
"Bagaimana bisa orang seperti Anda diangkat sebagai Manager? Tidak bisa dijadikan panutan!" pekiknya dengan nada tinggi.
Aku menunduk, ya karena memang aku salah.
"Masuk kerja semaunya, bahkan hari ini terlambat sampai 2 jam. Emang kamu pikir ini hotel milik nenek moyangmu apa?" teriaknya lagi.
Busset, aku pikir suara Chaca udah paling tinggu nadanya. Ini ada yang lebih tinggi lagi. Tenang Gandhi jangan panik. Semua akan baik-baik saja.
"Tapi yang penting saya bertanggung jawab, Bu. Mohon maaf sebelumnya karena beberapa bulan ke belakang, saya ada masalah keluarga yang tidak bisa saya tinggalkan," tuturku memberanikan diri mendongak, menatap matanya.
Enggak sopan kalau bicara nggak liat orangnya. Meskipun deg-degan liatnya. Bukan karena jatuh cinta, tapi karena nasibku di ujung tanduk.
"Berani kamu membantah! Masalah pribadi itu ya urusan kamu, jangan membuat alasan klise. Semua orang punya masalah. Dan lagi, apa ini?" serunya membanting sebuah dokumen di meja.
Aku menelan saliva, mending dimarahin Chaca dah. Setiap suara atau teriakannya terdengar indah di telingaku.
"Tanggung jawab apa yang kamu maksud? Semua berantakan, pendapatan menurun drastis. Apa itu bisa disebut profesional? Saya nggak mau tahu, semua harus perfect. Nggak boleh ada kesalahan atau kekurangan sedikitpun!" Aku meraih dan membolak-balikkan dokumen itu
Aku meminta izin untuk mengambil berkas-berkas yang sudah kutelusuri bersama Andra dan Henzi kemarin. Beberapa menit kemudian, aku kembali dengan membawa bukti-bukti yang menyelamatkanku.
"Saya mohon maaf sebelumnya. Tapi ada yang memanipulasi data-data tersebut Bu. Anda bisa cocokkan, bahwa sebenarnya pemasukan beberapa bulan ini mengalami kenaikan. Meskipun tidak signifikan," jelasku membuka lembaran demi lembaran kertas dan memperlihatkannya.
Friska meneliti setiap huruf per huruf. Aku akui dia sangat detil dan tegas. Patut sih jika diusianya yang masih muda sudah menjadi CEO.
Aku juga menyerahkan bukti-bukti aliran dana yang masuk ke rekening pribadi. Antony, tamatlah riwayatmu. Sorry Bro, tapi kamu sendiri yang memulai.
Friska terlihat begitu geram, dia meremas dokumen palsu mengepalkannya dan membuang ke lantai.
"Brengsek! Berani-beraninya ada yang korupsi," geramnya menelpon seseorang.
"Panggil Antony ke ruanganku sekarang juga!" perintahnya lalu menutup telepon dengan kasar.
Napasnya menderu, terlihat emosinya sedang meletup-letup. Aku tidak berani mengeluarkan kata-kata lagi. Ia masih melihat detil setiap laporan yang aku bawa.
Suasana ruangan itu menjadi mencekam, hawa dingin mulai menelusup menembus kulit. Suara ketukan pintu membuyarkan konsentrasi kami.
"Masuk!" tegas Friska.
Kepalaku memutar melihat seseorang menyembul dari balik pintu. Antony, selamat menuai apa yang kamu tebar. Aku tersenyum samar, sampai tak ada seorangpun yang menyadari.
"Duduk dan jelaskan ini semua!" teriak Friska melempar berkas-berkas di wajahnya. Hingga berserakan di lantai.
__ADS_1
Antony terkejut, ia memunguti satu per satu kertas yang berterbangan. Tangannya gemetar saat membaca salah satu kertas yang mencetak bukti transfer ke rekening pribadinya.
Keringatnya mulai bercucuran, ia tidak berani bangun dari lantai. Kepalanya menunduk semakin dalam. Aku sedikit iba sama dia, tapi kalau tidak diberi pelajaran seperti ini dia tidak akan jera.
"Kenapa diam saja, hah?" geram Friska menyandarkan tubuhnya di meja dan bersedekap.
"Ma-maafkan saya, Bu," ucap Antony terbata-bata.
"Apa? Maaf kamu bilang? Kamu sudah melanggar kode etik karyawan di hotel ini! Dan kesalahan kamu sungguh fatal. Jadi mohon maaf, Bapak Antony Wijaya mulai detik ini Anda saya pecat!" tandas Friska tidak main-main.
Antony mendongak membulatkan kedua matanya, mulutnya menganga tidak percaya. Ia melirik tajam ke arahku.
"Apa?" ucapku tidak terima.
