Duda Tapi Perjaka

Duda Tapi Perjaka
BAB 2


__ADS_3

Bab ini telah direvisi....


Happy readings~


"Bunda! Bunda!" pekik Gandhi kegirangan ketika pulang sekolah.


"Gandhi, ada apa, Nak? Dateng-dateng bukannya salam malah teriak-teriak gitu?" Bunda langsung meletakkan selang air yang digunakan untuk menyiram aneka sayuran di kebun.


Bunda memiliki pekarangan yang luas. Sebelum suaminya meninggal, banyak pepohonan buah-buahan yang telah ditanamnya. Ada rambutan, durian, mangga, kelengkeng. Setiap musim panen hasil penjualannya bisa untuk mencukupi kebutuhan beliau beserta anak-anak asuhnya.


Tak hanya itu, lahan yang masih kosong ditanami berbagai macam sayuran. Tentunya dengan dibantu oleh Paman Dul. Selain membantu keamanan panti, beliau juga mau membantu bunda dalam segala hal yang berkaitan dengan panti. Sebagian hasil panen akan dijual, selain dimasak sendiri.


Gandhi hanya menyengir, lalu meraih tangan Bunda dan menciumnya. "Assalamu'alaikum, Bunda," ucapnya pelan.


"Ayo cuci tangan sama ganti seragamnya dulu sana!" perintah Bunda.


Namun Gandhi justru tak mau hengkang dari hadapan Bunda. Masih memamerkan deretan gigi putihnya yang rapat.

__ADS_1


Bunda mengernyitkan keningnya, bingung dengan anak laki-laki di hadapannya itu. "Kenapa, sih?" tanya Bunda penasaran.


Gandhi merogoh sakunya, dan menyerahkan seluruh hasil penjualan brownis hari ini tanpa mengambilnya sepeser pun. Karena ia sudah dibekali uang saku untuk naik angkot, juga bekal makan siang.


"Tadi ada yang ngeborong brownisnya, Bun. Sebelum Gandhi masuk ke sekolah. Dilebihin lagi uangnya," tuturnya masih dengan senyum merekah.


"Alhamdulillah, rizki kita hari ini. Yuk buruan masuk, ganti baju terus makan ya." Bunda menerima uangnya dengan penuh syukur, lalu menggandeng putranya masuk ke rumah.


Setiap hari Gandhi pun kegirangan karena orang yang sama selalu memborong dagangannya. Chaca selalu mengamati dari dalam mobil. Ia membuka jendela lebar-lebar dan melongokkan kepalanya.


Tanpa sengaja, tatapannya bertemu dengan manik gadis cantik bermata sipit yang berkuncir dua. Gadis kecil itu tersenyum menatapnya.


Gandhi membalas senyumnya sembari menganggukkan kepala, matanya terus menatap sampai mobil tersebut menjauh.


"Siapa dia? Apa gadis kecil itu yang membelinya. Ah sudahlah, siapa pun yang memborongnya, aku doakan semoga selalu diberi kebahagiaan dan rizki berlimpah. Aamiin," gumam Gandhi.


Sepulang sekolah, Gandhi selalu membantu Bunda berbelanja entah untuk kebutuhan membuat kue atau pun untuk makanan sehari-hari.

__ADS_1


Ia juga sering mengantar Bunda ke pasar untuk menjual hasil panennya. Seperti saat ini, dia menawarkan buah rambutan dan durian. pada para pedagang buah di pasar.


Sikapnya yang ramah dan santun membuat banyak para ibu-ibu begitu antusias ingin membeli setiap apa yang ditawarkan laki-laki itu. Bahkan tak jarang pula yang menggodanya untuk menjadikannya menantu.


"Buk, kita besanan aja yuk. Saya punya anak perempuan cantik loh. Sepertinya cocok dengan anak tampan ibu yang rajin ini."


"Eh enggak bisa, Jeng. Udah saya taken calon mantu Aminah. Ya nggak Bu Hanin?"


"Iiih belum tentu anaknya mau. Sama anak saya aja ya Dik Gandhi, anak saya cuantik, kalem pokoknya cocok deh sama Dik Gandhi."


Dan masih banyak lagi celotehan dan godaan para super emak di sana.


"Duh duh, jadi rebutan para emak nih," sahut Bunda Hanin tertawa sembari geleng-geleng kepala mendengar candaan para pedagang buah tersebut. Gandhi hanya menggaruk tengkuk yang tidak gatal. Ingin secepatnya kembali ke rumah.


Tak hanya itu, bersih-bersih rumah, membantu memasak, juga tak luput dari sentuhan tangannya. Ia selalu melakukannya dengan penuh keikhlasan.


Bersambung~

__ADS_1


__ADS_2