
Finally, pintu kamar mandi terbuka. Aku tentu saja keluar dengan wajah berseri-seri. Aku melilitkan handuk pada tubuh polos istriku itu. Tak lupa dengan handuk kecil untuk mengeringkan rambutnya.
"Mas!" serunya saat kuraih dalam gendongan.
"Diem aja, kamu masih lemas gitu," celetukku melangkah menuju ranjang.
Kemudian aku meletakkannya di kasur dan mengambilkannya pakaian. Namun sebelumnya aku berganti pakaian terlebih dulu.
"Gara-gara kamu sih. Katanya istirahat dulu, tapi tadi apa?" ucapnya dengan nada kesal.
"Yang penting kamu menikmatinya, Sayang," godaku menyerahkan pakaian ganti untuknya sambil menghadiahkan kecupan di keningnya.
Hari ini dan beberapa hari ke depan, kami melanjutkan wisata kami ke berbagai tempat sesuai yang diagendakan. Diantaranya Pantai ala Takat Sagele, Air Terjun Diwu Mbae, Pantai Poto Jarum, Pantai Ai Manis, yang terakhir Air Terjun Sengalo. Semuanya berbau alam. Kami begitu menikmatinya.
Saat ini kami sedang bersantai di atas gundukan karang dan pasir putih unik bernama Takat Sagele. Kejernihan air laut yang mengelilingi Takat Sagele, kami dengan mudah menemukan ikan-ikan cantik yang berenang di bawah air.
Destinasi selanjutnya adalah Air Terjun Diwu Mba’i. Kesegaran air terjun ini bagaikan oase di tengah panasnya cuaca Pulau Moyo. Di sekeliling air terjun, kami disuguhi oleh hutan belantara dengan pepohonan berumur puluhan tahun yang tinggi menjulang. Terdapat sebuah ayunan tali tambang yang diikatkan ke salah satu pohon besar di dekat air terjun.
Masih di dunia air, hari-hari berikutnya kami mengunjungi Pantai Poto Jarum. Di pantai ini banyak bebatuan besar di area bibir pantainya. Katanya pantai ini merupakan salah satu kawasan yang dilindungi sehingga tidak menemukan bangunan di sekitarnya. Ombaknya yang tenang dengan air berwarna toska membuat kami betah berlama-lama di sini.
Ada lagi nih yang unik, saat kami berkinjung ke Pantai Ai Manis. Terlihat hutan tropis di area dekat dengan pantai dan juga bebatuan di sekitar area pantai. Sebenarnya aku penasaran ingin masuk ke dalam hutan, yang katanya bisa bertemu dengan rusa liar yang menawan dan aneka burung langka yang hinggap di dahan pepohonan. Namun, Chaca tidak menghendakinya. Jadi, aku mengurungkan niat tersebut.
Hampir semua wisata telah kami jelajahi. Kini tiba saatnya kami harus kembali ke dunia nyata. Sudah sangat cukup merefreshkan otak dan diri selama satu minggu di sini.
Sebelum pulang ke rumah, kami berjalan-jalan ke pusat oleh-oleh terlebih dahulu. Chaca begitu antusias saat melihat banyak benda antik yang dijual di toko tersebut.
"Jangan dipelototin gitu Sayang, nanti lari tuh barang," candaku membuyarkan konsentrasinya.
__ADS_1
"Hahaha! Lucu, Sayang," ujarnya dengan senyuman di wajahnya.
"Ambil aja kalau suka," ucapku merangkul pundaknya.
Ia meletakkan kembali benda-benda yang disentuhnya. "Enggak ah, mending cari barang yang berguna aja."
Chaca menarik tanganku berjalan kembali menyusuri setiap toko yang berjajar rapi, menjajakan aneka makanan dan barang-barang khas Pulau Moyo.
Setelah dirasa cukup, kami bergegas meninggalkan tempat bersejarah itu. Bersejarah bagiku dan juga Chaca dalam memadu kasih. Terima kasih Pulau Moyo, atas suguhan keindahanmu yang begitu berkesan untuk kami. Sampai jumpa untuk kunjungan-kunjungan berikutnya.
Kini kami telah sampai mendarat di Bandara Abdul Rachman Shaleh pukul 18.00 WIB. Ternyata sudah ditunggu oleh sopir keluarga kami. Beliau lalu mengambil koper dan meletakkannya di bagasi.
Aku dan Chaca segera naik ke kursi penumpang belakang. Sepanjang perjalanan, kami selalu menautkan jari jemari kami. Kepala Chaca juga bersandar di lenganku.
"Tidurlah, nanti aku bangunin kalau sampai. Apa mau makan malam dulu?" tawarku mengusap lembut pipinya.
Chaca menggeleng pelan, "enggak Mas, capek banget pengen cepet-cepet sampai di rumah," sahutnya. Aku mengangguk pelan.