"Sialan kamu Gandhi!" gerutunya mengepalkan kedua tangan.
"Eh eh, ngapain kamu nyalahin orang? Jangan buang-buang waktu lagi. Hotel ini tidak membutuhkan orang-orang yang tidak jujur. Cepat segera kemasi barang-barangmu!" tegas Friska menunjuk arah pintu.
"Keluar!" teriak Friska.
Antony bangun dari duduknya lalu keluar dengan langkah penuh emosi. Aku mendesah lega, akhirnya selesai sudah.
Astaga, bertahun-tahun lamanya aku baru terlambat sehari ini dan sialnya ketahuan. Minta cutinya gimana nih? Mana tinggal beberapa hari lagi.
"Kenapa gelisah gitu?" tanyanya dengan suara lebih rendah.
"Eee ... anu Bu Friska," ucapku takut menggaruk tengkuk yang tidak gatal.
"Apa?" ucapnya ketus.
"Saya mau ...." Seriusan aku nggak berani ngomong.
"Kalau enggak ada lagi yang mau disampaikan silahkan keluar. Dan saya harap ini adalah pertama dan terakhir Anda terlambat, perbaiki absensi Anda. Untung kinerja bagus kalau enggak udah aku hempasin juga," ujarnya.
Ah sepertinya waktunya tidak tepat. Mungkin besok suasana hatinya membaik. Jadi aku tunda dulu izinnya.
"Baik, permisi Bu," tukasku meninggalkan ruangan.
Aku kembali ke ruanganku. Andra mondar mandir di depan mejanya. "Ngapain kamu? Kayak ayam mau bertelor aja," celetukku mendekati Andra.
"Dihh, aku khawatirin kamu kali. Gimana diapain sama Bu Friska? Galak banget lo dia Gan," ucap Andra meraba pipiku.
__ADS_1
Aku menepisnya kasar. "Jangan buat aku merinding Ndra! Aku normal," tuturku menjauhkan tubuh.
"Sialan! Aku juga normal kali. Aku tuh cuma memastikan calon pengantin ini masih utuh dan mulus," selorohnya kembali duduk.
Aku tertawa mendengarnya. Andra memang daebak tapi sahabat terbaikku. Aku kembali berjalan menuju ruangan dan menyelesaikan pekerjaanku.
***
Sore harinya, waktu bekerja telah habis. Aku buru-buru pulang ke rumah. Rasanya aku sangat merindukan gadis kesayanganku. Padahal baru beberapa jam tidak bertemu.
"Ndra, duluan!" teriakku melalui meja Andra.
Andra hanya melambaikan tangan ke atas. Aku berdiri di depan lift menunggu pintu terbuka. Tanpa melihat aku masuk ke dalam ruang persegi itu. Aku baru menyadari ternyata ada seseorang di sampingku. Aku hendak keluar lagi saat pintu hendak tertutup.
"Eh eh! Mau ke mana?" tanya wanita menarik ujung kemejaku.
Aku hanya tercengir. "Maaf Bu, saya tidak tahu kalau Anda di dalam," ucapku menggaruk tengkuk yang tidak gatal.
"Panggil saja Friska, ini di luar jam kerja. Santai aja kali enggak usah tegang gitu," ujarnya.
Ternyata dia bisa lembut juga. Malah terasa aneh. Kami saling diam hingga keluar menuju mobil masing-masing. Aku hanya merasa sungkan aja sih. Kalau dia, mungkin memang aslinya pendiam.
Aku segera melajukan mobilku ke rumah. Selang beberapa menit, aku telah sampai. Dan segera berlari mencari Chaca. Tumben banget seharian enggak ada kabar.
"Sayang," panggilku mencari-cari keberadaannya.
"Gandhi, udah pulang?" tanya Mama yang ternyata juga sudah sampai di rumah.
Aku mengangguk menghampiri Mama, mencium kedua pipinya juda punggung tangannya. Lalu beliau memberitahuku kalau Chaca ada di teras belakang. Aku bergegas menghampirinya.
"Sa ...." Aku mendengar dia sedang berbicara dengan seseorang. Jadi kuurungkan lagi memanggilnya.
Aku berdiri di belakangnya. Ternyata Chaca sedang duduk bersama Bryan.
"Kamu udah aku anggap seperti kakak aku sendiri Bry. Sebentar lagi aku akan menikah. Tinggal beberapa hari lagi. Jadi aku mohon, lupakan aku," ucap Chaca serius.
"Mana bisa lupain kamu gitu aja Cha? Kamu orang yang aku cintai sejak kecil. Selama ini aku enggak pernah berhubungan dengan wanita manapun. Karena hati aku sudah terukir paten namamu," sahut Bryan.
Bersambung~
Ramein dong kolom komentar, gambar jempolnya juga jan lupa di teken 😚
__ADS_1