanyaku memeluk Chaca dari belakang mencuri ciuman di pipinya.


"Om!" pekiknya membelalak.


"Ada adik-adik juga," imbunya geram dengan suara pelan.


Aku mengendikkan bahu cuek, kemudian menarik kursi dan duduk di sampingnya. Tangan kananku menopang dagu di atas meja, sedangkan satunya memegang jemari Chaca yang bersembunyi di balik meja.


"Eh iya, dari pagi nggak lihat Mbak Amel sama Mas Andra ya Om. Coba deh telpon, takut kenapa-napa," sarannya khawatir.


Aku mengangguk, mengambil ponsel di saku. Tersambung, namun tidak ada jawaban. Aku tidak menyerah, terus mencoba menelponnya.

__ADS_1


"Halo," terdengar suara serak di ujung telepon.


"Mbak, Mbak Amel kenapa?" Aku beranjak dari duduk mencari tempat yang sepi dan menajamkan pendengaranku.


"Gan, maaf kami tidak bisa hadir. Perjalanan ke rumahmu, kami kecelakaan," ucap Mbak Amel pelan.


Aku terkejut, membulatkan kedua mataku. Rasanya tidak percaya dengan apa yang baru saja kudengar. Aku menghela napas berat mencoba untuk tenang.


"Mbak, tenang ya. Sekarang posisinya di mana?" ucapku berusaha tidak panik.


Setelah mendapatkan informasi, aku segera menghampiri Chaca. Memintanya untuk berganti pakaian yang lebih simpel. Namun tidak memberi tahukan keadaan Andra.


Tanpa banyak tanya, Chaca pun mengangguk dan menurutiku. Sembari menunggu berganti pakaian, aku menghampiri Mama dan Papa.


"Ma, Pa, Andra kecelakaan waktu ke sini. Sekarang, Gandhi sama Chaca mau ke rumah sakit," pamitku.


"Loh, kapan? Bukannya mereka pakai mobil kamu Gan?" tanya Papa terkejut.


"Bagaimana keadaannya?" timpal Mama.


"Iya, Pa dia pakai mobil Gandhi kemarin. Belum tahu Ma, makanya kami mau ke sana. Kasihan Mbak Amel sendirian," tukasku meyakinkan.


Chaca datang setengah jam kemudian, kami segera berangkat menuju rumah sakit. Aku mencium punggung tangan Mama dan Papa diikuti Chaca. Aku menggandeng tangannya, ia terlihat bingung, namun mengikuti langkahku.


"Om, kita mau ke mana?" tanyanya berjalan di sampingku.


Aku memutuskan menggunakan mobil yang dulu sering dipakai Chaca. Kubukakan pintu untuk istri cantikku yang masih kebingungan itu. Setelahnya, aku segera berjalan ke seberang pintu dan duduk di balik kemudi.


"Kita ke rumah sakit, Sayang," ucapku mulai menjalankan mobil perlahan.


Kulajukan perlahan menyusuri jalan raya, tidak terburu-buru. Speedometer di bawah setir hanya berkisar di angka 40 sampai 50.


"Siapa yang sakit, Om?" tanyanya menatapku.


"Jangan panik Sayang, kita doain aja semoga baik-baik saja. Andra dan Mbak Amel kecelakaan waktu mau ke rumah kita," ucapku mengusap kepalanya lembut.


Chaca membulatkan kedua matanya, ia menutup mulutnya tidak percaya. Aku meraih tangan kanannya dan mengusapnya lembut.


"Ba-bagaimana keadaan mereka, Om?" tanyanya panik.


"Belum tahu Sayang, makanya kita ke sana sekarang," jawabku mengulas senyum.

__ADS_1


Pandanganku kembali fokus ke depan, tak butuh waktu lama kami telah sampai di rumah sakit. Setelah turun, Chaca menghampiriku. Kami berjalan dengan tangan Chaca melingkar pada lenganku.


"Mbak, ada pasien kecelakaan bernama Andra dan Amel?" tanyaku di bagian resepsionis.


"Oh, iya Mas. Masih ditangani di ruang IGD," sahut seorang wanita berpakaian serba putih.


Aku berterima kasih, lalu mempercepat langkah menuju ruangan tersebut. Dari kejauhan, terlihat Mbak Amel duduk di kursi tunggu. Menopang dagu dengan kedua tangannya, pandangannya kosong.


Chaca melepaskan diri dari lenganku, lalu menghampiri Mbak Amel. Ia memeluk istri sahabatku itu, memberikan ketenangan.


"Gimana keadaannya Mbak? Lalu Mbak sendiri apa ada yang luka?" tanyaku setelah berdiri di depannya.


"Semoga tidak apa-apa. Ia hanya terluka di bagian keningnya dan lengan kanannya. Aku tidak apa-apa, hanya shock saja. Maaf ya kami enggak bisa hadir di pernikahan kalian," sesalnya merasa bersalah.


"Tidak masalah Mbak, kalau boleh tahu gimana kronologinya?" sahut Chaca masih mengusap punggung Mbak Amel. Ia terlihat shock.


Belum sempat menjawab pintu ruangan itu terbuka. Dokter mengatakan bahwa tidak ada luka serius yang dialami oleh Andra. Kami semua mendesah lega, terutama Mbak Amel. Aku tidak sabar ingin bertemu dengannya. Ingin memastikan kejadian yang baru saja dialaminya.


"Cemen, gitu aja sampe dibebat sih," ujarku berpura-pura hendak menyentil keningnya.


"Om!" pekik Chaca menghentikan tanganku.


"Bro, sorry nih. Mobil kamu rusak," ucap Andra lemah.


Aku melipat lenganku di dada. "Nggak mau tahu, beliin yang baru," candaku dengan nada serius.


Andra hanya mengulas senyum, Mbak Amel menundukkan kepalanya. Mungkin dikira serius. Sebuah cubitan mendarat di pinggangku membuatku meringis.


"Sakit, Sayang!" seruku mencubit kedua pipinya.


"Ya makanya kalau lagi serius jangan bercanda, Om, kesian Bang Andranya" bisik Chaca di telingaku.


Aku hanya meringis. "Iya iya Sayang," ucapku menarik pinggangnya dari samping ke pelukanku.


"Ceeeh pengantin baru! Oiya Gan, kamu harus hati-hati dan waspada. Sepertinya ada yang mengincarmu," ucap Andra pelan.


Pernyataan itu membuat Chaca dan Mbak Amel terkejut. Aku, ada seseorang yang kucurigai tentunya. Kulipat kedua tangan di dada.


"Bagaimana kejadiannya?" tanyaku serius.


Bersambung~

__ADS_1


__ADS_2