
Seperti dihujam belati berkarat. Hati Suparman berdenyut nyeri mendengarnya. Sedari tadi ia diam, mendengarkan penuturan panjang lebar Gandhi.
"Ma... maafkan saya, Pak. Saya tidak bermaksud mendorong Ayu hingga ... hingga...." Anjar hendak membuka suara.
"BUGH!"
Sebuah bogem mentah dilayangkan tepat di perut Anjar. Ia terhuyung sampai terduduk di kursi stainless. Kepalan kuat tangan Suparman, menimbulkan otot-otot di lengan pria itu. Padahal Gandhi tidak membeberkan perihal tersebut, dia justru keceplosan sendiri.
"Kamu sudah lari dari tanggung jawab dan sekarang membunuh anak kamu!" teriak SuparmanSuparman menggelegar. Hendak menerjang kembali tapi Gandhi dengan cepat menahan dada pria tua itu.
"Semua bisa diselesaikan baik-baik, Pak," gumam Gandhi menahan tubuh gempal itu.
"Dia akan bertanggung jawab, menikahi Ayu setelah masa iddahnya selesai, Ayu sangat mencintainya," sambung Gandhi.
Laki-laki dewasa itu mengembuskan napasnya kasar, memejamkan mata sejenak lalu memundurkan langkahnya. Bersandar pada tiang tak jauh dari jangkauannya.
Setelah merenung beberapa saat, Suparman menepuk bahu Gandhi mencengkeramnya kuat hingga membuatnya meringis.
__ADS_1
Tiba-tiba Suparman berdiri dan meraih Gandhi dalam pelukannya. Menepuk-nepuk punggungmu pria itu, perlahan. Bahkan terdengar isakan samar.
"Maaf! Maafin Bapak, selama ini tidak pernah berlaku baik padamu. Kamu sudah menyelamatkan aib keluarga Bapak, tapi justru Bapak berlaku tidak baik padamu. Maaf," ucapnya penuh sesal sembari menangis. Mengingat awal pertemuan mereka menghadiahi bogem mentah dan membentak-bentak Gandhi.
"Tidak apa-apa, Pak. Saya juga akan berlaku sama jika kelak anak perempuan saya mengalami hal seperti itu. Tapi naudzubillah, semoga dijauhkan dari segala hal buruk," jawab Gandhi membalas pelukan itu.
Lega, satu permasalahan sudah terselesaikan. Izin bercerai sudah dikantongi, tinggal eksekusi.
"Dan kamu! Awas kalau berani lari dari tanggung jawab lagi. Kamu akan rasakan akibatnya!" ancam Suparman pada Anjar.
****
Hari berlalu begitu cepat. Gandhi memutuskan pulang ke rumahnya. Hatinya berdebar ketika membuka layar ponselnya yang disilent sejak pagi tadi.
Banyak sekali panggilan dan pesan dari atasannya. Tangannya bahkan gemetar ketika melihat banyaknya umpatan yang ditujukan untuknya. Ia menelan salivanya dengan berat.
"Astagfirullahaladzim...."
__ADS_1
Gandhi mengusap wajahnya dengan kasar. Segera ia bangkit dari ranjang dan mengambil wudhu. Menunaikan ibadah di sepertiga malam. Menumpahkan segala kerisauan di hatinya. Berserah diri atas apa yang akan menimpanya.
Hingga pagi menjelang, pria itu tidak dapat memejamkan matanya. Ia segera bersiap ke kantor. Jalanan yang belum terlalu ramai, membuatnya lekas sampai di kantor.
Suasana pun masih sunyi, langkah kakinya menggema di ruangan yang baru selesai dibersihkan oleh OB itu.
"Selamat pagi, Pak Gandhi," sapa seorang OB yang baru keluar dari ruangannya.
Biasanya pria itu akan menjawab dengan ramah. Namun kali ini, menarik senyum saja rasanya berat sekali.
"Sepertinya Pak Gandhi nggak dapet jatah." OB itu menggaruk kepalanya melihat keanehan sikap Gandhi pagi itu.
Dan tepat pukul 8, pintu ruangannya terbuka dengan kasar. Derap langkah tegas semakin mendekat. Gandhi sudah siap dengan konsekuensi yang akan dia terima..
"Selamat pagi, Pak," sapa Gandhi memaksa kedua sudut bibirnya agar membentuk senyuman.
Bersambung~
__ADS_1