
Chaca POV
Banyak sekali tatap mata yang terkagum-kagum dengan pria yang berdiri di atas podium itu. Terutama para kaum hawa. Andin juga, ia bahkan tidak mengedipkan matanya.
"Hai, kodok!" seruku melambaikan tangan dengan bersemangat.
Namun, bukan balasan hangat yang kudapatkan. Ia malah mengabaikanku dan menatapku tajam. Saking lamanya aku tidak bertemu dengannya membuatku heboh melihatnya. Aku pikir tidak akan bertemu dengannya lagi.
Namun aku lupa jika sekarang sedang berada di kelas. Semua mata tertuju padaku. Aku malu, pasti mereka menganggap aku SKSD. Rasanya ingin tenggelam ke perut bumi.
Sementara Bryan, kembali fokus menerangkan di depan. Aku menjadi badmood karena dia tidak membalas sapaanku. Aku mengikuti kelas dengan malas-malasan. Berbanding terbalik dengan Andin yang begitu bersemangat mengikutinya.
Dua jam berlalu, kelas Bryan telah usai. Dan aku segera beranjak dari duduk. Aku menarik Andin mengajaknya ke kantin. Aku juga melewati Bryan yang masih membereskan modulnya di meja. Namun kali ini aku sama sekali tidak menyapanya.
Saat sedang melewati koridor kampus yang tidak terlalu ramai, tiba-tiba tanganku dicekal dari belakang. Aku tertarik mundur dan jatuh di pelukan seseorang.
"Kodok!" Aku mendorongnya namun kalah kuat dengan tenaganya. Ia malah semakin mengeratkan pelukan. Andin yang sama terkejutnya hanya menutup mulutnya.
"Biarkan seperti ini, sebentar saja. Aku sangat merindukanmu," ucapnya menempelkan kepalaku di dadanya.
Aku sampai mendengar suara detak jantungnya. Napasnya juga tersengal-sengal. Andin hendak berbalik namun kutahan lengannya.
"Tunggu Ndin, jangan tinggalin aku, please!" Akhirnya Andin menurut, dia hanya mematung menyaksikanku dengan Bryan.
Aku menginjak kakinya kuat, lalu berteriak "Lepasin Bry!"
Benar saja setelahnya aku bisa terlepas dari kedua lengan kekarnya. Ia mengaduh kesakitan. Masih untung aku nggak bikin dia babak belur.
"Ngapain peluk-peluk? Tadi aja pura-pura nggak kenal!" cebikku melipat kedua lengan di dada.
"Tadi 'kan di kelas, Cha. Professional dong," sahutnya.
Bryan menarik lenganku paksa. Andin juga tidak bisa berbuat apa-apa. Karena dia belum mengerti bagaimana statusku dan hubunganku dengan manusia kodok itu.
__ADS_1
Aku terus meronta saat ia menyeretku ke sebuah ruangan. Kemudian ia menutup ruangan tersebut. Sepertinya ini tempat dia, karena aku melihat name tagnya di meja.
"Cha, aku sangat merindukanmu. Aku tidak menyangka kita bisa bertemu lagi," ucap Bryan kembali merengkuhku.
"Bry, aku sudah menikah. Tolong hargai pernikahan aku. Hargai keputusanku, Bry. Sadarlah," ucapku pelan. Karena percuma jika berteriak pun dia bisa lebih keras lagi.
Ia mengajakku duduk di sofa. "Maaf, tapi aku tidak bisa menghapus rasa ini dengan mudah, Cha," elaknya meraih tanganku.
Aku menghela napas kasar, melepaskan tautan jemarinya. Seperti ini saja aku sudah merasa berdosa terhadap suamiku.
"Kamu bisa Bry, asalkan kamu mau membuka hati kamu untuk orang lain. Ayolah Bry, aku sudah bahagia bersama suamiku. Kamu itu tampan, cerdas, baik, mapan pula. Pasti banyak yang tergila-gila sama kamu. Tinggal pilih aja," tuturku sembari beranjak.
"Yang aku mau cuma kamu, Cha. Bukan yang lain," kekehnya mendongak.
Aku sudah kehabisan kata-kata untuk menyadarkannya. Kenapa sih, Daddy harus mendaftarkan aku di kampus ini.
"Bry, kalau kamu sayang sama aku biarkan aku bahagia dengan pilihanku. Maaf Bry, aku harap kamu mau mengerti," ucapku lalu melenggang pergi.
