
Keesokan harinya, Chaca bersiap untuk melakukan pemeriksaan. Chaca dan Gandhi kini sudah duduk di kursi roda. Papa mendorong kursi roda Chaca sedangkan mama mendorong kursi roda Gandhi.
"Sayang, kamu mau periksa apa?" tanya Gandhi memegang erat tangan istrinya. Mereka berjalan beriringan. Chaca tersenyum misterius.
"Nanti juga tahu," sahutnya.
Seorang perawat memimpin jalan untuk mengantarkan mereka. Hingga sampailah di depan sebuah ruang pemeriksaan tertuliskan dr. Anna, Sp.OG.
Gandhi dan Mama Alice mengerutkan kening. Mereka terkejut kenapa masuk ruangan poli kandungan? Dokter Anna menyambut mereka dengan senyum merekah.
"Hallo Chatrine, apa yang kamu rasakan sekarang? Masih terasa mengeluarkan darah?" tanya Dokter Anna lembut sambil melihat rekam medis Chaca.
"Sepertinya masih, Dok. Tapi tidak terlalu deras," sahut Chaca dengan was-was.
Gandhi dan Mama Alice bertambah bingung saat mendengarkan percakapan mereka berdua. Namun keduanya tidak menyela, turut mendengarkan saja.
"Baiklah, kita akan lihat ya. Bapak mohon dibantu putrinya untuk rebahan di ranjang pemeriksaan ya!" pinta Dokter Anna.
Papa Xander mengangguk lalu merengkuh tubuh Chaca dan merebahkannya di ranjang pemeriksaan. Perawat membantunya mengatur infus lalu menyelimuti hingga pahanya. Kemudian mulai mengolesi gel pada perut Chaca bagian bawah.
Dokter lalu mendekat, mulai menggerakkan alat pemindai (probe) pada permukaan kulit Chaca yang telah diolesi gel. Terlihat gambar hitam putih di layar monitor.
Mama Alice akhirnya mengerti, bahwa ternyata Chaca sedang mengandung cucunya. Seketika ia menangis haru, karena kemungkinan kesakitan Gandhi berhubungan dengan kehamilan Chaca.
"Ada dua kantung," seru Dokter Anna bahagia. Mereka semua masih tidak mengerti.
Dokter Anna tersenyum manis, "Selamat ya Chatrine dan suami. Calon bayi-bayi kalian masih bersemayam dengan nyaman di rahim sang mama. Usianya sudah 6 minggu. Detak jantung keduanya normal. Ingat ya, seminggu ini adalah penentuan penting."
DEG!
Kalimat bayi-bayi yang terdengar membuat jantung seluruh Keluarga Abraham itu berpacu kuat. Gandhi tidak mampu menahan kebahagiaannya. Ingin rasanya ia segera berdiri memeluk dan menciumi istrinya. Tapi kakinya masih lemas belum kuat menopang tubuhnya.
"Jangan banyak bergerak, istirahat yang cukup, minum vitamin dengan teratur, jangan pernah stres. Mohon dukungan semua keluarga agar terus membuatnya dalam perasaan bahagia. Saya akan menambahkan obat penguat kandungan," tukas Dokter melepaskan probe hendak beranjak.
Chaca meraih lengan Dokter Anna, Chaca menghentikan langkahnya. Dokter pun kembali mendekati Chaca.
"Ke ... keduanya, Dok? Maksudnya?" Chaca hendak memastikan ia tidak salah dengar.
"Selamat ya, kamu hamil bayi kembar. Ingat semua pesan saya agar pendarahan lekas terhenti. Bersyukur sekali keduanya termasuk janin yang kuat. Saya akan berikan resepnya," jelas Dokter Anna lalu beranjak. Perawat membantu membersihkan sisa gel di perutnya.
Chaca lalu melihat papa, mama dan suaminya. Mereka semua menangis haru. Chaca tidak mampu membendung air matanya. Sungguh kebahagiaan yang tak terkira menyelimuti keluarga Abraham.
__ADS_1
"Sayang!" ucap Gandhi bergetar. Dia tidak bisa membendung air matanya. Begitu pula dengan Mama Alice yang sudah terisak karena bahagia. Papa Xander melepas kaca mata dan mengusap air yang keluar dari kedua matanya.
Tubuh Gandhi bergetar mendengarnya. Ia segera mendekati Chaca. Kedua tangannya menangkup pipi Chaca. Air mata keduanya tak henti menetes. Air mata kebahagiaan itu sudah cukup mengungkapkan semuanya.
Gandhi berusaha berdiri sambil mendekatkan infusnya. Ia memeluk istrinya dengan erat, keduanya hanyut dalam tangis kebahagiaan. Gandhi menghujani kecupan pada wajah Chaca. Lalu beralih ke perut Chaca yang memang sedikit menonjol.
"Sayang, terima kasih," tukas Gandhi.
Tangannya bergetar menyentuh permukaan kulit Chaca. Ia mengusapnya lembut, lalu menciumi perut Chaca dengan lembut pula.
