
"Sayang, biarin tenang dulu," bisik Gandhi di telinga istrinya.
Chaca mengangguk paham. Akhirnya mereka terdiam beberapa saat. Ayu menangis hingga kedua matanya membengkak. Barulah setelah merasa lega ia membuka suara.
"Maaf Mas, Cha, aku beneran nggak tahu kalau kalian pemilik cafe ini," ucap Ayu dengan suara seraknya.
"Yuk, maaf. Aku mengusir suami kamu dari rumah. Dan dari situ aku baru tahu kalau ternyata kamu sudah tidak tinggal di rumah itu," sela Gandhi mengalihkan topik.
Ayu tersenyum getir mendengar kata 'suami', berkali-kali ia menghembuskan napas beratnya. Selama ini Ayu selalu berjuang sendiri, menutup diri dari dunia. Mungkin sekarang sudah saatnya ia kembali menghadapi kenyataan. Karena ada anak yang harus ia besarkan, ada tanggung jawab besar yang diemban pada kedua pundaknya.
"Maafin aku, Mas. Aku nggak bisa jaga amanah kamu. Tapi aku benar-benar tidak tahan. Ibu mertua selalu memperlakukan aku seperti budaknya. Tidak pernah dia berkata lembut padaku, selalu membentak dan apa pun yang aku lakukan selalu salah di matanya." Suara Ayu bergetar.
Chaca meremas tangan Ayu, turut prihatin dengan apa yang dialaminya. Gandhi mendengarkan dengan seksama.
"Mas Anjar juga tidak memperlakukan aku dengan baik. Dia tidak pernah menganggapku ada. Suatu hari, aku mengikuti Mas Anjar. Karena penasaran dengan pekerjaannya," lanjut Ayu mulai menitikkan air mata lagi.
"Dan ... alangkah terkejutnya aku, melihat dengan mata dan kepalaku sendiri dia bermesraan bahkan berciuman dengan wanita lain di sebuah apartemen. Mereka masuk, aku yakin mereka pasti melakukan ...." Ayu tidak sanggup melanjutkan kata-katanya. Ia menangis sesenggukan bahkan isakannya terdengar memilukan.
Chaca segera berpindah di samping Ayu. Dia merengkuh tubuh Ayu, memeluknya erat. Chaca turut menangis mendengarnya. Membayangkan saja membuatnya sesak. Bagaimana bisa seorang wanita hamil diperlakukan seperti itu oleh suami dan mertuanya sendiri.
__ADS_1
"Sabar ya, Mbak. Aku yakin akan ada hikmah di balik semua cobaan ini," ujar Chaca ditengah isakannya.
Gandhi mengepalkan kedua tangannya. Amarah menyelimuti hatinya. Meskipun dia pernah disakiti oleh Ayu, tetap saja dia tidak terima. Wanita hamil itu sangat membutuhkan perhatian dan kasih sayang. Tapi Ayu, diperlakukan seperti itu di masa kehamilannya.
"Aku tidak kuat lagi, sampai akhirnya aku memutuskan untuk pergi dari rumah. Saat itu hujan sangat deras, kakiku terus melangkah tanpa arah. Seluruh tubuhku basah kuyup. Hingga akhirnya, aku pingsan di jalan. Aku ditemukan oleh Nenek July. Beliau merawatku, membantuku selama hamil hingga melahirkan. Bahkan sampai sekarang, beliau mau membantu menjaga anakku," jelas Ayu melepaskan pelukan Chaca.
Gandhi dan Chaca prihatin dengan apa yang menimpanya. Keduanya turut sedih mendengarnya.
"Mbak, kenapa tidak pulang saja ke rumah ibumu?" tanya Chaca pelan.
Ayu tersenyum getir, pandangannya kosong. Sejak kematian ayahnya, Ibu Ayu juga sama saja selalu uring-uringan. Dia takut berimbas pada bayinya. Jadi, Ayu memutuskan untuk menjauh dari semuanya.
"Ini ... ini pantas aku dapatkan. Ini adalah karma yang harus aku terima. Maafin semua kesalahanku, Mas. Maafin aku." Ayu kembali menangis penuh penyesalan.
"Tidak ada manusia sempurna di dunia ini. Setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan. Yang paling penting, bagaimana orang itu bisa berubah. Dan tidak akan mengulangi kesalahan yang sama," tandas Gandhi menyandarkan punggungnya.
Chaca menganggukkan kepalanya. Ayu mengusap air matanya perlahan. Ia bersyukur sekali pernah bertemu dengan orang sebaik Gandhi.
Orang yang pernah dia sia-siakan, tapi tidak pernah menyimpan dendam padanya. Justru sebaliknya, semua sikap buruknya dibalas dengan berjuta kebaikan Gandhi. Malu, menyesal, semua bercampur aduk menjadi satu.
__ADS_1
Chaca lalu menanyakan keadaan bayinya. Yang mana sejak kehamilan Baby El tidak pernah rewel, Ayu tidak pernah merasakan ngidam apa-apa. Ketika melahirkan pun terasa begitu mudah, meski merasakan sakit luar biasa namun kelahirannya begitu lancar.
Hingga sekarang Baby El lahir, jarang sekali rewel. Ayu sangat bahagia dikirimkan malaikat kecil untuk menemaninya.
"Sehat-sehat terus ya Mbak, Baby-nya. Kapan-kapan ajaklah ke sini kalau aku libur kuliah. Biar aku ajak main," tukas Chaca bersemangat.
Ayu menatap Chaca, "Ma ... maksudnya?" tanya Ayu terbata-bata.
"Mbak, kamu diterima kerja di sini. Kamu jaga stand permainan ya. Kami masih membutuhkan seseorang untuk mengisinya," tandas Chaca menyentuh tangan Ayu.
Ayu terharu mendengarnya, "Terima kasih banyak, Cha, terima kasih," ucapnya berulang.
"Semoga Baby El sehat-sehat terus ya, Mbak. Jangan lupa kapan-kapan ajak ke sini," imbuh Chaca dengan seulas senyum.
Ayu mengangguk mantap. Lagi-lagi dia sangat bersyukur karena dipertemukan dengan orang-orang baik.
Berkumpullah dengan orang-orang baik, niscaya kamu akan mendapatkan kebaikan pula. Sebaliknya, jika berkumpul dengan orang-orang yang belok, kamu akan ikut tersesat dan mendapat celaka.
Bersambung~
__ADS_1