
"Sebelum berangkat ke rumahmu, aku mengantar surat cutimu ke hotel. Friska enggak ada, katanya sih ngurusin hotel bokapnya di luar kota," ucap Andra menjelaskan.
"Hah? Terus yang pegang siapa?" selaku. Chaca dan Mbak Amel pamit keluar. Chaca mengajaknya ke kantin rumah sakit. Karena ia yakin Mbak Amel belum sempat makan.
"Enggak ada, aku taruh di meja aja tuh surat," jawabnya menatapku.
Kemudian Andra menceritakan kejadian naas yang menimpanya di lampu merah tadi. Mobilnya tidak bisa berhenti, Andra tidak bisa mengendalikannya hingga menabrak bus dari arah berlawanan.
"Bagaimana bisa? Tidak lama aku telah menyervis mobil itu," ucapku berkacak pinggang.
"Makanya kubilang tadi, sepertinya ada seseorang yang sengaja mau menyelakai kamu. Tapi orang itu nggak tau mobil itu aku yang bawa," jelasnya.
Polisi sudah menyelidikinya, dan berdasarkan bukti yang ditemukan mobilku ada yang sabotase. Penelusuran masih terus berlanjut.
"Kemungkinan bukti terbesar di hotel, Ndra. Aku harus ke sana sekarang!" tukasku beranjak pergi.
"Woi! Istri kamu!" teriaknya saat aku memegang gagang pintu.
Aku menepuk jidatku, astaga bagaimana bisa lupa? Kemudian aku memutar langkah dan kembali duduk di sofa. Andra tertawa mengejekku.
"Maklum lah ya, baru beberapa jam yang lalu. Belum terbiasa," ucapku mencari alasan.
Selang beberapa menit, Chaca dan Mbak Amel kembali ke ruangan. Karena tidak ada luka yang serius, Andra diperbolehkan pulang saat itu juga. Aku dan Chaca mengantarnya terlebih dahulu.
"Aku langsung pamit ya Ndra, kapan-kapan aja mampirnya," ucapku kala mobil sudah terhenti di depan rumah Andra.
"Oke, hati-hati. Makasih banyak," ucap Andra melambaikan tangan ke udara.
"Bye Mbak, Mas Andra cepet sembuh ya," ucap Chaca turut melambai.
Aku menutup jendela mobil dan kembali melajukannya membelah jalan raya. Tujuanku mau ke hotel tentunya. Tindakan kriminal ini harus mendapat hukuman.
"Om, aku mau ke makam Bunda," ucapnya menoleh memandangku.
"Iya Sayang, mau sekarang?" sahutku membelai pipinya namun masih fokus ke depan.
Ia mengangguk, aku pun akhirnya menurutinya terlebih dahulu. Dari dulu dia adalah prioritasku. Kami berhenti di toko bunga terlebih dahulu. Chaca turun dan membeli satu buket bunga lili putih.
Jarak sudah dekat membuat kami cepat sampai di makam. Aku turun terlebih dahulu, lalu berlari membukakan pintu untuk istri tercintaku.
"Makasih Om," tuturnya tersenyum lembut.
Kuraih jemarinya, lalu kugandeng berjalan beriringan menyusuri makam. Hingga langkah kami terhenti pada gundukan tanah dengan papan yang bertuliskan nama Bunda.
__ADS_1
"Assalamualaikum Bunda," salam Chaca berjongkok meletakkan buket bunga tadi. Lalu ia mengusap lembut papan nisan tersebut. Aku membacakan seuntai doa untuk beliau.
Chaca berbicara seolah sedang bercakap dengan Bunda. Ia begitu antusias menceritakan hari bahagia kita. Berharap Bunda juga merasakan apa yang tengah kita rasa sekarang.
Setelah hampir setengah jam, kami memutuskan untuk pulang. Chaca masih merasa berat meninggalkan tempat ini. Aku merangkul bahunya, lalu mengajaknya berdiri.
"Bunda, Chaca pamit ya. Chaca akan sering ke sini kok," ucapnya pelan mengusap papan nisan lalu menciumnya.
Kami berjalan keluar di bawah semburat jingga yang membias di langit. Hari sudah semakin sore. Kubukakan pintu mobil untuk Chaca, aku bergegas duduk dan kembali melajukan mobil.
"Sayang, kita mampir ke hotel sebentar ya?" ucapku tanpa menoleh.
"Hah? Eh ... mmm, ke-kenapa nggak di rumah aja Om?" sahutnya gugup.
Aku mengerutkan kening. Apa yang ia pikirkan? Kenapa segugup itu? Sebuah senyuman aku nampakkan di bibir.
"Iya kita lakuin di rumah, aku mau ke hotel cuma mau ngecek CCTV aja kok," balasku mengusap kepalanya lembut.
"Ih kenapa nggak bilang sih, Om!" serunya menutup wajahnya malu.
