Duda Tapi Perjaka

Duda Tapi Perjaka
[Season 2] Menginginkannya


__ADS_3

Sudah beberapa hari yang lalu, Chaca memang mengendus aroma ketidakberesan antara Bryan dan Andin. Bertambah lagi dengan kedatangannya sekarang yang berduaan, membuat kecurigaannya semakin besar.


Meskipun Andin terus mengelak, Gandhi memberi isyarat agar tidak terus mendesak mereka. Karena Andin terlihat tidak nyaman.


Tak lama, Andin dan Bryan pun berpamitan. Mereka bilang hendak mengoreksi tugas-tugas mahasiswa.


Kini, malam telah menyelimuti kota itu. Gandhi dan Chaca hanya berdua saja. Papa Xander pulang larut malam, sehingga beliau tidak mampir ke rumah sakit terlebih dahulu.


"Sayang, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan," ucap Chaca menepuk ranjang di sampingnya. Menandakan jika Chaca ingin suaminya turut naik ke sana.


Gandhi membuka pembatas ranjang pada sisi kanan Chaca, lalu mendudukkan diri di samping istrinya itu. Ranjangnya luas, sehingga mereka tetap merasa nyaman.


Gandhi menyandarkan punggungnya, lalu merengkuh tubuh istrinya, memeluknya dari belakang, kemudian merebahkan kepala sang istri pada dadanya.


"Bicaralah, Sayang," tukas Gandhi menyibak rambut panjang Chaca. Menyelipkannya di belakang telinga.


"Mmmm." Chaca hanya bergumam. Ia menggigit bibir bawahnya, tampak ragu-ragu menyampaikannya.


Gandhi terus memberikan sentuhan-sentuhan lembut dan penuh kasih sayang. Ruangan itu pun menjadi hangat seketika. Pria itu menaikkan dagu wanitanya dengan lembut, hingga tatapan mereka saling bertemu. Tatapan penuh cinta yang tidak pernah berubah.


"Apa yang mau kamu bicarakan, Sayang?" tanya Gandhi dengan nada lembut.

__ADS_1


"Aku ... aku ...." Chaca menghela napas panjang dan menghembuskannya kasar. Gandhi diam mendengarkan dengan seksama apa yang ingin ia sampaikan.


"Sayang aku mau tes kesuburan," ucap Chaca cepat memalingkan muka.


Gandhi mengerutkan keningnya. "Buat apa, Sayang? Kita juga belum lama menikah," elak Gandhi.


Bukannya Gandhi tidak mau, namun menurutnya itu tidak perlu mereka lakukan. Mungkin memang belum waktunya diberi momongan. Ia percaya jika memang sudah diizinkan oleh Allah, pasti akan hadir juga.


"Mas, pernikahan kita sudah hampir satu tahun. Padahal usia paling subur wanita untuk bisa hamil itu sekitar 20 tahun-an. Tapi, sampai sekarang kita belum mendapatkannya," ucap Chaca sedih.


"Sayang, asal kamu tahu. Di luar sana banyak kok pasangan yang mendapat momongan setelah beberapa tahun menikah. Allah pasti akan memberikannya di waktu yang tepat. Mungkin saat ini kamu harus fokus dulu sama kuliah, sedangkan aku juga harus fokus sama usaha 'kan? Percayalah, kita akan mendapatkan bayi yang lucu-lucu ketika kita sudah benar-benar siap untuk merawatnya," tukas Gandhi menenangkan istrinya.


Ia mengeratkan pelukannya, menopangkan dagu di puncak kepala Chaca. Lengannya melingkar penuh pada perut Chaca. Sesekali ia mencium ceruk leher Chaca.


"Kita cukup konsultasi saja dengan dokter SPOG, besok kalau sudah boleh pulang, ya? Jangan terlalu dipikirkan, Sayang. Mau makan malam?" saran Gandhi menunduk menatap istrinya.


Chaca menggeleng lemah, ia hanya ingin beristirahat, perutnya masih kenyang karena seharian tadi terus ngemil buah dan biskuit. Tidak bisa dipungkiri, setiap wanita yang sudah menikah pasti ingin segera mendapatkan momongan.


"Tidurlah, Sayang," ucap Gandhi mengatur ranjang agar lebih nyaman untuk tidur. Lalu keduanya pun tidur saling berpelukan.


Keesokan paginya ....

__ADS_1


Gandhi sudah bangun terlebih dahulu, sebelum Chaca membuka matanya. Mandi, lalu menjalankan kewajiban sebagai muslim. Setelahnya, ia duduk di samping ranjang istrinya. Gandhi terus membelai kepala Chaca lembut. Tak lama, Chaca mengerjapkan matanya. Tubuhnya sudah terasa lebih segar. Kepalanya juga sudah tidak begitu pusing.


"Pagi, Sayang," ucap Gandhi mengecup punggung tangan Chaca.


"Pagi, suamiku," sahut Chaca lembut.


Sampai waktu kunjungan dari dokter, keduanya saling berbincang hangat. Saling melontarkan canda dan tawa.


Setelah hasil pemeriksaan, kondisi Chaca sudah stabil. Dokter berpesan agar selalu minum obat dan vitamin secara teratur, tidak boleh kelelahan juga tidak boleh terlalu stress.


Gandhi menghubungi kedua orang tuanya, agar mereka tidak ke rumah sakit. Karena kondisi Chaca yang sudah membaik, ia sudah boleh pulang.


Seperti perbincangannya semalam, Chaca dan Gandhi ingin berkonsultasi dengan dokter spesialis kandungan. Kini mereka sedang menunggu antrian untuk mendapatkan giliran masuk.


Chaca sedari tadi merasa gelisah, Gandhi terus mengusap jemari Chaca dengan lembut. Berharap, istrinya itu bisa lebih tenang.


"Nyonya Chatrine Salsabila, silahkan masuk!" seru seorang perawat yang bertugas.


Chaca menelan salivanya kasar. Seketika ia bertambah gugup, entah kenapa banyak sekali kekhawatiran yang berputar di kepalanya. Gandhi meremas jemari Chaca pelan, menyalurkan keyakinan bahwa semua pasti baik-baik saja.


Keduanya saling mengangguk, lalu beranjak dari duduk mereka dan masuk ke ruangan dokter tersebut.

__ADS_1


Bersambung~


Guys... sesekali memang bertumbuk dengan Bryan, tapi scenenya beda sesuai porsinya... hemmm berharap tetep bisa menikmati keduanya😘


__ADS_2