"Pak, langsung pulang saja ya," ucapku pada Pak Ujang yang duduk fokus di depan.
"Baik Den," sahutnya.
Kepalaku pusing melihatnya, jadi aku memutuskan memasukkannya kembali ke kantong. Tak berapa lama, mobil telah sampai di pekarangan rumah.
Tanpa aku bangunkan, Chaca sudah terbangun. "Sudah sampai," ucapnya cepat-cepat keluar dari mobil.
Aku menyusulnya dari belakang, entah apa yang membuatnya bersemangat dan berlarian seperti itu. Sampai-sampai rela ninggalin suaminya.
"Mommy, Daddy! Kami pulang!" teriaknya di depan pintu sambil mengetuk pintu itu keras.
Pintu rumah terbuka, namun bukan Mama dan Papa melainkan Bi Ratih yang membukanya. Chaca langsung memeluk wanita paruh baya itu. Orang yang merawat Chaca sejak bayi.
"Non, Aden. Nyonya pasti senang nih liat kalian sudah pulang," serunya. Aku menanggapinya dengan tersenyum.
Chaca lalu mengajaknya masuk dan memberikan oleh-oleh untuk beliau. Bi Ratih menerimanya dengan senang hati. Kami tidak pernah membedakan kasta seluruh penghuni di rumah ini. Bagiku, semua orang memiliki derajat yang sama. Karena harta bukanlah patokan sebuah kedudukan.
"Mama sama Papa di mana, Bi?" tanyaku menarik koper di belakang dua wanita itu.
"Ada di kamar, Den. Nyonya dan Tuan belum makan malam. Mau sekalian saya siapkan?" tawar Bi Ratih.
__ADS_1
"Boleh deh Bi. Kami ke kamar dulu ya," pamitku lalu melenggang masuk menggandeng lengan Chaca.
Aku dan Chaca memutuskan untuk mandi terlebih dahulu. Chaca menolak mandi bareng. Katanya pasti bakal lama kalau sampai terjadi. Jadi, aku memutuskan mandi di kamarnya saja.
Setelah itu, kami menuruni tangga untuk bergabung makan malam bersama dengan Mama dan Papa. Beliau sudah duduk dan bersiap di meja makan.
"Mommy! Daddy! Chaca kangen," pekik Chaca menghambur memeluk dan mencium Mama dan Papa bergantian. Aku juga melakukan hal yang sama.
"Sayang, Mama juga kangen banget. Sepi banget nggak ada kalian di rumah. Gimana honeymoonnya? Lancarkan?" tanya Mama sambil mrngambilkan makanan untuk Papa.
"Uucch keren banget Mom tempatnya, Chaca betah kalau lama-lama di sana. Seger banget, masih alami. Ibarat gadis nih, masih suci Mom. Apalagi tempat penginapannya. Yaampun keren banget Mom. Pokoknya the best deh. Makasih ya Mom, Dad," tutur Chaca dengan sangat antusias.
Mama dan Papa tertawa sambil menggelengkan kepala, mendengar celotehan wanita yang mereka besarkan sedari bayi.
"Syukurlah kalau kalian suka. Semoga cepat berbuah ya," canda Papa menimpali.
"Aamiin." Semua mengerti maksud Papa dan mengaminkannya.
Kami mulai makan malam, tanpa ada yang berbicara. Hanya terdengar dentingan sendok saat bertabrakan dengan piring.
"Cha, besok kamu sudah bisa mulai kuliah. Daddy sudah mendaftarkan kamu di salah satu universitas di kota ini," ucap Papa setelah meneguk air putih.
Chaca tampak terkejut, "Di mana Dad? Dan kenapa Daddy tidak bertanya dulu Chaca mau jurusan apa?" tanyanya penasaran.
"Universitas Brawijaya. Selain termasuk universitas terbaik, lokasinya juga sangat dekat dari sini. Dan jurusannya pasti bisnis dong. Enggak boleh mengelak," imbuh Papa tegas.
Chaca menganggukkan kepalanya. "Baiklah, makasih Daddy," ucapnya kemudian.
Seusai makan malam, Chaca kembali ke kamar mengambil oleh-oleh untuk Mama dan Papa. Aku menunggunya di sini. Sambil membuka ponsel yang sedari tadi meronta ingin di buka.
"Sayang, belum tidur?" tanya Chaca saat membuka pintu kamar dan melenggang masuk. Lalu menutupnya kembali.
Aku mendongakkan kepala sejenak, "Belum, Sayang. Sini!" ucapku menepuk ranjang tepat di sampingku.
Chaca mendekat dan merebahkan kepalanya di pangkuanku. Aku meletakkan ponsel lagi. Belum selesai membaca semua email dan pesan.
"Sayang, mau nggak kita pindah rumah?" tanyaku membelai kepalanya lembut.
Bersambung~
__ADS_1
Gaeess... jangan tanya apa yg dipegang Chaca. Aku juga nggak tau🤣🤣