"Kesayangan-kesayangan Daddy, kalian harus kuat, kalian harus bertahan. Terima kasih telah hadir dalam kehidupan Mommy dan Daddy, Sayang," ucap Gandhi dalam tangisnya. Kembali mencium perut Chaca.
Mama Alice turut mendekati Chaca. Ia memeluknya dengan sayang. Masih diliputi rasa haru yang tak terhingga antara keduanya.
"Selamat ya, Sayang, semoga sehat sampai lahiran nanti," tukas Mama Alice mencium kening Chaca.
"Aamiin, makasih Mommy. Maafin Chaca ya," sahut Chaca dengan tatapan sendu. Mama Alice kembali memeluknya.
Kehamilan bayi kembar berbeda dengan kehamilan tunggal. Biasanya hamil kembar akan mengalami morning sickness lebih parah. Kebetulan Gandhi yang mengalaminya.
Pada pemeriksaan laboratorium, kadar hormon HCG wanita yang hamil anak kembar akan lebih tinggi daripada yang sedang hamil tunggal. Hormon hCG adalah hormon yang diproduksi selama kehamilan. Ini sangat mempengaruhi mood ibu hamil tidak stabil. Begitu cepat berubah-ubah.
Mereka lalu kembali ke ruangan rawat inap dengan wajah berbinar. Papa lalu mengambilkan resep untuk Chaca.
"Mbak, kembar!" teriak Chaca saat melihat Amel masih menunggu di sofa.
Amel lalu berlari menghampiri Chaca. Ia turut bahagia mendengarnya.
"Kalian langsung dua aja. Aku aja mau nambah belum jadi-jadi," celetuk Andra mendapat cubitan dari istrinya membuat Andra meringis kesakitan.
Sore harinya, Andra berpamitan pulang. Dia dan istrinya pulang ke rumah terlebih dahulu. Besok pagi baru berangkat ke Pekalongan lagi.
"Mbak, Mas, terima kasih banyak atas semuanya. Maaf aku ngrepotin kalian terus, salam buat Baby Al ya, Mbak," tutur Chaca sendu.
"Kamu saudaraku, aku nggak akan biarin kamu sedih sendiri. Ingat kalau ada masalah sekecil apa pun diskusi baik-baik. Jangan kabur lagi, ya. Kasihan keluargamu," pesan Amel mengusap kepala Chaca dengan lembut.
Chaca mengangguk dan mengulas senyum. Gandhi pun sangat berterima kasih karena telah menjaga istrinya dengan sangat baik.
...----------------...
Tiga hari kemudian, Chaca kembali melakukan pemeriksaan. Hasilnya, dia sudah tidak mengeluarkan darah atau hanya sekedar flek pun tidak. Karena pikirannya sudah rileks dan merasa bahagia selama beberapa hari ini. Sehingga, dokter menyatakan kehamilannya masih bisa terselamatkan.
__ADS_1
Sedangkan Gandhi masih sering mual muntah. Meskipun sudah tidak sesering seminggu yang lalu. Mereka sudah diperbolehkan pulang. Rey sangat bahagia melihat orang tuanya telah pulang. Ditambah kabar ia akan menjadi seorang kakak dari adik kembar.
Kabar bahagia itu terdengar hingga telinga para karyawannya. Mereka setiap hari bergantian mendatangi kediaman Abraham untuk mengucapkan selamat. Tak terkecuali Ayu dan Santi. Bryan, Andin dan Dewi pun turut datang menjenguk.
Mereka semua turut merasakan kebahagiaan atasannya itu. Mama Alice memaksa Gandhi dan Chaca tinggal di rumah utama. Ia ingin memastikan kondisi anak, menantu serta calon cucu-cucunya dalam keadaan sehat.
Gandhi dan Chaca kini beristirahat di kamarnya karena hari sudah larut. Seperti biasa, Gandhi selalu memeluk istrinya dari belakang.
"Sayang, terima kasih masih mau bertahan denganku hingga di titik ini," ucap Chaca memegang lengan Gandhi.
"Maaf, selama ini aku belum bisa menjadi istri yang baik. Maafin aku yang masih banyak kekurangan," imbuhnya.
Gandhi menghela napas panjangnya. "Sayang, kau hadir memberi cinta, membawa bahagia dan memberikan rasa rindu yang tak ada habisnya. Manusia diciptakan saling berpasangan untuk saling melengkapi kekurangan dan kelebihan pasangan kita." Gandhi mencium puncak kepala sang istri.
Chaca berbalik menghadap suaminya, "terima kasih suami hebatku," tuturnya mencium bibir Gandhi.
"Tidak akan sehebat ini jika bukan kamu yang menjadi pendampingku, Sayang. I love you, ibu dari anak-anakku," sahut Gandhi.
"I love you more, ayah dari anak-anakku," tukas Chaca memeluk erat suaminya.
...TAMAT SEASON 2...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Jangan dihapus ya dari favorite 😘 BTW Ayu blm bersatu ama Lukman😂😂 masih single...
...Mampir juga hayuk di lapak Bryan......
...Prahara Cinta Dua Saudara...
...Bonus pict🤭...
__ADS_1