
Ayu merapikan rambutnya yang berantakan. Berusaha menutup lehernya yang terdapat bekas cumbuan dari Anjar. Dengan tergesa, ia mendorong pria di hadapannya untuk masuk ke kamarnya yang tak jauh dari tempatnya berdiri.
"Jangan keluar," ujar Ayu memperingati.
Suara ketukan pintu semakin intens dan keras. Ia berdehem sejenak, lalu menetralkan degub jantungnya, membuang napas dengan kasar.
Tangannya bergetar meraih gagang pintu, memutar kunci dan membukanya. "Ma ... Mas Gandhi? Kok tumben pulang jam segini?" tanyanya sedikit gugup.
Gandhi memicingkan mata, ia menyapu seluruh ruangan mendapati dua gelas yang berisi air jeruk dan toples yang terbuka.
"Ada tamu? Siapa? Perasaan belum ada yang tahu tentang rumah ini," tanyanya menyelidik. Ia mengabaikan pertanyaan Ayu. Rasa penasaran lebih mendominasi.
Kakinya melangkah masuk, merasakan hawa yang tidak enak di rumah itu. Ayu menunduk dalam, "I--itu temen aku mampir. Tadi kebetulan dia dari rumah sakit juga. Jadi, sekalian anterin aku," jawab Ayu terbata.
"Ooh, laki apa perempuan? Terus mana orangnya?" cecar Gandhi menatap tajam dengan ekor matanya.
"Ada di kamar, Mas. Sedang istirahat." Ayu berkilah.
__ADS_1
"Hemm...." Gandhi mengangguk, ia bergegas ke kamarnya mengambil berkas untuk meeting sore nanti. Kebetulan jam istirahat, jadi ia sekalian makan di rumah pikirnya.
Namun ia mencium aroma mencurigakan sejak melihat mobil honda jazz yang terparkir di halaman rumahnya.
"Oh iya, tolong masak ya. Aku mau sekalian makan siang," ujar Gandhi di ambang pintu.
'Mampus! Nggak ada bahan di kulkas,' gumamnya dalam hati sambil melebarkan kedua matanya.
Gandhi mengerutkan dahinya menatap mimik wajah Ayu. "Kenapa? Mie instan ada nggak? Kasih telor ceplok," ucapnya seolah mengerti isi otak Ayu.
"Eh. Emm ... iya, Mas. Ada!" Buru-buru Ayu membuatkan mie instant dan memasaknya. Tak lupa dengan telur sesuai pesanan Gandhi. Tak butuh waktu lama, ia pun menyajikan dua piring mie goreng dengan telur mata sapi di atasnya.
Setelah itu dia mulai menikmati makan siangnya yang sederhana itu. Ayu juga turut duduk di depannya, ikut makan bersama Gandhi.
Pria itu tersedak mie ketika mengangkat pandangannya. Ia menepuk-nepuk dadanya yang terasa pedas dan panas.
Ayu menyodorkan gelas berisi air putih, "Pelan-pelan dong, Mas," serunya mengingatkan.
__ADS_1
Mata Gandhi bahkan berkaca-kaca saking pedasnya. Keringat mulai bermunculan di keningnya. Diteguknya satu gelas air putih hingga habis. Lalu diletakkan dengan kasar.
"Kamu habis ngapain?' tanya Gandhi penuh selidik.
"Eee ... Maksud, Mas? Kan tadi abis bikin mie terus makan bareng sama Mas Gandhi," jawab Ayu. Ia gugup dan takut sehingga refleks meletakkan tangan di tengkuknya.
Deg!
Sontak matanya membulat sempurna. Kala teringat rambutnya terikat. Tubuhnya menegang tak berani menaikkan pandangan sejajar dengan manik Gandhi yang sudah diliputi amarah.
Geraham pria itu mengetat, kedua tangan Gandhi mengepal dengan kuat. Hingga otot-ototnya menyembul keluar.
"Jelaskan! Apa yang sudah kamu lakukan di rumah saya!" ucap Gandhi pelan namun penuh penekanan menahan amarah yang siap membludak.
Ayu masih terdiam, tubuhnya gemetar ketakutan. Susah payah ia menahan salivanya masuk melalui kerongkongannya.
"Apa yang tadi kamu lakukan, Ayu!" teriak Gandhi memekakkan telinga sembari menggebrak meja makan. Piring di depannya sampai melayang dan terjatuh lagi ke meja.
__ADS_1
Ini pertama kalinya Ayu melihat sisi lain dari Gandhi. Pria yang selalu sabar dihina, diejek, diremehkan seperti apa pun tetap diam dan sabar. Namun kali ini Ayu benar-benar takut dengan kemarahan Gandhi.
Bersambung~