Aku membuka pintu ruangan itu. Ternyata Andin masih setia menungguku di luar. Aku kira dia akan pergi.
"Cha, kamu nggak apa-apa?" ucap Andin pelan.
Aku menggeleng pelan, "Aku nggak apa-apa Ndin, ayo ke kantin. Aku udah laper banget nih," ucapku menarik lengannya.
Sesampainya di kantin, kami duduk di meja yang masih kosong. Lalu segera memesan makanan juga minumannya.
"Cha, kamu ada hubungan apa dengan Pak Bryan? Gila dosen itu ganteng banget masih muda lagi," seru Andin.
Tak lama, pelayan telah mengantarkan pesanan kami dan meletakkannya di meja. Aku memesan bakso, makanan favoritku sejak dulu.
"Dia ... sepupuku," sahutku sambil menuangkan saos dan kecap.
Andin yang memesan nasi soto langsung melahapnya. "Nggak mungkin cuma sepupu. Pasti ada yang lain nih," ujarnya.
"Enggaklah, aku udah nikah Ndin," ucapku sambil menikmati bakso itu.
__ADS_1
Andin terbatuk-batuk mendengarnya. Ia susah payah menelan makanannya. Lalu ia segera minum jus jeruk di hadapannya.
"Kamu istrinya Bryan?" pekiknya membelalakkan mata.
"Bukan!" sanggahku tak kalah berteriak.
Kami sampai menjadi pusat perhatian karenanya. Aku dan Andin saling menyalahkan. Padahal kita berdua yang berteriak.
"Suami aku kerja di hotel. Dia sosok yang sempurna di mataku. Aku semakin mencintainya dari hari ke hari," tukasku menerawang membayangkan wajah Mas Gandhi yang tersenyum manis.
Aku tidak mau menceritakan semua kebaikan suamiku di depan wanita lain. Mengingat sekarang pelakor semakin marak. Apalagi ketika tahu lelaki itu begitu sempurna. Pasti pelakor akan semakin gencar mendapatkannya.
Bukannya aku suudzon dengan Andin, tapi takut aja jika obrolan ini sampai ke telinga bibit-bibit pelakor. Aku hanya meminimalisir agar itu tidak terjadi pada rumah tanggaku.
Andin hanya ber-oh ria mendengarnya. Kami lalu melanjutkan makan sambil bersenda gurau. Tapi tidak terlalu menceritakan hal pribadi. Mungkin karena kita baru kenal.
Setelah beberapa jam berlalu, aku telah selesai mengikuti matkul hari ini. Aku berpisah dengan Andin di jalan, ia pulang naik angkutan umum. Sedangkan aku masih menunggu jemputan.
Tapi, aku kesal. Karena sedari tadi aku menelepon Mas Gandhi tidak ada jawaban. Aku terus mencobanya berulang-ulang. Namun hasilnya sama saja.
"Ih, kamu ngapain sih, Mas? Tumben nggak angkat telepon aku!" gerutuku masih fokus dengan ponsel di tanganku. Sudah hampir setengah jam menunggu.
Tiba-tiba, ada sebuah motor ninja berwarna hijau berdiri di depanku. Ia mengenakan helm yang menutup rapat wajahnya. Kemudian ia membukanya.
"Butuh tumpangan? Aku siap mengantar kemana pun kamu mau," tawarnya menepuk jok belakangnya.
Gimana ya? Apa aku harus menerima tawaran si kodok. Lagian kenapa tadi lupa bawa dompet segala sih. Untung Andin tadi bayarin makananku. Terus gimana nih pulangnya? Mana Mas Gandhi nggak bisa dihubungi.
"Ayo naik!" Ia mengulurkan helm padaku. Hampir memakaikannya, namun ia urungkan ketika aku memundurkan kepala dan menatapnya tajam.
Aku meraihnya dengan kasar. "Beneran ya dipulangin. Awas aja kalau nggak sampai rumah!" ancamku naik ke motor itu.
"Siap!" ucapnya dengan hormat. Lalu memakai helm dan mulai menjalankan motornya meninggalkan kampus.
Bersambung~
__ADS_1
Hai Dears, mampir ya ke novel di bawah ... Genre Action, Fantasi seru banget. Jan lupa like, rate 5 dan jejaknya juga. thankyouu❤❤