Duda Tapi Perjaka

Duda Tapi Perjaka
Bab 38


__ADS_3

Sudah satu bulan berlalu, rumah tangga Gandhi sama sekali tidak ada kemajuan. Mereka kerap sekali berdebat hal-hal yang tidak penting. Tidur pun selalu di kamar terpisah.


Semua sama saja bagi Gandhi. Yang berbeda hanya tanggung jawab dan beban hidupnya kini bertambah. Sudah satu bulan pula ia tidak pernah saling bertukar kabar dengan Chaca.


Terbesit kerinduan mendalam di hatinya. Namun sadar akan status, ia mencoba menekan perasaan itu. Meski sendirinya semakin tersiksa.


"Mas, aku nanti mau ke rumah sakit ya. Mau periksa kandungan," ucap Ayu meminta izin.


"Iya," balasnya singkat. Lalu beranjak ke kamar, beberapa saat kemudian kembali dengan membawa amplop di tangannya. "Ini, belanja bulanan dan untuk periksa kandungan. Tapi maaf, besok kerjaanku padat banget. Jadi nggak bisa nemenin," ujarnya mengulurkan amplop berwarna coklat.


Ayu menerimanya, "Makasih," ucapnya.


"Hem. Istirahatlah sudah malam." Gandhi lalu kembali ke kamarnya.


Tubuhnya terasa amat lelah. Namun kedua manik matanya tak mampu terpejam. Bayang-bayang akan Chaca terus berputar di otaknya.


"Cha, kamu apa kabar?" gumamnya pada diri sendiri.

__ADS_1


Malam semakin larut, namun justru semakin ramai di sebuah club ternama di kota itu. Seorang gadis asyik berlenggak-lenggok bersama teman-temannya. Pakaian yang dikenakan sungguh tak layak disebut pakaian. Tanktop hitam dengan rok denim berukuran lima belas centimeter dari lutut.


Yah, dia Chaca. Semenjak pertemuan terakhirnya dengan Gandhi ditambah perlakuan buruk kedua orang tuanya, menjadikannya semakin liar.


Ia selalu keluar rumah mengendap-endap saat orang rumah tengah terlelap. Melampiaskan sakit hatinya dengan mabuk-mabukan, merokok, berjoget sepuasnya dengan teman-temannya.


"Cha! Udah jam 2 nih. Pulang yuk," ajak salah satu temannya di telinga Chaca. Karena memang genderang musik yang memekakkan telinga.


"Hah? Bentar lagi deh." Chaca mengelak.


"Besok ujian Chaca! Lu mah enak punya otak encer. Sambil merem juga bisa ngerjain soal. Ayo pulang dong." Tangan Chaca diseret keluar.


Kunci cadangan selalu ia bawa. Sehingga tak kesulitan untuk masuk ke dalam rumah yang besar itu. Para satpam tentu saja tahu setiap hari nonanya berkeliaran hingga tengah malam. Namun mereka bungkam, tak ada yang berani mengadu pada tuan maupun nyonya besarnya.


"Kasian ya, Jang. Anak atu-atunya dibiarin, ampe nyari pelampiasan dengan jalan yang salah," Ujar salah seorang satpam setelah membukakan pintu gerbang.


"Yah, mau gimana lagi, Jo. Mereka lebih mentingin harta. Padahal anak mah harta yang paling berharga," sahut Ujang sang tukang kebun.

__ADS_1


Mereka meratapi nasib nona mudanya yang terjerumus dalam pergaulan yang salah. Akibat kurangnya perhatian orang tua.


Sebelum tidur, Chaca membersihkan tubuhnya. Mengenakan piyama dan tak lupa selalu minum obat pereda mabuk dan pusing. Dia berharap dengan begitu ia bisa melupakan Gandhi.


Pagi harinya, Ayu sudah bersiap memeriksa kandungannya yang baru berumur 10 minggu itu. Sikap Gandhi masih sama. Meski terkesan tak acuh namun sebenarnya pria itu perhatian. Emmm... hanya sekedar memenuhi tanggung jawabnya.


"Berangkat bareng boleh, Mas?" tanya Ayu ketika mereka selesai sarapan.


"Hemm," gumamnya beranjak mengambil tas kerja lalu segera memanasi mobil.


Ayu pun sudah duduk manis di kursi penumpang depan. Tak ada pembicaraan apa pun seperti biasanya. Diam dalam pikiran masing-masing.


Setelah mengantar Ayu, Gandhi langsung melaju lagi menuju kantornya tempat mengais rizki.


***


Hari sudah hampir siang. Matahari menyengat kulit siapapun yang ada di bawahnya. Ayu berjalan keluar area rumah sakit ketika selesai dengan pemeriksaannya untuk mencari taksi.

__ADS_1


Ia celingukan, matanya tiba-tiba membulat. Tubuhnya menegang dan degub jantungnya tak terkendali kala melihat seseorang yang sangat familiar.


Bersambung~


__ADS_2