
Ayu semakin ketakutan. Kepalanya menunduk semakin dalam. Kedua tangannya meremas ujung baju yang ia kenakan. Air matanya hampir menetes.
"Kamu? Haahh!" Gandhi mendesah kasar. Dadanya terasa sesak. Matanya memerah. Sungguh ia benar-benae kehilangan harga diri sebagai seorang suami.
"Aku terima kamu menghinaku, merendahkan pekerjaanku, meremehkan penghasilanku, aku terima semuanya Ayu. Tapi...."
Gandhi menyeka sudut mata dengan kedua jemarinya. Air matanya menerobos tanpa diminta. Hatinya sungguh disayat sembilu. Ia bahkan belum pernah meminta haknya. Ayu sendiri selalu ketus padanya.
"Aku tidak terima kamu mengotori rumahku dengan perbuata hina seperti itu!" pekiknya dengan nada tinggi.
Ayu tak berani menjawab, hanya isak tangis yang terdengar. Ia tidak menyangka Gandhi akan pulang siang -siang seperti ini. Karena sebelumnya memang tidak pernah.
Mereka terdiam cukup lama. Bahkan waktu istirahat Gandhi sudah hampir habis. Tapi tak ada niat sedikitpun ia beranjak dari duduknya. Menikmati setiap sesak yang menghujam jantungnya. Walau tak ada cinta dalam pernikahan mereka, tetap saja status mereka yang sakral membuat Gandhi benar-benar terluka. Ayu telah menumpahkan noda dalam ikatan suci mereka.
"Mulai sekarang, aku bebaskan kamu. Pergilah kemanapun dan bersama siapa pun yang kamu mau. Aku menjatuhkan talak tiga untukmu. Aku menceraikanmu detik ini juga, Ayu," tegas Gandhi penuh keseriusan.
Ayu tergagap, bibirnya bergetar. Ia belum siap untuk itu. Seharusnya bahagia 'kan? Tapi entah mengapa wanita itu merasa belum siap.
__ADS_1
Belum siap kehilangan pria sebaik Gandhi. Pria baik yang tidak mengenalnya namun memperlakukannya dengan baik. Bahkan mau bertanggung jawab atas apa yang sama sekali tidak pernah ia perbuat. Juga tidak melakukan pembelaan ketika kedua orang tuanya menyalahkan dan menyudutkan Gandhi.
Pernikahan yang baru berjalan satu bulan, harus kandas karena kesalahannya sendiri. Meski ia mencintai Anjar, namun pria itu sama sekali tidak menunjukkan rasa empati atau tanggung jawab sedikit pun.
Terbukti dengan suara deru mobil yang dinyalakan lalu menjauh pergi dari rumah Gandhi. Sepertinya dia kabur melalui jendela di kamar Ayu.
"Maafin aku, Mas," gumam Ayu menangis, menundukkan kepalanya dalam.
Gandhi sontak menoleh keluar, tampak mobil yang tadi terparkir meninggalkan halaman rumahnya.
Ayu mengangguk sembari menyeka air matanya. Gandhi menghela napas panjang. Meraih lengan Ayu sambil berdiri.
"Ayo, dia harus bertanggung jawab!" Tatapan matanya nanar. Ayu mendongak, menatap manik hitam Gandhi yang tersirat luka di dalamnya.
"Ta... tapi, Mas." Ayu menyela.
"Jangan lakukan hal-hal yang percuma. Cepatlah sebelum mobil itu semakin jauh." Gandhi menarik lagi lengan itu. Ia harus mengembalikan apa yang harusnya menjadi milik orang lain.
__ADS_1
Akhirnya Ayu pun menurut. Ia mengikuti langkah Gandhi yang terburu-buru masuk ke mobil. Ayu pun dengan cepat duduk di kursi penumpang.
Gandhi memacu kendaraannya dengan kecepatan penuh. Ia ingat sekali plat nomor di mobil honda jazz tadi. Karenanya, ia tidak ingin kehilangan jejak.
"Kamu tahu rumahnya?" tanya Gandhi melirik dengan ekor matanya.
Ayu hanya mengangguk. Ia bahkan malu untuk sekedar bersuara.
"Bagus, di mana?" sambung Gandhi lagi.
Ayu menyebutkan alamat Anjar yang pernah ia datangi. Namun mendapat penolakan keras dari orang tua Anjar.
Tak berapa lama, saat mereka melalui sebuah mall tampak mobil yang dikendarai Anjar memasuki pelataran mall tersebut.
"Mas, itu...." Ayu menunjuk, mata Gandhi mengikuti jemari Ayu. Ia mengangguk lalu turut memasuki area mall tersebut. Melupakan pekerjaannya sejenak, melupakan meeting yang sangat penting bagi perusahaan tempatnya bekerja.
Bersambung~
__ADS_1