Aku tertawa, ternyata ia sudah memikirkan itu. "Sayang, jangan panggil Om dong. Nggak enak didenger. Masa panggil suami, Om sih? Nanti dikira aku berselingkuh dari tantemu," candaku refleks membuatnya memukul lenganku pelan.
"Sembarangan! Terus panggil apa dong?" tanyanya serius.
"Mmm ... Sayang, Mas atau apalah senyaman kamu aja," sahutku.
Aku pun turut tertawa mengacak rambutnya gemas. Kami telah sampai di parkiran hotel. Aku segera turun dan mengecek bagian CCTV. Chaca juga aku ajak ke sini. Kuminta memutar record itu pada beberapa jam yang lalu.
Mataku menajam mengawasinya. Hampir 30 menit, aku melihat ada seseorang yang mengotak-atik mobilku. Terlihat jelas ia menoleh ke sekeliling memastikan keadaan sepi. Sayangnya dia menggunakan topeng.
"Stop! Mulai menit ini nanti cetak sampai orang itu selesai menjalankan misinya. Kalau perlu perbesar ya," perintahku diangguki oleh seorang pria yang memegang kendali bagian CCTV.
Ia turut terkejut melihatnya. Tidak menyangka ada tindakan kriminal yang terjadi. Chaca terlihat sangat khawatir. Ia meremas jemariku kuat, mungkin dia takut seandainya aku yang mengendarai mobil itu.
"Om, aku takut. Aku nggak mau terjadi apa-apa sama kamu," ucapnya lirih namun masih bisa terdengar.
Aku membalikkan tubuh, menangkup kedua pipinya. Meyakinkannya jika aku baik-baik saja. Seterusnya akan baik-baik saja.
"Bandel ya, udah dibilang jangan panggil Om," ucapku mencubit ujung hidung mancungnya.
"Pak, ini terlihat jelas motor beserta platnya," tukas pria itu sembari menyerahkan beberapa lembar hasil print.
Aku mengambilnya dan mengecek satu persatu tiap gambar itu. Dari perawakannya sih Antony. Aku melacak plat nomornya. Shitt! Benar, layar ponselku menunjukkan nama, alamat dan keterangan kendaraan Antony lengkap.
__ADS_1
"Oke, terima kasih banyak. Udah malam, aku pulang dulu. Ayo Sayang," pamitku menarik tangan Chaca.
Hari sudah gelap, jadi aku putuskan untuk pulang terlebih dahulu. Kasihan Chaca pasti capek banget.
"Sayang mau makan apa?" tawarku ketika mobil sudah keluar dari area hotel.
"Pengen yang seger-seger, Om. Eh Sayang," ucapnya kaku.
"Oke Baby! Pinggir jalan nggak masalah 'kan?"
Chaca mengangguk dan tersenyum. Aku mempercepat laju mobil agar segera sampai.
Kini kami telah duduk di gerai bakso. Chaca suka sekali, katanya sudah lama tidak memakan olahan daging itu. Tak lama, makanan telah tersaji di depan kami. Chaca begitu bersemangat lalu segera mencicipinya.
"Gimana? Enak 'kan?" tanyaku.
"Iya Sayang, enak banget makasih ya. Udah lama aku nggak makan bakso," ucapnya tersenyum sangat cantik.
"Kiss dulu dong, masa makasih doang?" candaku menopangkan dagu dengan kedua tangan dan menutup mata.
Namun bukan ciuman yang kudapat. Malah, pukulan di keningku dengan kedua sumpitnya. Aku terkejut membuka mata, mengusap keningku yang memerah.
"Aduh Sayang, sakit. Seneng banget aniaya suami sendiri," ucapku mencebikkan bibir pura-pura marah.
Chaca segera berdiri mendekat, mengusap dan meniup keningku bekas pukulannya tadi.
"Makanya jangan aneh-aneh. Di tempat umum juga, malu Sayang," gerutunya kembali duduk.
"Ngapa harus malu Sayang, kita 'kan suami istri," protesku meneguk es teh di depanku.
"Ah! Embuh. Ayo pulang aja!" Chaca segera beranjak dari duduknya dan berjalan cepat.
Aku segera membayar dan mengejar langkah Chaca. Ia sudah duduk manis di mobil, aku masuk dan mendudukkan diri di balik kemudi.
"Ciye yang udah enggak sabar, ehemmm," godaku mencium pipinya sekilas.
Wajah Chaca bersemu, "Ihhh apaan sih Om! Sana!" Kedua tangannya mendorongku. Aku tertawa, suka sekali melihat wajahnya yang merona seperti itu.
"Sayang! Nggak mau dipanggil Om. Kalau manggil kayak gitu lagi, aku akan memakanmu sekarang juga!" gerutuku mendekatkan wajah kami.
__ADS_1
"Iya iya Sayang!" teriaknya cepat mendorong tubuhku lagi.
Bersambung~