Duda Tapi Perjaka

Duda Tapi Perjaka
[Season 2] Rasa Bersalah


__ADS_3

Hai Dears, sebelumnya makasih banget yah yang masih mau baca karya remahan ini.


Kritik dan Saran boleh banget, apalagi krisan yang membangun. Aku pasti welcome banget malah terima kasih. Tapi, gunakanlah bahasa yang membangun juga. Jangan meremehkan atau merendahkannya. HARGAILAH ORANG LAIN JIKA KAMU INGIN DIHARGAI.


Taukah kalian? membuat satu bab yang hanya seribu kata saja nggak cukup loh waktu satu jam dua jam. Menyempatkan waktu disela kesibukan, kadang lupa tidur, lupa makan bahkan lupa mandi. Eh aku seringnya lupa mandi. Wkwkwkwk. Minus mata juga jadi nambah terus🤭


Jadi guys, dimanapun kalian baca atau mengkritik sebuah karya, pilihlah bahasa yang sekiranya tidak menjatuhkan author. Kritiklah dengan bahasa yang sopan. INGAT DI ATAS LANGIT MASIH ADA HOTMAN PARIS. Loh? Nggak nyambung thor ... wkwkwk


Hei udah ini udah panjang banget, nih dubbernya pasti mesam-mesem. Tuh kan Ka sady pasti senyam senyum. Eh aku juga, kan aku juga dubbernya. wkwkwk. Cukup baca dalam hati ya ka sady curhatnya🤭😚


-Maha benar netizen dengan segala hujatannya-


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Dewi menghentikan mobilnya tepat di samping motor Bryan. Dia bergegas turun dan masuk mencari keberadaan pria itu.


"Eh, sejak kapan tempatnya jadi begini?" gumamnya pelan.


Dewi membuka pintu, langkahnya pelan berusaha tidak menimbulkan suara pada sepatunya. Tatapannya langsung tertuju pada Bryan, yang kini terpejam dalam posisi duduk.


Dewi mendudukkan diri tepat di depan Bryan. Kedua tangannya melipat di atas meja. Tatapannya begitu mengagumi pahatan Tuhan di hadapannya.


Tubuh atletis, alis yang tegas, hidung yang besar tapi mancung, bulu mata yang lebat dengan mata yang sipit, bibir yang tipis, sungguh semua itu membuat Dewi begitu mengidamkannya.


Tanpa ia sadari, tangan kanannya mengulur hendak menyentuh pipi pria itu. Tiba-tiba, matanya mengerjap lalu terbangun. Dewi terkejut, dengan cepat ia menarik tangannya kembali.


"Eh!" ucap Dewi gugup memalingkan mukanya ke sembarang arah.


Bryan menegakkan duduknya, mengusap wajahnya kasar lalu meregangkan otot-otot lehernya yang kaku. Masih terlihat begitu mengantuk, matanya masih terlihat memerah. Dia baru tidur satu jam yang lalu.


"Kamu? Ngapain?" tanya Bryan.


"Eee ... aku nggak sengaja tadi lihat motor kamu, jadi mampir ke sini. Ini mau dijadiin apa Bry? Kok banyak perabotan," tanya Dewi melihat sekeliling.


Bryan sesekali menguap, "Oh, katanya mau dijadiin restorannya Gandhi," sahutnya pelan mengusap tengkuknya.


Wajah Dewi berbinar terulas senyuman yang mengukir di bibirnya. Ia terkejut sekaligus bahagia mendengarnya.


"Pak Gandhi buka resto di sini? Wah, asyik!" serunya menangkupkan kedua tangan dengan tawa ceria.

__ADS_1


Bryan mengangguk, lalu dia teringat akan kuncinya. Bryan meminta nomor ponsel Gandhi pada Dewi, gadis itu pun memberikannya. Dia bilang akan mengirimkannya ke ponsel Bryan. Jadi, secara tidak langsung Dewi sambil menyelam minum air.


"Lalu, di mana Pak Gandhi, Bry? Kenapa kamu yang di sini?" tanya Dewi setelah mengirimkan kontak mantan atasannya itu.


Bryan pun menceritakan kronologi kejadian, dimana ia tengah malam harus datang ke sini untuk berjaga karena Chaca dilarikan ke rumah sakit. Dewi pun terkejut, ia turut merasa khawatir.


Dewi melirik jam yang melingkar di tangannya. Karena waktu bekerja segera dimulai, Dewi berpamitan pada Bryan. Setelah kepergiannya Bryan segera menghubungi sepupunya.


"Gan! Gimana keadaan Chaca?" tanya Bryan ketika sambungan telepon sudah tersambung.


"Siapa?" tanya Gandhi di seberang.


"Bryan. Dan lagi, kamu suruh aku ngunci tempat ini sedangkan kuncinya kamu bawa," serunya sedikit geram.


"Eh yaampun, sorry Bry. Gimana nih? Mama sama Papa belum datang. Nggak ada yang jagain Chaca," sahut Gandhi merasa bersalah.


