
Gandhi POV
Setelah mengantarkan Chaca, aku bergegas menuju hotel. Hari pertama masuk setelah cuti yang sangat panjang. Untung resepsi diadakan weekend. Jadi nggak perlu ngajuin cuti lagi. Berasa seperti hotel sendiri.
Setelah beberapa saat, aku telah sampai di parkiran hotel. Kemudian turun dan segera melangkah menuju ruanganku. Salam sapa terus mengalir sepanjang perjalananku.
Andra belum terlihat, mungkin belum sampai. Kini aku duduk dan mulai berkutat dengan banyaknya laporan di meja. Sampai menjelang siang, suara ketukan pintu membuyarkan konsentrasiku.
"Masuk!" perintahku yang tak lama kemudian seseorang menyembul dari balik pintu.
Ia nampak sangat panik, berjalan setengah lari menuju mejaku. Dia meremas kedua jemari-jemari tangannya.
"Ada apa Dew?" tanyaku pada Dewi seorang resepsionis hotel.
"Pak, ada yang komplain dengan pelayanan kamar. Orangnya ngamuk-ngamuk tadi, Pak," ucapnya gugup.
"Laki apa perempuan? Kamar nomor berapa?" tanyaku meletakkan bolpoin dan menutup dokumen yang aku pegang sedari tadi.
"Laki-laki, Pak. Orangnya tinggi, item, kekar gitu. Ada di kamar 168," jelas wanita itu.
Setelah Dewi menjelaskan, aku bergegas menuju kamar tersebut. Padahal sebelumnya tidak pernah ada yang komplain sampai semarah itu.
__ADS_1
Aku mengetuk pintu kamar yang disebutkan tadi secara perlahan, tidak ada yang mencurigakan sebelumnya. Sesaat kemudian suara pintu terbuka. Aku melangkah masuk perlahan. Tiba-tiba pintu tertutup dan dikunci dari luar.
"Hei! Siapa itu di luar? Kurang ajar!" umpatku membuka dan menggedor pintu.
Sial kamar ini termasuk VIP. Kedap suara, mana ponselku ketinggalan di meja pula.
Aku menghela napas panjang. Lalu mengambil gagang telepon menyambungkan pada ruangan Andra. Tak lama telepon itu diangkat. Aku mengatakan bahwa aku dijebak di kamar ini.
Lalu ada seorang wanita tiba-tiba memelukku dari belakang. Secepat mungkin aku menoleh ke belakang dan melepaskan lilitan tangan itu.
"Siapa kamu!" pekikku mendorong tubuhnya.
"Aku? Aku adalah wanita yang kau hancurkan impianku," desahnya memainkan jemarinya di pipiku.
Sepertinya nggak waras nih orang.
"Apa maksud kamu? Kenal saja tidak!" geramku menatapnya tajam.
Ia mendekat, terus berusaha menempelkan tubuhnya padaku. Tiba-tiba mencium dadaku. Lipstiknya menempel pada kemeja putihku. Lalu aku menghempaskannya kuat.
"Wanita sialan! Apa mau kamu?" teriakku menunjuknya saat ia terjatuh.
__ADS_1
Tiba-tiba wanita itu merobek-robek bajunya, memukuli wajahnya sendiri bahkan mencakar kedua lengannya.
"Apa yang kamu lakukan? Kenapa menyakiti dirimu sendiri!" teriakku berlari mendekatinya dan memegang erat kedua tangannya, agar tidak menyakiti dirinya lagi.
Pintu terbuka, posisiku seperti hendak memperkosanya di lantai. Wanita itu menangis dan meronta berakting seolah aku yang telah menganiayanya. Aku kembali menghempaskannya kuat.
"Tolong, di--dia mau memperkosa aku," rintihnya menangis sembari menunjukku.
Tidak kusangka begitu banyak orang sudah berkumpul di depan pintu. Mataku mencari-cari keberadaan Andra, tapi aku tidak menemukannya. Dan malah aku menemukan Pak Handoyo berdiri dengan tatapan nyalang.
"Pak, ini tidak seperti yang Anda lihat. Saya dijebak, Pak," ucapku gusar.
Ada seorang pria kekar yang menghampiri wanita itu lalu memakaikan jaket padanya. Sepertinya orang itu sekongkol. Dewi tadi mengatakan orang yang komplain adalah laki-laki kekar berkulit hitam.
Fix! Aku dijebak dua orang itu. Tapi siapa mereka? Aku bahkan tidak mengenalnya.
"Ikut ke ruangan saya sekarang!" titah Pak Handoyo tegas.
Aku melangkah gontai. Sepanjang perjalanan aku terus menghembuskan napas kasar. Serasa kehabisan oksigen.
Tamatlah riwayatku, hancurlah namaku.
__ADS_1
Bersambung~