"Di rumah sakit mana?" tanya Bryan.


"Bhakti Husada."


Tanpa membalas lagi Bryan mematikan ponsel. Ia beralih melakukan panggilan pada seseorang untuk minta tolong mengambilkan kunci tersebut dan mengantarkan padanya.


"Pak! Pak Bryan!" serunya masih memegang pintu.


"Iya!" sahut Bryan berjalan keluar dengan wajah yang lebih segar.


"Sudah lama Ndin?" tanya Bryan menghampirinya.


"Baru saja, Pak," jawabnya lembut mengulas senyum.


Bryan lalu keluar dan mengunci tempat tersebut. Setelahnya, Bryan mengajak Andin pulang ke apartemen sebelum berangkat kuliah bersama. Awalnya Andin menolak, namun karena ketegasan Bryan akhirnya dia menurut.


...----------------...


Disebuah ruangan serba putih, Chaca membuka matanya perlahan. Tangannya menyentuh kepalanya masih terasa sangat berat. Chaca mendesis, ia melihat tangannya sudah tertancap selang infus. Sedang tangan satunya di genggam erat oleh suaminya.


Chaca menghela napas panjang, mencoba mengingat apa yang telah terjadi padanya semalam. Ia mengusap rambut Gandhi lembut dengan tangan kirinya. Gandhi tertidur kembali setelah Andin mengambil kunci restonya tadi.


"Sayang," panggil Chaca pelan.

__ADS_1


Gandhi yang merasakan sentuhan itu pun seketika terbangun. Ia lalu menciumi seluruh wajah istrinya tanpa tertinggal sedikitpun. Chaca tersenyum kegelian.


"Sayang, kamu sudah bangun? Maafin aku ya. Maaf, aku akan panggil dokter," sesal Gandhi memeluk Chaca mendekap kepala wanita itu dengan lembut.


"Enggak usah Sayang, aku nggak apa-apa. Kenapa harus dirawat sih? Ayo Mas, kita pulang aja. Masih banyak yang harus dikerjakan di resto kita 'kan?" ujar Chaca lemah.


Gandhi melepas pelukannya, ia menatap dua bola mata sayu milik istrinya. Gandhi menyusuri wajah Chaca yang pucat, membelainya lembut lalu mencium keningnya lama.


"Jangan pikirkan apa pun. Masih ada banyak waktu untuk menyelesaikannya. Yang terpenting sekarang adalah kesehatan kamu, Sayang. Nggak ada yang lebih berharga dari pada kamu. Maaf, aku nggak bisa jagain kamu," tuturnya lembut dengan tatapan penuh cinta.


"Jangan minta maaf terus, aku nggak apa-apa, Sayang," tukas Chaca melesakkan kepala di dada suaminya.


Tak lama, dokter pun datang dengan seorang perawat. Mereka tersenyum melihat keromantisan pasangan tersebut. Dokter meminta izin untuk memeriksa keadaannya.


"Gimana Cha? Masih pusing, lemas?" tanya dokter tersebut sambil menempelkan stetoskop pada Chaca.


"Sedikit, Dok," sahut Chaca lemah.


Setelah dicek, sudah sedikit ada perkembangan. Namun tetap saja Chaca masih butuh perawatan dan cairan untuk memulihkan kembali keadaannya. Dokter pun berpamitan setelah selesai melakukan pemeriksaan. Gandhi kembali merengkuh kepala Chaca lembut.


Kemudian, Alice dan Xander masuk dengan terburu-buru. Mereka baru dikabari Gandhi pagi tadi. Keduanya juga merasa khawatir dengan kondisi Chaca.


"Sayang, kok bisa sampai drop gini sih?" tanya Alice ketika sudah memasuki ruangan.


Setengah berlari, ia menghampiri Chaca. Meletakkan punggung tangan di kening Chaca, mengusap pipinya lembut. Ia panik saat Gandhi mengatakan Chaca dirawat inap.


"Nggak apa-apa, Mommy, cuma kecapean aja," balas Chaca dengan senyumannya.


"Jangan capek-capek dong, Sayang. Mommy kirim pembantu ya ke rumah kalian? Apa mau Bi Ratih? Tapi beliau sudah tua, kasihan. Yang lain aja, mau ya?" cerocos Alice dengan hebohnya.


Gandhi beranjak mendekati sang mama, ia menyentuh tangan wanita itu lembut. "Ma, maafin Gandhi, sebenarnya kami mau membuka restoran. Semua salah Gandhi karena membiarkan Chaca kelelahan hingga dia sampai drop seperti ini. Maafin Gandhi ya, Ma," ucap Gandhi pelan.


"Apa?" pekik Xander dan Alice bersamaan.


Bersambung~


Terima kasih banyak like, komen, vote dan tipsnya❣❣❣😘😘


bryan-andin full di Prahara Cinta Dua Saudara ✌😊

__ADS_1


__ADS_2